Chapter · Romance · SHINee

Unpredictable Life with Jinki part 3

Unpredictable Life with Jinki part 3

Author: Lee mincha

Main cast: hyejin, lee jinki, hana and choi minho

Support cast: lee taemin, hyejin’s parents, nayeong dll

Length: sequel

Genre: romantic and fullsadness

Rating: general

Sebelumnya terimakasih buat readers yang udah baca dan memberikan komen untuk semua ffku sebelumnya. Terutama yang “my love like with you lee taemin dan sequelnya” g nyangka ternyata ff itu di post kekekekekekeeke #bow buat admin

Kalau diliat-liat author memang lebih cocok bikin ff sedih. Karena setelah author membaca kembali semua ff yang pernah author tulis, kecuali ff sedih-sedih , author merasa alay -_-

Maafkan atas kealayan author#bow

Ide ff ini muncul waktu nonton ulang SWC1 di jepang bagian yang SHINee nyanyi one. Waktu itu key sama onew oppa sempat nangis dan bikin author ikut mewek. Kemudian munculah ide membuat ff ini #g nyambung

Kalau kalian mau baca ff ini, disarankan sambil dengerin SHINee_one apalagi pas bagian sedih-sedih.

Sekali lagi gumawo buat admin yang mau mempost ff ini #bow

 

@seoul

Aku berjalan gontai menuju kelasku namun seseorang menghentikan langkahku.

Nayeong: apa yang kau fikirkan sampai kau tidak mendengar aku berteriak-teriak memanggil namamu?

Hyejin: mianhae nayeong…

Nayeong: wae???

Hyejin: anyio…

Nayeong: kemarin kau ke mana? Aku ke rumahmu tapi tidak ada siapapun…

Hyejin: aku pergi ke daegu…

Nayeong: mwo? jauh sekali…. Ada urusan apa kau ke daegu?

Hyejin: aku mencari hana…

Nayeong: hana yang sering kau ceritakan?

Hyejin: ne…

Nayeong: bagaimana keadaannya??

Hyejin: aku tidak berhasil menemukannya.

Nayeong: jeongmal, lalu bagaimana?

Hyejin: molla, aku tidak tahu harus mencarinya kemana…

Nayeong: jangan patah semangat seperti itu, aku akan membantumu yaksok…

Ia tersenyum sambil memamerkan jari kelingkingnya padaku. aku hanya tersenyum membalas perkataannya. Kemudian ia merangkulku dan kami berjalan menuju kelas sambil bercerita banyak hal.

 

Aku sibuk menggoreskan pensilku di kertas gambar yang selalu aku bawa kemanapun. Aku duduk di taman sekolah dan sibuk menggambar sekolah ini.

Jinki: igo…

Saat aku masih sibuk dengan gambarku tiba-tiba saja jinki oppa datang dan menyerahkan sekotak bekal padaku.

Jinki: jika kau tidak makan, immo akan memarahiku.

Hyejin: nanti akan kumakan.

Aku meletakkan bekal itu disampingku dan melanjutkan aktivitas menggambarku.

Jinki: apa kau menggambar sekolah kita.

Hyejin: ne… tapi sepertinya tidak sebagus yang aku harapkan.

Aku mendesah kecil, malas melanjutkan gambarku sendiri.

Jinki: kau bisa menggambarnya lagi dilain waktu.

Hyejin : aku tidak pernah menggambar apapun lebih dari satu kali.

Jinki: lalu kau juga tidak akan pernah lagi menggambar hana sejak kalian berpisah? Kekekekekekeke

Hyejin: ya begitulah…

Ia masih sibuk tertawa dengan leluconnya yang tidak lucu itu sementara aku tetap melanjutkan aktivitasku. Aku tidak mempedulikan dia yang duduk disampingku. Aku tau dia akan kesal karena aku hanya diam. Tapi sampai gambarku selesai ia masih saja di sana, sekolahpun sudah kosong namun ia masih duduk disebelahku.

Hyejin; kau tidak bosan seperti itu?

Aku menatapnya, seketika saat aku menatapnya aku mengetahui ia sudah menatapku sedari tadi. Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku.

Hyejin: apa terus menatapku seperti itu sedari tadi? Apa aktivitas melihatku lebih menarik bagimu dari pada melakukan kesenanganmu sendiri?

Jinki: melihatmu adalah kesenanganku…. Aku senang bisa melihat setiap ekspresimu, baik itu sedang marah, sedih, menangis, tersenyum, tertawa, bahkan sedang kesal atau imut seperti sekarang.

Hyejin: mwo? imut?

Jinki: ne, kau itu sangat imut…

Ia mencubit kedua pipiku.

Hyejin: YA! kau bisa membuat pipiku melebar!

Ia melepaskan tangannya dan tertawa terbahak-bahak. Kemudian mengambil gambarku.

Jinki: bagus! Bisakah kau menggambarku?

Hyejin: memangnya kau mau menunggu lebih lama lagi? aku jamin akan selesai saat malam.

Jinki: tidak apa-apa, aku akan menunggu sampai selesai.

Hyejin: baiklah.

Aku duduk menghadapnya memperhatikan wajahnya yang akan jadi objek gambarku. Semakin aku memperhatikan wajahnya, semakin keras pula debaran jantungku. Haruskah aku menggambarnya? Aku tidak mau ia bisa membaca perasaanku dari ekpresiku sekarang yang aku yakin sudah sangat aneh.

Jinki: ada apa denganmu? Wajahmu memerah, kau sakit?

Ia menyentuh dahiku.

Jderrrr……. Ketahuan T.T

Hyejin: anyio…

Aku mengalihkan pandanganku pada gambarku dan mulai sibuk memvisualkan wajah jinki oppa melalui gambarku.

Hyejin: selesai….

Aku berdiri girang setelah berhasil menyelesaikan gambarku. Kemudian jinki oppa mengambil gambar itu.

Jinki: kenapa gigiku seperti ini?

Hyejin: bukankah gigimu memang seperti itu?

Jinki: mana mataku?

Hyejin: aigoo… oppa matamu memang selalu hilang jika kau tersenyum.

Jinki; cih…. Jelek sekali.

Hyejin: kalau tidak suka sini biar aku buang saja!
aku bersiap menarik gambar itu tapi jinki oppa malah menyembunyikannya di balik punggungnya.

Jinki: kau bilang tidak akan menggambar apapun dua kali, jadi ini akan menjadi gambarku satu-satunya, bagaimana bisa kau membuangnya? Biar aku simpan. Sudahlah , sekarang sudah malam, sebaiknya kita pulang. Sebentar lagi immo akan sampai di rumah.

Hyejin: -_-

                                                                        ***********

2012

Hyejin: oppa, aku lelah tidak bisakah kita istirahat sebentar?

Jinki: tidak bisa, kalau kau tidak rajin belajar bagaimana bisa kau lulus ujian universitas? Aku sudah berhasil membantu minho dan taemin, aku tidak akan biarkan kau gagal.

Hyejin: tapi oppa, kita sudah belajar dari pagi, sekarang sudah malam aku bosan oppa T.T

Jinki: ckckckckckckck dasar anak pemalas!

Aku merapatkan dua tanganku memohon padanya.

Jinki: aish…. Baiklah, kita istirahat sebentar. Nanti jam 11 kita lanjut lagi.

Hyejin: MWO??? 11? Kau sudah gila? Aku sudah seharusnya tidur oppa….

Jinki: tidak banyak waktu yang tersisa menuju ujian, kau bahkan masih sering salah menentukan mana yang harus dikali dan dibagi.

