Bangtan’s Pleasure// end [Mom still a Mom]

104013640-256-k209742

Editor: pinkukim

Kyunghee pov

Pandanganku mengawang pada sisi jalanan yang dilewati oleh bus yang kini tengah aku tumpangi. Aku seperti baru saja keluar dari sebuah gedung pertunjukkan yang menyita semua fikiran dan imajinasiku dan sekarang aku harus kembali pada kenyataan yang sebenarnya. Segala hal berkecamuk di dalam otakku dan aku menghembuskan nafasku dengan berat lagi. Semuanya masih membuat dadaku sesak meskipun aku mencoba untuk tetap tenang. Continue reading “Bangtan’s Pleasure// end [Mom still a Mom]”

Advertisements

Bangtan’s Pleasure//9/A [Passionate Fake relationship ]

maljum guys~ ini jadi kebiasaan update malam jumat

 

 

Kyunghee pov

Aku memandang lepas lewat jendela gerbong kereta yang berada tepat di sisiku. Jimin sengaja memesan bangku VIP mengingat ia tak mau ada yang melihat dirinya apalagi bersama seorang perempuan meskipun hanya aku yang tak lain adalah staffnya.

Sudah lama sekali sejak terakhir aku pulang ke Bussan, sekitar setahun yang lalu saat aku memutuskan untuk mencari pekerjaan di Seoul dan berpamitan pada keluargaku, selebihnya kami hanya berkomunikasi via telfon. Secara tiba-tiba aku merasakan kehangatan hanya dengan membayangkan rumahku, tempat ternyaman di dunia ini, dimana aku bisa kabur dari segala kepahitan kehidupan yang aku jalani. Aku tidak pernah tahu jika perasaan pulang akan menjadi semenenangkan ini dan tanpa aku sadari aku tersenyum saat terjebak dalam flashback hal indah yang aku alami di rumahku. Continue reading “Bangtan’s Pleasure//9/A [Passionate Fake relationship ]”

Bangtan’s Pleasure//7[Pouring Tears]

Banyak typo dan kesalahan aneh… mohon di maklumi… bikinnya cuma dua jam. cus…

Kyunghee pov

“Nana…”

Aku bisa mendengarkan nama itu keluar dari mulutnya dan secara tiba-tiba ia melepaskan genggaman tangannya dariku. Entah kenapa aku merasa secara tiba-tiba dunia berhenti saat ia merenggut semua hal bersamaan dengan tangannya yang melepaskanku. Aku terdiam, menatapnya dari sudut mataku masih mencoba menenangkan diriku yang secara mendadak di landa gemuruh. Aku merangaki situasi dan keadaan di sekelilingku, ingin sekali marah atau pun meluapkan kekesalanku yang membuncah tapi aku terdiam, tak berani mengatakan apapun. Meskipun aku merasa sakit aku masih mengerti dan masih bisa berfikir bahwa kemarahanku hanya akan melukai banyak orang. Continue reading “Bangtan’s Pleasure//7[Pouring Tears]”

Bangtan’s Pleasure// 6 [Beach and Ocean]

HBD Bangtan, I love you more that anything in this world

Maaf ya part ini kurang memuasakan soalnya udah lama banget g nulis jadi ketajamannya udah kurang XD perlu di asah lagi. 

Love you so much. 

Mulai sekarang author g balas komen yang Cuma bilang next, kapan update atau bilang pengen castnya di ganti atau semacamnya. G mau rusuh aja hehehehehe. Soalnya belakangan author sering dapat komen gituan, bawaanya bukan marah sih, lebih ke sedih, berasa mereka g menghargai hak berkarya dan betapa susahnya nulis. Tapi buak komentar-komentar lain maupun pesan, author akan selalu usahakan untuk membalas… 

Selamat membaca…

“You smile in the silent, but it sounds like a war in my heart”

Continue reading “Bangtan’s Pleasure// 6 [Beach and Ocean]”

Bangtan’s Pleasure // 5 [Mr.J]

Kyunghee pov     

maaf ya yg ini agak berantakan…

 

Kyunghee pov

Aku merasa heran saat menemukan sekotak susu yang diletakkan di depan pintu kamarku lengkap dengan sebungkus roti kecil. Aku memeriksa keduanya dengan seksama mungkin saja seseorang salah meletakkannya di depan pintu kamarku, tapi masalahnya hanya aku dan anak Bangtan yang bisa memasuki kawasan rumah ini.

“Selamat sarapan, semoga harimu menyenangkan – J”

Aku menemukan sticky note tertempel di salah satu sisi kotak susu dengan tulisan tersebut. J??? apa mungkin Jhope? Jungkook? Jimin atau Jin?