Hyejin: kau sangat kejam oppa! Aku akan menelfon oemma….

Aku mengambil ponselku dan menelfon oemma seperti yang aku ancamkan padanya.

Hyejin: oemma… oppa benar-benar keterlaluan. Masa dia terus menyuruhku belajar sampai tengah malam? Oemma aku ingin pulang T.T

Oemma: kau berlebihan sayang, sudahlah belajar yang rajin ya, apartemen jinki sangat sepi, sangat bagus untuk belajar. Hyejin hwaiting!!!

Bipppppppppppp,……..

T_________T

Aku melihat ekspresi bahagia jinki oppa sekarang. sudahlah tak ada gunanya aku melawan.

Hyejin: baiklah, pinjam laptopmu, aku ingin main. Nanti jam 11 kita lanjut lagi.

Ia meminjamkan laptopnya dan aku mulai sibuk dengan game yang ada di sana. Saat aku masih asik bermain tiba-tiba berdering alarm yang sengaja jinki oppa pasang agar aku tidak terledor.

Dengan segera ia menutup laptop yang sedari tadi sibuk aku mainkan.

Hyejin: oppa sebentar lagi…

Jinki: tidak bisa, kau harus belajar hyejin. Jika kau tidak lulus universitas bagaimana bisa kau melanjutkan cita-citamu menjadi pelukis? Jurusan seni juga harus punya nilai yang bagus. Kalau kau tidak lulus bagaimana nanti kata hana?

Aku terdiam mendengarkan ucapan jinki oppa, ya dia benar. Jika aku gagal maka aku tidak hanya mengecewakan keluargaku tapi juga hana. Aku segera menarik buku yang sedari tadi kutelantarkan dan mulai membedahnya satu-persatu.

Saat aku masih sibuk dengan soal aritmatikaku jinki oppa datang dengan sebuah kue dan beberapa botol soju. Aku hanya diam menatapnya heran.

Jinki: saengil chukkae hyejin…

Omo aku lupa besok aku ulang tahun, anyi tidak besok, sekarang sudah jam 12. Ia meletakkan kue di atas meja dan menyingkirkan semua buku yang terletak begitu saja, mengumpulkannya dan meletakkannya di sofa. Kami duduk di lantai saling berhadapan.

Hyejin: bagaimana oppa tahu aku berulang tahun?

Jinki: jangan meremehkanku, aku tahu banyak hal tentangmu. Sudah cepat buat permohonan dan tiup lilinya.

Aku menutup mataku

“semoga aku bisa menghabiskan lebih banyak waktu lagi bersama jinki oppa, aku ingin dia selalu seperti ini, selalu disisiku dan selalu ada untukku, biarkan aku memilikinya walau tak seutuhnya”

Piuhhhh……..

Aku meniup lilin berangka 19 tersebut dan jinki oppa bertepuk tangan dengan semangat.

Jinki; ssekarang kau sudah dewasa kekekekekekeke rasanya baru kemarin kita bertemu.

Hyejin: waktu berlalu begitu cepat.

Jinki: sudah, aku punya ini.

Hyejin; soju??

Jinki: bukankah kita sudah berjanji untuk menikmati soju pertamamu bersama? Igo….

Hyejin: ia menyerahkan soju itu padaku dengan segera aku meminumnya…

Hyejin: moya ige???? Kenapa rasanya aneh?

Jinki: kekekekekeke dasar bodoh!

Hyejin: kau bilang aku bodoh?

Jinki; ckckckckckck kau tidak akan pernah dewasa. Aku biasa menghabiskan semuanya sendirian.

Jinki oppa mulai menegak sojunya. Aku tidak mau kalah dan mulai meminum minuman rasa aneh ini. kami berlomba-lomba menghabiskannya sampai aku benar-benar tidak bisa melihat apapun.

                                                            *********************

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, kepalaku sangat pusing. Aku merasa sangat sesak. Aku mencoba mengumpulkan segenap kesadaranku sampai akhirnya aku mengetahui sebuah kenyataan, jinki oppa masih tertidur, dan aku? aku berada dalam pelukannya. Sangat erat, ia memelukku sangat erat. Aku mengumpulkan sisa tenagaku melepaskan tubuhku darinya tapi ia malah terus menarikku.

Hyejin: OPPA!!!!!! Lepaskan aku!!!!!!!!!!!!!!!!

Jangankan bisa lepas, ia malah semakin menarikku. Ia bergumam pelan dalam keadaan setengah sadar dan menarikku lagi

Chu~

Aku terkejut tiba-tiba dia menciumku, ommona… apa ini??????????? aku menegang seutuhnya tidak bisa bergerak. Tubuhku terasa kaku, jantungku berdebar sangat keras dan cepat.

Plaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkk….

Aku menampar jinki oppa membuatnya benar-benar terbangun. Ia duduk sempurna menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kudeskripsikan. Aku masih menahan emosiku padanya berdiri di sisi ranjangnya, aku bersiap-siap mengeluarkan semua kemarahanku tapi semuanya tiba-tiba lenyap, aku tidak bisa marah padanya.

Aku berlari keluar apartemennya segera mencari taksi menuju rumahku. Selama di taksi aku terus menangis, aku tidak menyangka jinki oppa akan menjadi seperti itu. bagaimana bisa kami tidur diranjang yang sama dan ia memelukku, tidak hanya itu ia juga menciumku. Meskipun pakaianku masih utuh, tapi semua ini benar-benar keterlaluan. Aku sangat mengaggumi jinki oppa yang sangat baik, dewasa dan sangat menghormatiku tapi kenapa dia jadi seperti itu.

Hiks… jinki oppa….

Setibanya di rumah aku langsung berlari ke kamarku, rumah masih sepi, sepertinya semua orang masih tertidur. Aku memasuki kamar mandi duduk di dalam bathup mencoba menenangkan hatiku. Aku marah, kecewa tapi ada bagian dari hatiku yang meletup-letup seolah aku sangat menyukai hal tersebut. Tapi semua ini tidak benar, dia saudaraku, meskipun kami tidak punya hubungan darah, ia tetap saudaraku. Aku tidak bisa membiarkan perasaanku tumbuh begitupun dia, seharusnya dia bisa lebih bijaksana dibandingkan aku.

Tok…tok…tok…

Seseorang mengetuk pintu kamarku, perasaanku sudah mulai tenang sekarang. aku sudah kembali focus pada kenyataan dan berusaha bersikap seolah tidak terjadi apapun.

Oemma, appa: SURPRISE!!!!!!!!!

Aku menutup mulutku terkejut, ya aku terkejut mendapati oemma dan appaku di depan pintu dengan sebuah cake besar dan lilin 19 diatasnya.

Aku meniup lilin tersebut dan memeluk kedua orang tuaku. Terima kasih tuhan kau kirimkan mereka untukku.

Appa: aigo… putri appa sudah dewasa sekarang

Oemma: semoga kau bisa jadi gadis yang baik dan selalu melakukan hal yang benar. Meskipun itu berat, kau harus tetap pada kebenaran arra…

Hyejin: ne oemma… sudah, aku akan buatkan teh hangat untuk kalian….

Aku berlari ke dapur dan kedua orang tuaku langsung menuju ruang keluarga.

Hyejin: ahjuma…. Dimana nampannya?

Ahjuma: ada di lemari belakang.

Aku berjalan menuju ruangan yang ada dibalik dapur tempat dimana semua peralatan dapur tersimpan. Saat aku kembali aku melihat ahjuma tersebut masih berdiri di dekat teh yang aku buat.

Ahjuma: semoga acara minum teh kalian menyenangkan.

Hyejin: gumawo ahjumma…

Aku berjalan hati-hati membawa nampan tersebut sampai di ruang tengah dan menghidangkannya untuk orang tuaku.

Pagi ini dihari pertama usia 19ku, aku menikmati teh bersama orang tuaku. Sangat menyenangkan, jarang sekali appa bisa menghabiskan waktu bersama seperti ini, ia sangat sibuk.

                                                *******************************

Hyejin: eomma…………..eomma……….

Aku terus memanggil oemma yang tak menyahut satupun panggilanku. Aku berjalan ke kamar oemma dan memasukinya, kulihat oemma terbaring di lantai, tanpa fikir panjang aku menghampiri oemma, wajahnya pucat pasi. Aku berteriak histeris sehingga semua orang di rumah ini menghampiriku. Kami membawa oemma ke rumah sakit terdekat. Beruntung appa belum pergi. Aku berjalan mondar mandir di depan ER, sedangkan appa duduk gelisah dan ia terus berkeringat, aku tahu ia sangat mencemaskan oemma. Tak lama kemudian taemin, minho, dan jinki oppa datang berserta anggota keluarga lain.

Saat sang dokter keluar dari ruangan ER kami mengerubunginya, ekpressinya benar-benar membuatku khawatir.

Dokter: livernya sudah tidak berfungsi dan jantungnya sudah berhenti, kami tidak bisa lakukan apapun lagi. kalian harus mengikhlaskannya.

Bagaikan batu besar menimpaku rasanya begitu berat dan sulit untuk bernafas. Aku terjatuh kelantai, air mataku terus berderai. Oemma, baru pagi ini kau tersenyum untukku, kenapa sudah berakhir saja? Kenapa aku tidak bisa lagi melihat senyummu di masa yang akan datang? Oemma, kenapa pergi begitu cepat? Aku baru saja merasakan memiliki seorang ibu, aku masih ingin merasakannya lebih lama lagi. oemma kenapa kau meninggalkanku?????

Aku menangis dan terus menangis hingga aku yakin sisa air mata yang aku miliki tidak akan cukup lagi jika aku menangis nanti.

Minho: hyejina….

Minho oppa menghampiriku dan memelukku,

Hyejin; oppa…. Aku tidak mau oemma pergi….

Minho: arrayo… bertahanlah, semua ini sudah takdir tuhan.

                                                                        **********

Jinki pov

Aku terkejut bukan main saat sang dokter secara tidak langsung menyatakan immo telah tiada, immoku yang malang. Aku melihat hyejin begitu terpukul, saat aku akan menghampirinya minho telah lebih dulu memeluk hyejin. Well, dia kan juga sepupu hyejin, tapi rasanya aku lebih baik dari pada minho, rasanya akulah yang seharusnya memeluk hyejin sekarang, seperti saat-saat sebelumnya.

Aku melihat ayah hyejin berjalan mengikuti sang dokter, entahlah rasanya ada yang aneh dengan sikap dokter itu. aku mengikuti mereka berdua menuju ruangan sang dokter. Aku hanya berdiri di luar, aku bisa mendengarkan percakapan mereka dengan cukup jelas.

Hyejin appa: apa yang menyebabkan istriku meninggal? Kenapa ia bisa tiba-tiba sakit padahal selama ini ia baik-baik saja.

Dokter: apa aku boleh tahu apa yang terakhir di konsumsi istrimu?

Hyejin appa: kami merayakan ultah putri kami, putriku membuatkan kami teh hangat dan kami menikmatinya bersama.

Dokter: apa tehnya sudah dituang atau masih di dalam ceret?

Hyejin appa: hyejin sudah membaginya satu persatu untuk kami, ia tidak suka menuang teh karena ia tidak bisa melakukannya, memangnya apa hubungannya?

Dokter: istrimu keracunan, sepertinya dari teh tersebut.

Hyejin appa: mwo? maksudmu hyejin yang melakukannya? Anyio… ia sangat menyayangi istriku tidak mungkin dia melakukannya. Meskipun dia bukan anak kandung kami, tapi ia sudah seperti putri kami sendiri.

Dokter: aku juga tidak ingin menuduh putrimu, tapi ini adalah kenyataan, istrimu mengalami keracunan karena teh yang dia berikan.

Aku terkejut bukan main mendapati kenyataan yang baru saja aku dengar, tidak, tidak mungkin hyejin melakukan hal seperti itu. aku sangat mengenal hyejin, mengenalnya sangat baik, meskipun hyejin tidak menyayangi immo seperti hana, tapi aku tahu ia sangat menghormati dan menghargai immo, ia tidak pernah berfikir jahat, apa lagi melakukan hal semacam itu pada immo. Lagi pula ia juga begitu terpukul saat mengetahui immo meninggal. Hyejin tidak mungkin melakukan hal itu, tidak mungkin, aku percaya itu. tapi bagaimana dengan orang-orang? Mereka pasti tetap akan menyalahkan hyejin, biar bagaimanapun hyejin bukanlah anak kandung immo, tidak tertutup kemungkinan ia melakukan hal tersebut. Aku tidak bisa membiarkan hyejin dihakimi atas kesalahan yang aku yakin tidak dia lakukan.

Aku berlari meninggalkan ruangan tersebut, aku berlari ke ruang tempat immo berada, tapi hyejin tidak ada di sana.

Jinki: taemin, dimana hyejin?

Taemin: minho hyung membawanya keluar, ia terlalu terpukul hyung, minho hyung membawanya, Jika ia terus di sini dia akan terus histeris.

Setelah mendengarkan penjelasan taemin aku berlari keluar rumah sakit mencari keberadaan hyejin. Aku memutari rumah sakit ini, mereka pasti masih di sekitar sini. Dan syukurlah aku menemukan mereka di taman belakang rumah sakit. Kulihat hyejin masih menangis sesegukan dipelukan minho. Oh ayolah jinki, kenapa aku harus merasakan hal seperti ini sekarang? bukan saatnya aku cemburu, dia itu minho, sepupuku sendiri, dan aku juga sepupu hyejin.

Aku berjalan menghampiri mereka, berusaha menstabilkan nafasku yang sesak karena tadi terus berlari.

Jinki: minho…. Halmoni mencarimu…

Minho: ne? tadi aku sudah bilang padanya aku pergi dengan hyejin

Jinki: dia menyuruhku mencarimu dan menggantikanmu menjaga hyejin.

Minho: baiklah hyung…

Minho pov

Hyejin, ia terus berteriak histeris di dekat tubuh immo yang sudah dingin dan tak bergerak lagi. sampai kapan ia akan terus begitu? Aigooo hyejin, jangan buat aku juga meratap bersamamu.

Aku menghampiri hyejin memegang bahunya dan membantunya bangun.

Minho: oemma, aku akan membawa hyejin keluar…

Aku membawa hyejin, awalnya ia menolak, tapi kemudian ia menyerah karena aku terus memaksanya. Aku membawa hyejin di taman belakang rumah sakit yang sepi. Kami duduk di sebuah bangku panjang, hyejin masih menangis. Aku membelai lembut rambut hyejin dan menariknya dalam pelukanku.

Anak ini, aku selalu suka saat ia tersenyum dan tertawa, melihatnya seperti sekarang membuatku sangat sedih.

Jinki: minho…. Halmoni mencarimu…

Jinki hyung datang menghampiri kami, ia berkeringat meskipun nafasnya terlihat stabil, aku tahu dia pasti berlari. Dasar jinki hyung, tidak pernah berubah, apa dia menyembunyikan sesuatu?