Siapapun yang meletakkan ini dan memberi inisial J benar-benar tidak sadar jika di BTS ada empat orang dengan awalan nama J -_-

Karena aku kebetulan belum sarapan, aku dengan senang hati menerima pemberian itu dan menempelkan sticky note di kaca kamarku sebelum mengunci pintu dan bergegas menuju Dorm. Semuanya sudah rapi dan tinggal berangkat menuju KBS. Aku menyetir Van dengan Jungkook yang duduk di sebelahku sementara anak Bangtan duduk di bangku tengah dan bangku belakang dalam kondisi semuanya tertidur. Mereka pasti kelelahan karena kemarin pulang sangat larut, atau bisa disebut pulang saat sudah mulai subuh. Hanya Jungkook yang duduk di sebelahku, masih sadar dan sibuk dengan ponselnya.

Aku sengaja meminum susuku di dekatnya mencari tahu mungkin anak ini yang menyiapkan sarapan untukku. Aku melirik dari sudut mataku dan berhasil membuat ia memperhatikanku saat aku menyeruput susu tersebut dengan cepat menghasilkan nada yang keras (Slrrruuuuppp, ngerti kan readers??).

Noona… sisakan aku… aku belum sarapan…”

Ia memelas dan aku menyisakan sedikit susunya dan menyerahkan pada anak ini.

“Huaa… tega sekali. Membeli susu untuk sarapan tapi tidak melebihkan satu untukku”

Aku rasa bukan Jungkook yang meletakkan susu di depan kamarku. Terlihat jelas ia tidak mengetahui perihal susu dan roti yang tiba-tiba muncul di depan pintu kamarku.

Mian… aku kira kau sedang diet”

Ia menggeleng,

“Aku tidak akan gendut hanya dengan minum susu”

Ia menikmati susu tersebut sembari melayangkan pandangannya pada semua anak Bangtan saat kami berhenti di di lampu merah. Aku menatap hitungan detik di ujung lampu lalu lintas tersebtu, 60 detik harus menunggu sampai kami dipersilahkan kembali jalan.

“Mereka semua seperti mayat yang beregelimpangan, benar-benar lenyap dari kesadaran”

Aku mengikuti arah pandangan Jungkook saat ia berkata demikian tentang semua Hyungnya yang kini tengah terlelap dengan wajah kusut dan mulut menganga. Aku bahkan mendengarkan Namjoon mendengkur. Dasar bocah ini, apa dia tidak jika sadar dia adalah maknae? Mulutnya itu sungguh pedih untuk ukuran member yang paling muda.

“Kau sebaiknya tidur juga, apa kau tidak lelah?”

Ia kembali memperbaiki posisinya, menatapku dan tersenyum sebelum mendekat dan mengecup bibirku.

“Aku ingin menemanimu”

Aku mengedip beberapa kali menatapnya tak percaya pada apa yang baru saja ia lakukan padaku seolah di mobil ini hanya ada aku dan dia.

“Oh…. Sudah hijau”

Aku tersadar dari lamunanku saat ia mengatakan hal itu dan dengan sigap aku tancap gas menggeleng-gelengkan kepalaku.

****

Aku duduk di ruang ganti Bangtan dan masih sibuk berfikir siapa malaikat berhati mulia yang meletakkan sarapan di depan pintu kamarku. Yang jelas bukan Jungkook dan Jin Oppa, ia saja masih belum menyapaku sejak pertengkaran kami sebulan yang lalu. Jhope atau Jimin…. tinggal mereka berdua.

“Kyunghee… bantu Hoesok memakaikan bajunya!”

Seorang stylist berteriak padaku memaksa aku bangun dari posisi dudukku dan bergegas menuju wanita itu meraih beberapa anger yang digantungi oleh pakaian Jhope. Tak lama kemudian Jhope masuk ke dalam ruang ganti bersama semua member Bangtan lainnya, mereka baru selesai rehearsal dan siap untuk di make up.

“Hope…”

Aku melambaikan tanganku yang kosong padanya berhasil menarik perhatiannya dan ia bergegas menghampiriku. Aku menariknya menuju salah satu bilik ruang ganti kemudian ia menutup pintu. Ruangan ini tak terlalu besar, hanya seukuran bilik toilet jadi cukup sempit untuk dua orang. Aku menggantungkan anger-anger itu di penggantung pakaian yang terpaku di pintu kemudian mengambil baju kaus tipis berwarna putih terlebih dahulu sementara Jhope sibuk melepaskan bajunya menyisakan celana training panjang. Aku menyerahkan baju itu padanya dan menyeka keringat yang mengucur di wajahnya dengan tissue dari tas kecil yang aku sandang kemana-mana. (udah beneran ini kayak menejer banget) . Nafasnya masih terengah-engah dan wajahnya sedikit pucat.

“Kenapa kau selalu berlebihan? Ini hanya rehearsal, lihatlah kau sampai keringatan seperti ini. Kau bisa sakit karena kelelahan”

Bukannya menjawab pertanyaanku ia malah terkekeh pelan selagi aku sibuk membantunya memakaikan baju berikutnya.

“Hoesok… aku tidak bercanda”

Arraseo…”

Kemudian ia mengecup dahiku pelan.

YA! kita sedang kerja”

Ia manyun dengan bibir membentuk salah satu karakter hangul.

“Benarkah?”

Kemudian meremas pelan pantatku dengan kedua tangannya.

YA!”

Aku memukul dadanya pelan dan ia tertawa lagi. Apanya yang lucu?

“Kita bisa terlambat kalau kau main-main terus”

Ia mendesah berat,

“Kau saja yang buru-buru, masih satu setengah jam lagi sebelum live”

Aku menatap arlojiku membenarkan kalimatnya namun tak mengurangi kecepatanku mengancingkan kemejanya.

“Sekarang celana… apa kau memakai boxer?”

Ia menggeleng dan aku memutar mataku kemudian menyerahkan celana padanya dan membalikkan badanku.

“Cepat ganti”

Aku tidak mendengarkan apapun hanya suara celana yang dibuka tapi tak mendengarkan suara resleting yang ditutup yang seharusnya terdengar saat ia selesai memakai celananya jadi aku memutuskan untuk tetap menunggu dan membelakanginya.

“Apa kau sudah selesai?”

Ia tidak menjawab dan aku benar-benar penasaran dengan apa yang ia lakukan.

“Jhope… apa kau sudah selesai?”

Ia masih tidak menjawab dan aku mulai kesal. Tepat saat aku berniat akan membalikkan tubuhku, ia memelukku dari belakang melingkarkan tangannya di perutku.

YA! apa yang kau lakukan?”

Ia tidak menjawab dan aku memiringkan wajahku untuk menatapnya, tepat saat itu terjadi ia berhasil menempelkan bibirnya di bibirku. Aku ingin melepaskan diriku tapi ia menahanku dan aku berakhir dengan menerima pasrah, lagi pula siapa yang mau melewatkan momen manis ini?

Bibirnya yang basah melumat bibirku dengan lembut sementara salah satu tangannya memegang daguku memastikan aku tidak melepaskan bibirnya secara tiba-tiba. Tangannya yang lain memegang pinggangku dan semua hiruk pikuk yang tadinya berputar di otakku, tiba-tiba lenyap.

Nafasnya sesak saat ia melepaskanku dan membalik tubuhku lalu menggigit bibirnya sendiri yang kini tengah merah padam. Matanya tertuju pada bibirku yang terasa begitu lembab dan dalam hitungan detik ia kembali menautkan bibirnya di bibirku. Ini sungguh luar biasa, ia membuatku meleleh dengan lumatan-lumatannya yang berirama dan mataku terpejam begitu dalam saat tanganku menempel di dadanya.

“Hngggmm…”

Aku mengerang di dalam ciuman kami saat tangannya masuk ke dalam baju kaus yang aku kenakan menyentuh kulit perutku.

“Hah….”

Kami terengah-engah dan ia masih memegangiku di wajah dan di pinggang.

“Nanti malam, giliranku. Aku akan menunggumu di kamarku”

Pipiku memanas mendengarkan kalimatnya dan aku menggigit bibirku saat menganggukkan kepalaku. Ia kembali menciumku menyesap begitu manis dalam waktu yang cukup lama sebelum melepaskan bibirku dan mengecup beberapa kali sebelum benar-benar melepaskanku. Okey… aku dan dia harus sama-sama mengendalikan diri jika kami tak mau kena masalah.

“Aku tunggu di luar”

Aku melepaskan tubuhku darinya bersiap membuka kenop pintu saat ia menarikku lagi dan menciumku dalam sebelum benar-benar melepaskanku.

Aku memegang kedua pipiku dan bersembunyi di toilet perempuan sibuk menaklukkan wajahku yang memerah seperti potongan dalam semangka. Aigo… hari ini aku mendapatkan dua ciuman yang manis dari Jungkook dan Jhope.

*****

Aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku menahan dingin yang menerpa tubuhku. Aku berdiri di dinginnya malam tanpa mengenakan baju hangat, aku kira shootingnya diadakan di dalam gedung, tapi ternyata outdoor dan aku berakhir dengan kedinginan seorang diri. Setidaknya Jin Oppa memakai jaketnya sehingga aku tak harus pusing mencarikan baju hangat untuknya. Kenapa aku harus mencarikan baju hangat untuknya? Karena aku menejernya dan jika dia sakit maka aku yang akan di hajar semua orang. Benar sekali, aku sedang menemani Jin Oppa untuk syuting sebah acara variety show yang berlokasi di atap sebuah gedung, kau bisa bayangkan bukan betapa dinginnya di sini?

“Hatchim…”

Aku mulai bersin-bersin dan benar-benar tak sanggup menahan angin kencang yang membekukan tubuhku. Aku meninggalkan rombongan stylist dan cordi yang kini tengah menyaksikan proses syuting, mereka semua memakai jaket, sepertinya hanya aku yang tidak tahu kalau syutingnya di tempat seperti ini.