Minho: ne? tadi aku sudah bilang padanya aku pergi dengan hyejin

Jinki: dia menyuruhku mencarimu dan menggantikanmu menjaga hyejin.

Minho: baiklah hyung…

Dengan berat hati aku berdiri dan meninggalkan hyejin bersama jinki hyung. aku tidak sepenuhnya pergi, aku tahu jinki hyung sedang menyembunyikan sesuatu, jadi aku putuskan untuk berdiri disini, di balik sebuah pohon. Aku yakin jinki hyung tidak akan melihatku meski aku bisa mendengarnya dengan jelas.

Jinki: hyejin, kau harus pergi…

Hyejin: oppa, bisakah tidak mengatakan hal yang tidak berguna sekarang?

Jinki: kau harus pergi hyejin, selamatkan dirimu, jangan sampai mereka menemukanmu.

Hyejin: oppa, jhebal jangan buat fikiranku tambah rumit.

Jinki: hyejin. Apa pagi ini kau menyiapkan teh untuk immo?

Hyejin: ne, itu teh pertamaku di usia 19ku dan teh terakhirku bersama oemma.

Jinki: immo meninggal karena keracunan, mereka menuduhmu yang melakukannya karena teh itulah yang terakhir immo konsumsi.

Hyejin: apa kau gila? Mana mungkin aku melakukannya?

Jinki: aku juga tahu kau tidak mungkin melakukannya, aku sangat mengenalmu, kau bukan orang yang seperti itu. tapi orang lain? Mereka tidak sama denganku hyejin. Pergilah hyejin, jika kau tetap di sini kau akan menderita.

Hyejin: aku tidak peduli…

Jinki; hyejin, aku akan menyelidiki tentang kematian immo, aku janji aku akan menemukan siapa pelakunnya. Hyejin, aku mohon jangan kembali sampai aku menemukan pelakunya. Pergilah sejauh mungkin agar mereka tidak bisa menemukanmu. Aku mohon hyejin, aku tidak mau kau terluka…

Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengan dari jinki hyung, apa semua ini? siapa orang yang berani menjebak hyejin?

Jinki pov

Hyejin masih terdiam di tempatnya, aku tahu ia mungkin tidak percaya dengan semua perkataanku tapi aku juga yakin ia tahu aku tidak pernah berbohong padanya. kemudian ia berdiri…

Hyejin: bolehkan aku melihat oemma untuk terakhir kalinya???

Aku lega mendengar ucapannya, itu artinya ia mengikuti saranku.

Jinki: pergilah, aku akan menunggumu di mobilku.

Ia berjalan gontai melewatiku menuju ruangan immo. Akupun segera bergegas menuju mobilku, mengendap-endap agar tak seorangpun mengetahuiku.

Hyejin pov

Aku berjalan gontai menuju tempat oemma berada, aku mengerti dengan jelas semua perkataan yang jinki oppa baru saja katakan padaku. aku tidak percaya ada orang seperti itu yang tega membunuh oemmaku dan menjadikan aku sebagai kambing hitamnya.

Aku menatap tubuh oemma yang kaku, kulihat semua anggota keluarga menangis dan berduka. Ternyata aku yang menyebabkan kepergian oemmaku sendiri, miris… betapa kejamnya aku.

Aku berjalan menuju tubuh oemma dan memeluknya, aku sudah tidak menangis lagi, air mataku sudah tak ada yang bisa keluar, semuanya sudah kering. Hatiku sudah membeku, tidak bisa lagi merasakan sedih, perih dan luka, sudah kebas dan tak berasa.

Hyejin: aku ke toilet dulu…

Taemin: biar aku antar…

Minho: tidak taemin, dia butuh waktu untuk sendiri.

Syukurlah minho oppa berhasil menahan taemin oppa agar ia tidak mengantarku. Aku keluar dari ruangan itu kemudian menghapus sisa-sisa air mata diwajahku. Aku berjalan gusar keluar rumah sakit, saat aku sampai di luar, kulihat jinki oppa sudah menunggu di mobilnya. Aku berlari dan segera memasuki mobilnya.

Jinki oppa melajukan mobilnya menuju rumahku, saat kami sampai tak ada siapapun di rumah, tentu saja, semua orang pergi ke rumah sakit termasuk para pelayan. Aku bergegas ke kamarku, mengumpulkan barang-barang yang akan aku bawa.

Tidak banyak yang aku bawa, hanya baju seadanya, semua surat hana, foto hana dan aku, foto keluarga ini, dan fotoku bersama jinki oppa.

Jinki oppa mengantarkanku ke stasiun, jika aku pergi naik pesawat ia takut orang-orang akan dengan mudah menemukanku.

@stasiun

Hyejin: oppa, terimakasih untuk semuanya…

Jinki: hyejin, aku janji akan menemukan pelakunya aku berjanji. Saat itu aku akan membawamu kembali dan kita bisa seperti dulu lagi. kau harus bisa bertahan, berjanjilah kau akan baik-baik saja.

Hyejin: oppa, mianhae pagi ini aku menamparmu…

Jinki; itu tidak penting sekarang…

Kemudian ia mengeluarkan beberapa uang dari dompetnya.

Jinki: ini, pakailah uang ini, pergilah sejauh mungkin, carilah tempat tinggal yang layak dan hiduplah dengan baik, berjanjilah padaku.

Aku hanya mengangguk…

Jinki: jangan hanya mengangguk, aku tahu kau ragu, berjanjilah kau akan baik-baik saja, katakan kau berjanji.

Hyejin: aku tidak bisa berjanji oppa, aku tidak bisa terus berjanji, aku tidak sanggup melanggar lebih banyak janji.

Tes…

Aku melihat jinki oppa menangis untuk pertama kalinya dihadapanku. Ini pertama kalinya aku bisa melihat wajah sedih dan khawatirnya. Ia kemudian menarikku dalam pelukannya.

Jinki: aku sangat menyayangimu, aku mohon tetaplah jadi hyejin yang seperti aku kenal, jangan pernah merubah dirimu dan perasaanmu. Tetaplah jadi hyejinku aku mohon. Aku akan sangat merindukanmu.

Aku melepaskan tubuhku dari jinki oppa, berpamitan padanya untuk terakhir kalinya. Ia masih saja menangis meski ia terus berusaha menahan kesedihannya.

Saat aku akan menaiki kereta aku berbalik berlari kembali ke tempat jinki oppa dan memeluknya. Entahlah aku sangat membutuhkan pelukannya saat ini, tapi aku benar-benar harus kehilangan pelukan hangatnya. Aku tidak sanggup akan hal itu, aku menangis keras dalam pelukan jinki oppa, meluapkan semua emosi dalam diriku yang terus berkecamuk.

Jinki: hyejin… pergilah sebelum terlambat.

Aku melepaskan tubuhku darinya dan mengangguk.

Hyejin: oppa… kau tahu? Bagiku kau sama pentingnya dengan hana…

Aku berbalik kemudian memasuki kereta, bisa kulihat jinki oppa masih terpana mendengar ucapanku barusan. Pintu kereta mulai tertutup, kulihat jinki oppa berlari ketempat aku berada. Saat ia sampai pintu kereta sudah benar-benar tertutup. Aku melihat ia menangis memanggil-manggi namaku dan memukul pintu kereta ini. aku hanya bisa diam menatapnya dibalik pintu kereta ini dan melambaikan tanganku.

Hyejin: oppa, saranghae…….