Aku berdiri di salah satu sudut rooftop di bawah lampu kuning di sisi yang agak tersembunyi. Aku sengaja mencari tempat yang tak terlalu terbuka agar angin tidak terlalu kencang dan lampu kuning ini satu-satunya harapanku untuk tetap hangat.

“Hatchim…”

Aku sibuk menggosok hidungku yang perih karena dingin dan berlari di tempat agar tubuhku berkeringat dan hangat.

“Dasar bodoh!”

Aku menaikkan kepalaku mencari tahu siapa yang kini tengah mencaciku dan aku menemukan Jin Oppa di sana. Aku tak berniat bertengkar di sini dengannya jadi aku memilih menunduk dan mengabaikannya, memeluk diriku sendiri mencoba menghangatkan tubuhku. Aku bisa mendengarkan suara nafasnya yang dihembuskan dengan kasar seolah ia marah pada sesuatu hal. Aku masih tak peduli sampai akhirnya aku merasakan sesuatu yang hangat melilit leherku dan aku menemukan ia memberikan shallnya padaku, bahkan memasangkannya di leherku. Aku terdiam, menatapnya tak percaya. Lelaki ini yang sebulan lalu mengatai aku seorang lesbian dan laki-laki.

“Hatchim…”

Aku kembali bersin dan dahinya berkerut kemudian aku merasakan ia menyentuh wajahku dengan telapak tangannya yang hangat.

“Bagaimana bisa kau sedingin ini?”

“Aku berdiri di sana sejak syuting mulai dua jam yang lalu”

Dan ia kembali mendesah berat. Aku memilih menyembunyikan wajahku di shall yang ia berikan mencoba mendapatkan lebih banyak kehangatan saat aku merasakan ia menarikku ke dalam pelukannya. Aku lebih dari sekedar terkejut karena ia adalah Jin yang selama ini tak pernah menyapaku apalagi bicara denganku dan sekarang ia memelukku. Tubuhnya tinggi dan bahunya lebar sehingga ia benar-benar membuatku merasa hangat. Aku membuang seluruh harga diriku dengan memeluknya lebih erat mencari lebih banyak kehangatan. Aroma khas menusuk ke dalam hidungku, hah… dia wangi sekali. Aku menenggelamkan wajahku di dada bidangnya menikmati kehangatan yang mengalir begitu deras di tubuhku.

Aku tidak tahu berapa lama waktu yang aku habiskan untuk memeluknya tapi yang jelas ia sukses membuat suhu tubuhku terasa jauh lebih stabil. Ia melepaskan tubuhku kemudian menggenggam tanganku membawaku menuju tenda di mana para staff berada. Tidak ada yang memperhatikan kami karena di sini cukup gelap dan semua orang fokus pada kegiatan syuting yang tengah berlangsung. Ia memasukkan tanganku ke saku sweater kebesaran miliknya agar aku tetap merasa hangat sementara tangan lainnya meraih kopi dan menyerahkannya padaku.

“Aku tidak minum kopi, aku bisa begadang sampai pagi jika aku minum kopi”

“Ini bukan kopi, ini teh…”

Aku mengintip isi cup tersebut dan meraihnya kemudian tersenyum.

“Thank you…”

Ia balas tersenyum padaku dan kami sibuk menikmati minuman masing-masing.

“Aku sudah dengar apa yang dilakukan Taehyung dan Jimin padamu”

Aku terdiam mendengarkan kalimatnya, hah… kenapa harus di ungkit lagi?

“Sebagai orang tertua di Bangtan, aku minta maaf. Padahal malam itu aku tidak mabuk, aku bisa saja membantumu membawa salah satu dari mereka. Tapi aku masih sedikit kesal denganmu jadi aku membiarkannya dan memilih pulang ke rumahku”

Jika saja ia tidak memperlakukan aku dengan baik seperti tadi, aku pasti sudah mengeluarkan sumpah serapahku padanya.

“Meskipun aku terlihat tidak peduli, tapi aku tahu semua hal yang terjadi di Bangtan dan seharusnya aku menasehati mereka, tidak melepaskan semua tanggung jawab pada Namjoon”

“Sudahlah… semuanya sudah berlalu. Toh aku baik-baik saja dan tidak ada orang luar yang tahu tentang kasus ini”

Sejenak kami terjebak dalam diam sebelum ia menoleh untuk menatapku membuatku tertarik untuk menatapnya juga.

“Aku minta maaf juga sudah memperlakukanmu dengan kasar. Aku hanya lelah dengan semua pekerja ekstra”

“kau tidak suka dengan pekerja ekstra?”

Ia menggeleng.

“Pekerja ekstra membuat semua orang di Bangtan menjadi liar, mereka benar-benar berubah setelah mendapatkan hak ekstra tersebut”

“Jadi kau tidak pernah menikmati hak ekstramu?”

Ia tersenyum dan memalingkan wajahnya dariku.

“Sudah tidak lagi setelah aku berkencan”

Dia sudah punya pacar? Oh my God! Kenapa aku tidak tahu?

“Sebenarnya setiap aku minta izin menginap di rumah, aku pergi menemui kekasihku”

Pantas saja aku sering dengar dari Arheum dan pekerja ekstra lainnya jika setahun belakangan Jin tak pernah lagi menyentuh mereka.

“Kekasihku tidak tahu tentang pekerjaan ekstra itu, makanya aku tidak mau ia dekat-dekat dengan anak Bangtan dan siapapun di Bighit. Aku juga ingin melindunginya dari fans jadi hanya aku yang pergi menemuinya secara diam-diam. Ia bahkan tidak tahu di mana dorm berada”

“Huaa… kau kekasih yang manis”

Ia tersenyum mendengarkan pujianku.

“Kau orang pertama yang aku beritahu tentang hal ini di luar anak Bangtan”

“Tenang saja, aku akan menjaga rahasiamu”

Ia mengangguk dan mengacak rambutku pelan. Ternyata aku dan Jin Oppa hanya akan terjebak dalam Oppa Zone, tak apalah… aku juga tidak pernah berniat untuk mendekat atau jadi kekasihnya. Tapi tentunya setelah hari ini kami tidak akan salah paham lagi.

Aku mengemasi semua barang dan kami harus ke kantor terlebih dahulu sementara Jin Oppa akan pulang duluan karena skedulnya sudah selesai untuk hari ini. Aku membantu para stylist membawa beberapa barang dan meletakkannya di ruangan sebelah ruangan latihan. Aku mengintip ke dalam ruangan saat samar-samar aku mendengarkan suara musik dari dalam ruangan itu, mungki Jhope masih di dalam.

Jimin?

Padahal aku berharap bisa pulang bersama Jhope. Aku tetap masuk ke dalam ruangan latihan dan mendapatkan Jimin yang menatapku terkejut seolah aku seperti hantu gentayangan yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.

“Kau latihan untuk acara apa?”

Aku bertanya karena aku paham benar skedul mereka dan aku sangat yakin Jimin tak ada agenda khusus yang memintanya untuk menari.

“Tidak ada, aku hanya ingin dance saja”

Aku mengangguk paham menatap dirinya yang penuh keringat dan rambut basah tapi yang membuatku khawatir adalah wajah pucat itu.

“Kau sudah makan?”

“Aku diet”

Aku mendesah berat.

“Diet bukan berarti kau tidak makan. Kau bisa sakit jika terlalu memaksakan dirimu”

Ia tersenyum dan dua mata itu lenyap dari wajahnya, aigoo… manis sekali.

“Sudahlah… aku pulang duluan, jangan lupa mematikan lampu, AC dan mencabut colokan speaker sebelum kau keluar”

Aku keluar dan saat aku akan menarik kenop pintu, aku mendengarkan suara orang terjatuh dan menemukan Jimin yang terduduk di lantai dengan nafas yang tidak teratur. Aku bergergas menghampirinya membantunya duduk bersandar pada salah satu dinding. Aku menyerahkan segelas air minum padanya membiarkan ia menenangkan dirinya.

“Jimin… kau baik-baik saja?”

Ia mengangguk tapi aku tahu ia tidak baik-baik saja Karena tangannya bergetar saat memegang gelas airnya.

“Ini…”

Aku mengelarkan snak yang biasa aku stok di dalam tasku yang selalu aku andalkan saat kelaparan. Menjadi menejer kau tidak punya jadwal makan yang wajar jadi harus ada senjata jika tidak ada waktu untuk makan.

“Ini akan memberikan sedikit energy untukmu”

Ia terdiam sejenak sebelum meraih kue kecil itu dan memakannya.

“Kau terlalu memaksakan dirimu Jimin…”

“Aku harus menjaga tubuhku”

Aku memutar mataku kesal dan mengumpat-ngumpat tidak jelas mengakibatkan ia terkekeh pelan dan mencubit pipiku.

Kyopta…”

Aku menatapnya bingung dan kedua pipiku memerah. Ada apa ini? kenapa ia tiba-tiba jadi manis begini? Aku terdiam masih menatapnya heran sementara ia mulai memalingkan wajahnya dariku membiarkan keheningan menyelimuti kami.

“Aku minta maaf”

Ia memulai percakapannya.

“Aku masih merasa bersalah padamu”

Ia berbicara dengan wajah tertunduk. Jadi karena ini ia tak lagi menyapaku seperti biasanya?

“Sudahlah… aku tidak mau kau mengungkit hal itu lagi. Past is past! Dari pada terus meminta maaf, aku lebih suka kau bersikap seolah tidak terjadi apapun. Kau membuat kita menjadi canggung”

Ia menggigit bibirnya membenarkan apa yang aku katakan.