 

Chapter · Romance · SHINee

Unpredictable Life with Jinki part 2

Unpredictable Life with Jinki part 2

Author: Lee mincha

Main cast: hyejin, lee jinki, hana and choi minho

Support cast: lee taemin, hyejin’s parents, nayeong dll

Length: sequel

Genre: romantic and fullsadness

Rating: general

hyejin pov

Kami sibuk menghabiskan makanan yang taemin oppa belikan untuk kami barusan, dan ia juga membelikan aku baju berhubung aku masih memakai seragam sekolahku yang sudah sangat berantakan. Setelah selesai makan, minho dan taemin oppa langsung ke kamar yang ada di dekat pintu apartemen, mereka bilang ingin segera tidur, sementara aku sibuk membereskan meja makan ini.

Saat aku telah selesai membereskan dapur yang kami berantakan, aku berniat memasuki sebuah kamar untukku. Jinki oppa bilang aku bisa tidur di kamar tamu dan mereka bertiga akan tidur di kamar jinki oppa. Namun perhatianku teralih pada jinki oppa yang berdiri di balkon sendirian. Entah karena alasan apa aku berjalan menghampirinya.

Hyejin: mianhae oppa… aku tidak bermaksud seperti itu…

Jinki: kuenchana… itu bukan salahmu, itu adalah kenyataan.

Ia menatapku dan tersenyum lagi…

Hyejin: hebat sekali, kau bisa menyembunyikannya dengan senyumanmu…

Ia tersenyum lagi.

Jinki: nasib kita tidak jauh berbeda bukan?

Hyejin: tetap saja berbeda… kau anak yang diinginkan, sedangkan aku???

Jinki: kekekekekekekekekekeke kau benar juga…

Hyejin: oppa, seperti apa rasanya jadi mahasisiwa?

Jinki: tidak semanis yang kau bayangkan.

Hyejin: jeongmal?

Jinki: kau tahu? Setiap hari ada tugas, tidak boleh meniru karya orang, jika tidak hadir nilaimu terancam, jika bermasalah dengan dosen kuliahmu melayang . ckckckckckckckckckck sangat menyusahkan.

Hyejin: benarkah? Tapi tidak apa-apa, aku akan jadi mahasisiwa juga suatu hari nanti.

Jinki: makanya kau harus rajin belajar agar bisa lulus ujian masuk universitas…

Hyejin: ne… hwaiting!!! Ada satu lagi hal yang membuat aku benar-benar ingin jadi mahasiswa…

Jinki: apa?

Hyejin: aku ingin tahu bagaimana rasanya minum soju dan bersenang-senang seperti yang orang-orang dewasa lakukan. hah aku sudah tidak sabar ingin jadi dewasa…

Jinki: menjadi orang dewasa itu tidak semenyenangkan dan segampang yang kau fikirkan. Jadi kau ingin menikmati soju ketika kau memasuki usia dewasa nanti?

Aku mengangguk

Jinki: kalau begitu kau harus menghabiskan soju pertamamu denganku…

Hyejin; OK ^^

Jinki: sudah, tidur sana, anak kecil tidak boleh tidur larut malam.

Hyejin: cih… dasar orang dewasa, suka sekali mengatur.

Aku mengumpat kecil kemudian berbalik meninggalkannya namun langkahku berhenti dan aku berbalik kembali menatapnya.

Hyejin: oppa gumawo… aku senang memiliki oppa seperti kau, minho oppa dan taemin oppa.

Jinki: ne, kami juga sangat senang memilikimu, kau adalah sepupu yeoja pertama kami.

                                                *************************************

Sejak saat itu aku sering menghabiskan waktu istirahat di sekolah bersama ketiga oppaku dan nayeong. Kami mengobrol tentang banyak hal dan terkadang tertawa terbahak-bahak sampai jinki oppa menangis. Namja itu sangat aneh karena Ia pasti akan menangis jika ia sudah tertawa terlalu lama. Dan sejak saat itu banyak senior yeoja yang mendekatiku, berdalih menjadi temanku, tapi akhirnya memintaku membantu mereka mendekati salah satu oppaku. Aku mendadak artis karena mereka semua, hampir setiap hari ada saja yang datang ke kelasku memintaku memberikan inilah, itulah untuk oppaku. Sampai-sampai nayeong juga kena impasnya, tapi yeoja itu justur sangat senang, dasar aneh.

Hampir setiap pulang sekolah aku akan datang ke boutiq oemma dan menghabiskan waktu di sana menemani oemma. Oemma sering menyuruhku pulang atau pergi ke mall berbelanja seperti yang yeoja seumuranku lakukan, tapi aku masih sadar diri. Aku diadopsi untuk menenaminya bukan menghambur-hamburkan uangnya, lagi pula aku ingin menikmati setiap waktuku merasakan menjadi anak oemma, karena oemma selalu memanjakanku jika aku bersamanya. Hari ini aku juga datang ke boutique, baru saja aku berdiri di depan butik aku melihat oemma sedang memasangkan sebuah gaun pada patung manikin yang terpajang di estalase butik. Aku menatap takjup gaun itu, selain karena bentuknya yang sempurna, warna ungu lembutnya benar-benar menyedot perhatianku.

Oemma: kenapa kau masih disana?

Aku terbangun dari kekagumanku dan masuk menyusul oemma ke dalam.

Hyejin: oemma, gaun ini indah sekali, apa kau yang membuatnya?

Oemma: ne, gaun ini akan oemma jadikan spot untuk fashion week minggu depan. Ottae?

Hyejin; huaaa… neomu yeppo…

Oemma: hyejin, oemma akan pergi ke paris selama seminggu ke depan, kau tahu kan appa sangat sibuk? Jadi oemma meminta jinki menemanimu di rumah. Tidak apa-apakan? Atau kau mau ikut dengan oemma?

Hyejin: anyio, aku harus sekolah oemma. Taemin dan minho oppa kemana?

Oemma: mereka akan jadi modelku, kau tahu sendiri mereka memiliki tubuh yang bagus dan wajah yang sangat tampan.

Hyejin: arraseo oemma, semoga oemma sukses kekekekekekekekekeke

                                                                        **********

Aku mengantar oemma ke bandara bersama jinki oppa, sebenarnya oemma terlalu berlebihan menitipkan aku pada jinki oppa, aku rasa tidak masalah jika aku tinggal sendirian, lagi pula aku bisa mengajak nayeong ke rumah.

Aku berlari ke luar di pagi yang masih dingin ini, aku bahkan belum mencuci mukaku dan masih memakai piyama. Aku berdiri di dekat kotak surat berharap tukang pos akan mengirimkan sebuah surat untukku. Dan bingo… sang tukang surat datang tapi sayang tidak ada surat untukku.

Sudah lebih satu tahun aku tidak mendapat surat dari hana, terakhir aku mengirim suratnya saat aku pindah. Apa dia mengirim surat ke panti? Tapi kemarin aku sempat menelfon temanku yang di panti dan mereka bilang tak ada surat untukku. Aku mengkhawatirkan hana, aku takut terjadi sesuatu padanya. ia sudah berjanji untuk terus mengirim surat, ia tidak pernah mengingkari janjinya sekalipun, aku sangat mengenalinya. Lagi pula, bukankah ia sangat merindukanku? Seharusnya kami sudah menyusun rencana untuk bertemu, tapi bagaimana bisa aku melakukannya jika ia tidak membalas suratku?

Aku berjalan gontai kembali ke dalam rumah, aku sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada hana tapi aku tidak tahu harus berbuat apa.

Jinki: kau sudah bangun?

Jinki oppa masih sibuk di dapur membuat sarapan untukku. Dia mengusir semua pelayan di rumah ini. memang selalu seperti itu saat ia di sini maupun ia menginap di rumah sepupu lainnya, ia akan meminta semua pelayan libur. Aku pernah Tanya alasannya, tapi ia selalu bilang, “aku tidak suka rumah yang teralu ramai”. Dan beginilah sekarang, ia bertanggung jawab atas perbuatannya, ia harus menyiapakan sarapan untukku. Aku duduk lesu di meja makan dan kemudian ia menghidangkan sarapan roti bakar buatannya. Aku sangat salut dengan jinki oppa, ia bisa melakukan segala hal sendirian, dia sangat mandiri.

Jinki; wae?

Hyejin: hana, dia tidak lagi mengirimkan surat padaku. ini sudah lebih dari satu tahun, awalnya aku fikir ia mungkin sedang pergi ke jerman untuk exchange karena ia pernah bilang itu dalam sebuah suratnya, hanya saja jika ia memang pergi, seharusnya ia sudah pulang sekarang, kenapa ia tidak mengatakan apapun padaku? ini sangat aneh.

Jinki oppa kemudian duduk dihadapanku

Jinki: siapa itu hana?

Kemudian aku menjelaskan tentang hana pada jinki oppa, tentang hana yang di temukan di depan pintu asuhan, tentang hana yang menjadi teman sekamarku, tentang hana yang menjadi sahabatku satu-satunya dulu, tentang hana yang selalu mengirimkan surat untukku, tentang hana dengan segala cita-citanya, tentang hana dengan kepribadiannya yang anggun, tentang hana yang tidak pernah mengingkari janjinya.

Jinki: kenapa kau tidak datang saja ke rumahnya? Bukankah kau punya alamatnya?

Hyejin: bagaimana bisa aku ke sana?

Jinki: aku akan mengantarmu…

Ia berbalik padaku berhenti dari kesibukan mencuci panggangan yang ia pakai untuk membuat roti bakar tadi dan tersenyum seperti biasanya.

Hyejin: jeongmal?

Aku berlari dan langsung memeluknya meluapkan rasa bahagiaku. Namun kemudian aku tersadar dan menggaruk-garuk kepalaku sendiri.

Hyejin: mianhae oppa, aku terlalu senang.

Jinki oppa tersenyum kemudian memelukku, aku terkejut dengan apa yang ia lakukan.

Hyejin: oppa…

Jinki: kalau begitu aku juga terlalu senang.

Aku hanya berdiri tegang dalam pelukannya, ia memelukku cukup lama. Aku hanya diam, tidak menolak dan tidak juga membalas tidak tahu tentang apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku berusaha mati-matian menyadarkan diriku bahwa dia adalah sepupuku, tapi kenyataan kami tidak sedarah membuat dadaku semakin bergemuruh.

                                                            *******************

Perjalanan panjang ke daegu membuatku cukup lelah, meskipun aku bersikeras untuk ke rumah hana dulu, jinki oppa justru memaksaku untuk ikut dengannya ke penginapan dengan alasan sudah sore dan aku butuh istirahat. Dan well dia benar, aku kagum dengan namja ini, selalu bertindak dengan bijak, aku suka namja dewasa seperti itu. aigo hyejin dia kan memang sudah dewasa tidak sama seperti aku.

Aku merebahkan tubuhku di kasur yang sangat empuk ini, aku senang memiliki jinki oppa, jika aku pergi dengannya oemma pasti akan mengizinkanku meski kemanapun aku pergi termasuk ke daegu seperti sekarang. jinki oppa, kenapa aku selalu memikirkannya? Aku rasa otakku sudah bergeser dari posisi awalnya hingga aku berfikir terlalu berlebihan tentangnya.

Hana, aku membawa hampir seluruh surat yang hana berikan padaku, aku juga membawa alat menggambarku entah untuk alasan apa. Aku membaca ulang semua surat yang hana kirimkan padaku. air mataku mengalir pelan menetes membasahi surat yang tengah kubaca. Aku sangat merindukan hana sekarang, aku juga sangat mengkhawatirkannya. Aku tidak tahu mengapa, tapi firasatku sangat buruk. Hana, semoga kau baik-baik saja.

Aku keluar dari kamarku, usahaku untuk tidur gagal total. Sebenarnya aku memang sangat lelah tapi mata ini tak kunjung mau terpejam. Aku duduk di sofa merebahkan tubuhku menyandar pada sofa yang terasa begitu lembut.

Jinki: kau tidak bisa tidur?

Aku terkejut saat mendengar suara jinki oppa dan ia yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.

Hyejin: perasaanku tidak enak…

Jinki: ckckckckckckckck

Hyejin: waeo?

Jinki: hal apa yang membuatmu seperti itu?

Hyejin: molla….

Hening sejenak

Hyejin: oppa… bagaimana jika kita tidak menemukan hana?

Jinki: apa ia begitu berharga untukmu?

Hyejin: tentu saja, ia satu-satunya yang kumiliki, satu-satunya yang sangat kusayangi, satu-satunya yang mengerti aku dan satu-satunya yang selalu aku fikirkan.

Jinki: lalu bagaimana dengan keluargamu?

Hyejin: mereka itu berbeda oppa, aku memang menyayangi orangtuaku tapi hana, dia adalah segalanya untukku. Meskipun appa dan oemma menyayangiku dan begitupun sebaliknya, mereka tidak bisa mengerti aku seperti hana, tidak bisa menyayangiku seperti hana, aku juga tidak bisa menyayangi mereka seperti aku menyayangi hana.

Aku mulai emosi pada jinki oppa, aku tidak mau merusak suasana yang sudah mulai tidak baik ini, lalu aku putuskan berdiri dan kembali ke kamarku, namun saat aku baru saja akan berdiri

Jinki: lalu bagaimana dengan aku? seperti apa kau menganggapku? Tidak bisakah aku juga seperti hana bagimu?

Aku berbalik menatapnya, apa maksud dari semua perkataan itu?

Jinki: sudahlah, kau sedang tidak stabil,sebaiknya sekarang kau tidur.

Ia berjalan melewatiku menuju kamarnya meninggalkan aku dengan sejuta pertanyaan berkelebat diotakku. Aku mengerti maksudnya, tapi aku berharap aku tidak mengerti itu semua. Aku berharap apa yang aku fikirkan salah, dan aku berharap ia mengatakan itu karena ia adalah oppaku, karena dia adalah sepupuku dan karena kami adalah saudara.

                                                            ********

Keesokan harinya kami langsung menuju alamat rumah hana, saat sampai di sana rumah tersebut terlihat hangus. Rumah itu sangat besar dan sudah terbakar hampir diseluruh bagiannya. Aku menutup mulutku tidak percaya, hampir saja aku terjatuh ke tanah, beruntung jinki oppa langsung menangkapku. Aku menatapnya, mataku kabur, pandanganku digenangi cairan bening air mataku. Aku mulai menangis sesegukkan.

“hana apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa seperti ini?”

Kami duduk di depan rumah tersebut, aku masih memandangi rumah yang hangus itu. rumah itu sangat besar, sama persis seperti yang hana ceritakan. Ia selalu bilang, rumahnya sangat besar, memiliki halaman yang luas dan sebuah kolam berenang. Rumahnya berwarna coklat tua dengan bentuk yang unik, ia selalu bilang rumahnya adalah rumah terindah. Tapi sekarang yang aku lihat hanyalah sebuah gedung yang sudah tak jelas bentuknya dan sudah terbakar.

Saat aku masih termenung memikirkan hana, seorang lelaki tua menghampiri kami. Jinki oppa melepaskan aku dari pelukannya. Ya, ia memelukku, ia selalu memelukku saat aku menangis atau saat aku sedang sedih.