“Sebaiknya kita pulang”

“AKu masih mau latihan”

“Tidak! Kita pulang sekarang, aku tidak mau kau sakit karena memaksakan dirimu”

Aku berdiri dan mengulurkan tanganku untuk membantunya berdiri. Ia tersenyum dan meraih tanganku tapi karena tubuhnya terlalu berat aku malah terjatuh menimpanya.

Ya! kau berkeringat!”

Ia terkekeh pelan sebelum melepaskanku dan membawa kami berdiri. Aku memukul bahunya kesal tapi ia malah mengacak rambutku.

“AKu jadi merasa seperti sedang berbicara dengan kekasihku”

“berhenti berbicara yang aneh-aneh dan cepat pulang”

Ia kembali tertawa dan aku ikut tertawa dengannya. Apa aku atau dia yang bodoh? Aku tidak peduli.

“Malam ini kau dengan Hope hyung?”

Aku mengangguk.

“Aku sudah terlalu banyak menghindar dari pekerjaan ekstra, aku tidak mau ada yang mengadu jika aku melanggar kontrak”

“Kau tidak menyukai pekerjaan ekstramu? Lalu kenapa kau memilih pekerjaan itu?”

“Perempuan mana yang mau menjual tubuhnya? Tapi aku memang butuh uang, apalagi? Uang lebih berharga daripada harga diri”

AKu tidak menatap Jimin yang kini duduk di bangku sebelah kemudi karena aku harus fokus menyetir van agar kami sampai di dorm dengan selamat.

“Sudah berapa banyak kau melakukannya sejak di angkat menjadi pekerja ekstra?”

Aku meliriknya dengan sudut mataku.

“Aku dilarang membicarakan aktifitas seksku dengan member lain”

“Aku tidak menanyakan bagaimana kau melakukannya”

Dan kami kembali diam.

“Jungkook, Namjoon Kau dan Taehyung. Satu kali permember”

Aku yakin ia kini tengah menatapku tak percaya.

Please Jimin. Jangan katakan pada siapapun, aku hanya ingin melindungi sedikit harga diriku meskipun itu melanggar kontrak”

“Jika Arheum tahu ia bekerja auh lebih keras darimu, aku tak bisa bayangkan reaksinya”

Aku tertawa mengejek.

“Arheum sangat menikmati pekerjaanya, ia justru akan senang jika aku menyerahkan seluruh pekerjaan ekstra padanya”

“Yaampun… gadis itu”

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seolah prihatin dengan Arheum. Sebenarnya aku juga sangat mengkhawatirkan Arheum, ia sudah seperti maniak yang tak bisa tahan tak di sentuh sehari saja. Tapi hal itu juga menguntungkanku karena setelah dua bulan aku menjadi pekerja ekstra, ia sangat meringankan bebanku sebab ia mengambil sebagian besar pekerjaa ekstra.

Aku menurunkan tasku dan membiarkan Jimin berjalan belakangan sedangkan aku bergegas menuju kamar Jhope, ini sudah tengah malam, apa ia sudah tidur?

“Hope?”

Aku mengetuk pintunya, tidak ada jawaban

.

“Hope… apa kau sudah tidur?”

Aku mengetuk lagi dan masih tak ada respon. Mungkin dia memang sudah tidur dan tepat saat aku berbalik berniat ke kamarku, aku mendengar suara pintu yang dibuka dan menemukan Jhope menatapku dengan senyum sumringahnya . Ia membiarkan aku masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.

“Aku mandi dulu…”

Aku melemparkan tasku di ranjangnya, meraih handuk dan bergegas menuju kamar mandinya. Tidak butuh waktu lama karena aku tidak mau tidur terlalu larut sebab besok pagi aku harus ke kantor.

Oh God! Aku lupa membawa baju!”

Aku membalut tubuhku dengan handuk yang sangat pendek, membuka pintu kamar mandi dengan pelan.

“Hope… boleh aku pinjam bajumu?”

Aku mendengarkan tawanya dan beberapa saat kemudian ia berdiri di depan pintu kamar mandi dalam jarak yang cukup jauh. Aku mengulurkan tanganku menyembunyikan tubuhku di balik pintu, tapi posisinya terlalu jauh.

“Hope… aku tidak bercanda…”

“Kemarilah… ambil bajunya”

Ia melambaik-lambaikan kaos hitam itu dan tersenyum licik. Ia mau mengerjaiku?

YA!”

Aku berteriak dan ia malah melangkah mundur. Fuck!!!!

Dengan kesal aku keluar dari kamar mandi masih mengenakan handuk yang sangat pendek dan sukses membuat ekspresi wajahnya berubah total. Mulutnya menganga membentuk huruf O dan ia bahkan tak sadar saat aku meraih kaos itu darinya. Dasar mesum…

Aku tidak memakai dalaman hanya kaos milik Jhope, apa gunanya memakai undies jika nantinya juga akan di lepas?