Lelaki tua itu terus memandangiku dan membandingkanku dengan sebuah kertas yang kuyakini adalah foto.

Pak tua: apa kau hyejin?

Aku sedikit terkejut karena ia mengetahui namaku, sontak aku langsung berdiri dan menghampirinya.

Hyejin: kau mengenalku? Dimana hana? Apa kau mengetahui keberadaannya? Apa yang terjadi padanya?

Pak tua: aku sudah menunggumu sangat lama.

Hyejin: Ne?????????

Pak tua: hana bilang kau pasti akan datang mencarinya karena kau sangat menyayanginya, ternyata dia memang benar.

Hyejin: di mana hana?

Pak tua: kemarilah…

Aku mengikuti lelaki itu, ia membawa kami ke rumah yang ada di sebelah rumah terbakar itu yang aku yakini adalah rumahnya. Kami duduk di beranda rumah tersebut bersama sang kakek.

Pak tua: Satu tahun yang lalu rumah tersebut terbakar karena hana yang melakukannya. Ia tidak dihukum karena saat itu ia masih di bawah umur dan mengalami depresi. Ia pergi entah kemana, namun sebelum ia pergi ia memberikan ini padaku memintaku memberikannya padamu.

Hyejin: bagaimana bisa hana melakukannya? ia bukan orang seperti itu…

Pak tua: aku juga tidak percaya dia melakukannya, saat ditanya ia hanya menjawab. “ini yang terbaik untuk semuanya”.

Hyejin: andwe… hana tidak seperti itu, ia pasti punya alasan.

Kemudian lelaki tua itu mengeluarkan sebuak kotak padaku.

Pak tua: ini, ia menitipkan ini untukmu.

Aku mengambil kotak itu, membawanya bersamaku setelah berpamitan dengan lelaki tua tadi. Jinki oppa membawaku ke sebuah danau dan kami duduk di tepinya. Aku melihat kotak itu, ukurannya tidak terlalu besar dan terkunci. Aku yakin lelaki tua itu belum pernah membukanya karena kombinasi kuncinya yang tidak diberitahu oleh hana. Kakek tadi bilang aku akan dengan mudah menebaknya.

Jinki: apa kau tahu apa kombinasinya?

Hyejin: aku akan mencobanya….

Aku mencoba memakai nama hana tapi tidak berhasil, kemudian namaku tapi juga tidak berhasil. Aku berfikir keras mencoba mengingat apa yang mungkin menjadi sandinya…

“jinha”

Cklek…

Kotak itu terbuka.

Jinki: jinha? Siapa itu jinha?

Hyejin: jin itu dari namaku hyejin dan ha dari nama hana.

Aku membuka kotak itu, didalamnya aku menemukan fotoku dan hana dulu yang sempat kami ambil saat masih di asrama. Aku tersenyum memandangi foto kami, di sana aku dan hana tertawa lepas dan kami saling berpelukan.

Jinki: apa ini hana?

Hyejin: ne… bukankah dia sangat cantik?

Jinki oppa hanya tersenyum.

Aku melihat sebuah amplop,ini surat untukku karena tertulis alamat rumahku disana. Aku membuka suratnya dan mulai membaca

My dear hyejin

Hyejin, aku tidak tahu kapan surat ini akan sampai padamu tapi aku yakin kau akan menerimanya meski kau tidak akan menemukannya di kotak suratmu. Hyejina… ini adalah surat terakhirku untukmu, mian aku tidak bisa mengirimnya padamu aku tidak mau merusak kebahagiaanmu.

Hyejina, ternyata hidup tidak semudah yang selama ini kita hayalkan, hidup begitu sulit, pahit dan menyakitkan.

Hyejin, aku sangat merindukanmu, kkekekekekke aku sudah katakan hal ini disetiap suratku padamu, tapi hyejin kali ini aku benar-benar merindukanmu. Aku sangat merindukan saat dulu kau membuatku kesal, saat dulu kita sering diperlakukan tak sepantasnya, saat dulu kita menderita, tapi bagiku itu jauh lebih baik dari yang sekarang.

Hyejin, aku masih belum beruntung sepertinya, hidupku masih sial dan mungkin akan selalu sial, aku tidak mau kau juga ikut sial denganku jadi kuputuskan melewatinya sendiri.

Mianhae hyejin aku tidak bisa menepati janjiku padamu, tapi hyejin kau akan tetap jadi sahabatku, saudaraku karena hanya kau yang aku miliki.

Hyejin aku sangat menyayangimu melebihi apapun, semoga kita bisa bertemu dilain waktu, semoga di saat itu kau sudah sukses dan mencapai segala keinginanmu. Berjanjilah kau akan mendapatkan segala cinta-citamu agar perngorbananku tidak sia-sia…

 

Your dear love bestfriend

 

hana

 

Kemudian aku melihat sebuah buku, diari, bentuknya seperti diari. Apa ini milik hana?

Aku mengambil diari itu, membukanya perlahan

 

My diary

Ini adalah keluarga baruku aku sangat menyukainya, tapi aku sangat merindukan hyejinku L

Aku membaca semua isi diarinya dan sebagian besar juga ia tuliskan dalam suratnya. Hanya saja ada hal-hal tentang aku yang tidak ia sebutkan dalam suratnya tertulis di sini. Semua hal tentang diriku yang sangat ia sayangi dan hanya aku yang ia miliki.

Sampai akhirnya aku tiba di halaman yang kosong. Beberapa halaman itu kosong sampai aku menemukan halaman bertuliskan lagi.

My diary, maaf belakangan aku tidak menulismu lagi. kau tahu, aku juga tidak mengirim surat lagi pada hyejin. Kenapa?

Oemma meninggal seminggu yang lalu karena kanker serviks yang dideritanya, aku tidak pernah tahu ia menderita penyakit itu bahkan appa pun tak tahu. Semuanya terungkap saat oemma meniggal seminggu yang lalu. Aku sangat merindukan oemmaku, meskipun kami tidak melewati waktu yang begitu panjang, tapi waktu itu terasa begitu berarti bagiku.

Hyejin mengirimkan surat padaku dan ia bilang ia sudah memiliki keluarga sekarang. kim hyejin sekarang sudah menjadi Lee hyejin. Ia sangat bahagia, begitulah yang ia katakan, dan ia ingin bertemu denganku. Aku sangat merindukannya dan sangat membutuhkannya sekarang, tapi aku tidak mau merusak kebahagiaannya yang baru seumur jagung.

Hyejin, semoga kau bisa lebih beruntung dari pada aku.

 

My diary

Hari ini appa pulang dalam keadaan mabuk, belakangan ia terlihat sangat kacau, mungkin karena kepergian oemma.

Aku membantu appa masuk kerumah dan mengantarkannya ke kamarnya, tapi saat aku pergi appa menarikku. Ia bilang, ia sudah merawatku dan aku harus membayarnya. Aku tidak mengerti awalnya, tapi kemudian appa mulai menyentuhku. Aku berusaha berontak namun ia terlalu kuat. Aku terus berusaha melawan dan melawan, tapi aku tidak berdaya.

Appa melakukananya padaku…

Sakit, rasanya sangat sakit. Apa yang harus aku lakukan? aku sudah tidak berguna lagi sekarang.

Hyejin, aku ingin sekali memberitahunya, aku yakin ia akan datang menolongku. Tapi aku tidak ingin menyusahkan hyejin, aku tidak mau ia kembali menderita hanya karena aku.