Aku menemukan Jhope yang duduk di ranjangnya sibuk dengan ponsel, aku menghambur ke atas ranjangnya merasakan keempukkan menyentuh badanku, ranjangnya sangat berbeda dengan ranjangku yang keras itu. Aku menenggelamkan wajahku di bantal menikmati aroma Jhope dari sana, ia sangat bersih dan rapi jadi apapun pasti selalu wangi dan aku sangat menyukai hal itu. Aku mengangkat wajahku merubah posisi telungkupku menjadi miring menghadap pada Jhope yang kini tengah menatapku dengan senyuman manisnya.

Hah… what a boyfriend material

“kenapa kau lama sekali?”

“Aku menemkan Jimin di kantor dan membawanya pulang”

“Jimin?”

Aku mengangguk…

“Aku sedikit khawatir jika ia terus memaksakan dirinya, kalau sampai dia sakit, tamatlah riwayatku”

Lelaki tampan ini tertawa mendengarkan ucapanku dan mengacak rambutku pelan.

“Aku rasa sebaiknya aku harus memperhatikan makan dan kesehatannya”

“Lalu bagaimana denganku?”

Ia merajuk dan aku terkekeh pelan.

“Kau sangat dewasa dan bisa mengurus dirimu sendiri”

Bibirnya manyun dan ia mengeluarkan ekspresi jengkelnya.

“Badmood?”

Aku bertanya dan ia hanya diam.

“Yasudah… kalau begitu aku pergi saja”

Dan saat aku akan bangun dari posisiku ia menahanku, menghempaskanku kembali ke ranjangnya dan menindihku.

“kau Fikir bisa kabur semudah itu?”

Ia menyipitkan matanya seolah mengancamku tapi bagiku ia sama sekali tidak menakutkan.

Ia menempelkan hidung mancungnya di hidungku yang membuat aku geli dan tertawa pelan sebelum akhirnya ia menempelkan bibirnya di bibirku.

Kedua lenganku melingkar di leher jenjangnya yang sangat mulus menikmati menyentuh kulitnya yang halus. Bibirnya sangat manis menyesap bibirku memastikan setiap sudutnya tersentuh oleh bibirnya. Ia terus mendorongkan lidahnya di depan bibirku memaksaku memberikan akses lebih dan ia sukses menggerayangi mulutkmu mengalirkan zat adiktif ke tubuhku.

Aku mengabaikan nafasku yang mulai sesak meremas lehernya pelan saat ciumannya semakin intens di bibirku. Ia menarik lepas bibirnya membiarkan kami sama-sama terengah-engah menghirup udara sebanyak mungkin. Dadaku naik dan turun merasakan kembali oksigen memasuki paru-paruku. Tanganku masih di lehernya saat ia mulai bergerak menuju leherku, mengecup tulang yang timbul di bawah leherku. Aku meremas rambut halusnya saat ia menggigitku di sana, tak bisa lebih ke bawah karena aku masih memakai kaosnya, kesal dengan hal itu ia memindahkan targetnya menju tengkukku. Bibirnya lembut dan basah menyentuh setiap inci leher dan tengkukku saat tangannya mulai nakal menyentuh dadaku.

“Shhh….”

Aku mendesis hebat saat ia memijat payudaraku, kaos tipis ini sangat tidak membantu.

“Hope…”

Aku menyebut namanya saat kedua tangan itu menyentuh pahaku yang terbuka, terus naik ke atas sampai batas kaos yang menutupi kulitku. Ia tidak benar-benar memasukkan tangannya ke bawah kaos itu dan ia membuatku sangat penasaran dengan ulahnya. Ia tertawa pelan menikmati ekspresi diriku yang mulai tak tenang sebelum akhirnya ia melepaskan satu-satunya pakaian yang aku kenakan.

Ia diam…

Aku tak berani menatap wajahnya karena rasa malu yang muncul meskipun hatiku benar-benar ingin aku menatap wajah seksi itu. Aku mulai tak nyaman karena ia terus menatapku dan aku mulai menggigit bibirku canggung.

“Jika kau terus menatapku ak-“

Aku belum menyelesaikan kalimatku saat ia tiba-tiba menciumku menguapkan kata demi kata yang siap aku lontarkan. Aku kembali larut dalam permainan ini dan tanganku yang gatal mulai memaksa ia melepaskan pakaiannya. Otakku tak bisa aku kendalikan karena insting bergerak lebih cepat. Aku secara tak sabaran memaksa ia melepaskan pakaiannya, entah karena perasaan tidak adil atau karena aku yang sudah tidak tahan lagi.

“Hng…”

Tangannnya menggerayangi dadaku dan kakiku mulai bergerak tak tenang saat sesekali miliknya menyentuh milikku.

“Hope…heungg…”

Aku menggigit bibirku saat mulutnya bekerja di payudaraku dan tanganku mengacak rambutnya. Salah satu tangannya menyentuh pangkal pahaku bergerak menuju bagian yang paling inti.

“Ahh…ah….”

Kepalaku terhempas pada bantal di belakangku saat aku merasakan tangannya menyentuhku di sana, bergerak dengan lihai memastikan menyentuh seluruh bagiannya.

“Yassss…. Ahhh…”

Aku menciracau tak jelas saat jarinya keluar dan masuk tubuhku memastikan ia cukup lancar untuk miliknya yang kini juga tengah meraung. Aku tak bisa berfikir karena ia membuat otakku kosong dengan apa yang ia lakukan di tubuhku. Aku mulai menaiki satu persatu tangga menuju arash saat ia tiba-tiba berhenti. Aku kesal, ingin memakinya karena ia menghempaskanku kembali ke bumi begitu saja tapi aku mengurungkan niatku karena sekarang ia tengah menindihku, menggesekkan miliknya di milikku membuat seluruh tubuhku bergetar dan perutku mulai tak tenang.

Matanya menatap fokus pada gesekan di bawah sana sedangkan aku hanya bisa menatap langit-langit kamar merasakan setiap ia menggesek naik dan turun dan sesekali menggoda mulut Miss V ku membuat tubuhku tak bisa tenang.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh…”

Aku berteriak cukup panjang saat ia masuk dengan perlahan membiarkan tubuhku menyesuaikan miliknya di dalam tubuhku. Aku menatapnya sayu merasakan reaksi yang diberikan tubuhku yang dimasuki benda asing namun sangat nikmat.

“Hope…”

Suaraku pelan hampir tak terdengar saat ia keluar secara perlahan dan mendorong dengan hati-hati. Ia benar-benar berusaha agar aku tidak merasa sakit sedikitpun meskipun aku sangat paham ia sudah tak bisa menahannya lebih lama lagi.

“Hah…”

“Ahh….”

“Hmmm…”

Sesekali ia mengecup bibirku, mata dan daguku namun ia lebih sering menyaksikan apa yang terjadi di bawah sana.

“AAahhhh….”

“Ahh…ah…ahh…”

“Shit!! Aaahhh…”

“Kyunghee…”

Aku mengerang tak jelas di sela-sela nafasnya yang keras dan sesekali ikut mengerang dan terus memanggil namaku. Ia bergerak cepat memastikan aku dan dia mendaki beriringan. Suara gesekan dan pertemuan tubuhku dengan tubuhnya bercampur dengan suara derapan ranjangnya yang begitu keras.

Aku mulai berteriak seperti orang gila saat kenikmatan terus mengincarku membawaku tenggelam pada dosa yang manis dan nikmat ini.

“fuck! Ahhhhhhhhh….”

Aku menatap wajah tenang Jhope yang tertidur begitu pulas, lengannya melingkar di tubuhku begitu posesif seolah tak siap aku akan bangun dan meninggalkannya.

pemikiranku berkutat pada sarapan yang aku dapatkan pagi ini, aku rasa mungkin saja JHope atau Jin oppa yang melakukannya. Jin oppa sudah meminta maaf padaku, mungkin ia sengaja meletakkan sarapan itu sebagai salah satu bentuk permintaan maafnya, tapi kenapa ia tidak menyebutkan tentang itu saat kami mengobrol tadi.

Apa kau?

aku bertanya di dalam otakku sendiri. Sejauh ini Jhope menjadi kandidat  yang paling kuat. Dari semuanya, dia yang paling sering membuatku tersipu karena sikap manisnya, tapi yang aku herankan, kenapa ia harus memberikan secara diam-diam? ia bukan orang yang seperti itu.

Mr.J??

Jimin?

Tidak mungkin, ia saja sedang diet. Jangankan mencarikan sarapan untukku, untuk dirinya sendiri saja ia malas.

Aku mendesah berat merasa lelah dengan pemikiranku sendiri dan rasa penasaran. Mungkin besok pagi aku bisa tahu siapa pelakunya. Jika tak ada sarapan di depan kamarku besok pagi, berarti Jhope yang melakukannya, mudah bukan?

*****

Author lelah bertele-tele… jadi part selanjutnya kita masuk ke inti cerita aja kali ya? Rasanya ini udah cukup panjang dan kita masih belum masuk konflik. Author mulai bosan dan FF ini harus segera menuju konflik atau author bisa jadi berhenti di tengah jalan hahahahahahaha. Okey… next part lebih fokus ke cerita.

Maaf juga updatenya ga teratur, author g punya banyak waktu buat nulis FF. Dan yang ini sengaja alurnya agak cepat, biar bisa segera menuju cerita utama. Kebanyakan intro…

Continue reading “Bangtan’s Pleasure // 5 [Mr.J]”