Hyejin… aku sangat membutuhkanmu sekarang…

my diary

appa melakukannya lagi, aku sudah tidak sanggup . ia melakukannya setiap hari, rasanya sangat sakit . apa yang harus aku lakukan? aku tidak mau hidup seperti ini terus menerus…

aku ingin mengakhiri semuanya, aku ingin appa berhenti dan tidak pernah melakukannya lagi.

 

my diary

hari ini aku membantah appa dan memintanya tidak melakukan hal itu lagi. tapi ia memukulku dan menyiksaku. Aku bisa rasakan luka di seluruh tubuhku.

Dulu aku selalu mengobati hyejin jika ia terluka, tapi sekarang aku sangat terluka dan hatiku sangat perih.

My diary, aku akan mengakhiri semuanya. Aku akan mengirim appa kepada oemma agar ia bisa bertemu oemma dan tidak melakukannya lagi padaku.

 

Aku memeluk erat diari itu, hana, hanaku yang malang. Kenapa aku begitu terlambat? Kenapa ia masih seperti itu? kenapa ia begitu bodoh? Kenapa ia merahasiakan hal ini padaku?

“hana…”

Aku memanggilnya, kenapa ia tidak datang? Hana, dimana dia sekarang? seperti apa hidupnya? Kenapa semua ini harus terjadi padanya? kenapa waktu itu aku tidak memaksanya tinggal denganku di asrama? Kenapa aku membantah keputusannya untuk tidak diadopsi?kenapa aku malah diam saja saat aku tidak lagi menerima suratnya? Kenapa aku sangat bodoh? Aku melupakan hana padahal ia sangat membutuhkanku.

Hyejin: hana… chalmontaesoyo… chalmontaesoyo…

Aku meratap memeluk diari hana yang mulai basah karena air mataku,

Hyejin; hana chalmontaesoyo, chalmontaesoyo, chalmontaesoyo… jhebal dorawa…

Dadaku sesak, rasanya sangat sakit tidak pernah sesakit ini. aku merasa nafasku begitu sulit dan dadaku begitu sempit. Otakku dipenuhi segala hal tentang hana, hana aku sangat menyesal…

Kemudian kurasakan jinki oppa memelukku, aku melepaskan tubuhku darinya. Berjalan menuju danau dan terus berjalan ketengah danau. Aku tidak menghiraukan jinki oppa yang terus memanggilku. Aku terus berjalan hingga kurasakan air danau sudah mencapai dadaku…

Hyejin: hanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……………

Aku berteriak keras memanggil hana berharap ia akan datang atau muncul dihadapanku dan menyahutku. Tapi aku tidak mendapatkan apapun…

Kuteruskan langkahku menuju tengah danau, saat air sudah mencapai leherku kurasakan jinki oppa menarikku.

Jinki: apa yang kau lakukan????

Hyejin: apa yang aku lakukan? kau masih Tanya apa yang aku lakukan? aku sudah membuat hana menderita! Apa kau tidak tahu? Dia diperkosa appanya sendiri! Apa kau tahu betapa ia sangat menjaga dirinya? Apa kau tahu ia ingin sekali mencapai cita-citanya? Apa kau tahu betapa menderitanya dia? Ini semua salahku! Seharusnya aku melarangnya saat dia akan diadopsi, seharusnya aku mencarinya saat ia tidak lagi mengirimkan surat padaku! aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……………

Aku berteriak frustasi mengacak rambutku dengan tanganku yang sudah sepenuhnya basah.

Jinki: kau fikir hana suka melihatmu seperti ini? kau ingin pengorbanannya sia-sia? Jika kau tidak ingin menyesal, maka kau harus menepati janjimu. Jadilah seorang pelukis handal seperti yang kau cita-citakan, seperti yang hana harapkan agar kau tidak membuatnya kecewa.

Aku terdiam mendengarkan perkataan jinki oppa, dia benar, semua yang dikatakannya benar.

Kemudian aku merasakan ia mulai membawaku ketepi danau dan kembali ke penginapan.

                                                            **********************

Aku duduk bersandar ke ranjangku memandangi fotoku bersama hana dulu, apakah ia masih bisa tertawa seperti itu sekarang?

Tes…

Air mataku menetes mengenai foto itu, bergegas aku menghapusnya, aku tidak boleh merusaknya. Tak lama kemudian jinki oppa masuk dengan sebuah nampan berisi teh. Kemudian ia duduk di sebelahku menyerahkan secangkir teh itu padaku.

Jinki: minumlah, kau akan merasa lebih baik.

Aku mengikuti instruksinya, kami minum teh dalam keadaan diam, aku masih terlalu kalut untuk berbicara. Aku meletakkan cangkir tersebut setelah menghabiskannya, begitupun jinki oppa. Kemudian kurasakan tangannya menarik tubuhku dalam pelukkannya.

                                                            *************************

 

Chapter · Romance · SHINee

Try to Catch Onew part 5 (end)

 

 

Author: Lee mincha

Cast: Choi hyejin, Onew, minho, key, jonghyun, taemin, jung rim, kai, menejer and many others

Length: sequel

Genre: romance

Rating: general

Summary: aku kembali ke korea untuk mengejar kembali onew oppaku. Hyejin hwaiting^^

Sorry for typo ya readers, dan yang pasti mohon maaf atas segala kesalahan tata bahasan #bow

 

hyejin pov

aku dan kai duduk di sofa dan kami sibuk mengobrol, aku tidak pernah seringan ini setelah masalah dengan onew oppa, bagaimana dia sekarang?? semoga dia baik-baik saja. dia masih memiliki istrinya bukan?

kai: jadi bagaimana dengan misimu?

hyejin: aku menyerah kai…

kai: aku sudah dengar semuanya dari oemmamu.

hyejin: ternyata lebih sulit dari yang di bayangkan.

kai: ikutkah denganku… ikutlah denganku ke jepang, kita akan menjalani hidup kita di sana. kau bisa mulai semuanya lagi.

kemudian kai mengeluarkan sebuah kotak berbentuk hati dan sebuah cincin tersemat di sana.

hyejin: kai…

kai: aku tidak akan memaksamu, kau berhak memilih.

hyejin: aku lelah terlalu berharap, seharusnya aku tidak meninggalkanmu.

kai: kau menerimaku?

aku mengangguk dan kai terlihat sangat bahagia memasangkan cincinya di jemariku. Oemma akan sangat senang mendengar berita ini. Aku menerima kai begitu saja bukanlah sebuah hal mudah, apa lagi yang bisa aku harapkan? aku tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya. meskipun aku tidak mencintai kai, aku bisa hidup baik dan dia selalu bisa membuatku bahagia dengan caranya sendiri. Aku sudah lelah tentang onew oppa, mulai sekarang aku tidak akan peduli lagi. semuanya berakhir.

author pov

taemin dan minho terkejut bukan main saat melihat seorang namja keluar dari apartemen hyejin, tanpa fikir panjang mereka langsung menghampirinya.

minho: chogiyoo… apa yang kau lakukan di apartemen ini?

kai: ah… kebetulan sekali, aku juga mau menyapa kalian.

taemin: kau siapa?

kai: aku kai, kekasihnya hyejin.

minho: kekasih? apa kau bercanda?

kai: sepertinya hyejin tidak pernah cerita tentang aku sementara ia selalu menelfonku dan menceritakan kalian. ckckckckckckck kejam sekali.

taemin: kau benar-benar kekasih hyejin???

kai mengangguk.

kai: kalian tidak percaya?

cklek…

seketika pintu apartemen hyejin terbuka

hyejin: kenapa kau sangat lama aku-

minho: hyejin…

hyejin: oppa…

taemin: apa benar namja ini kekasihmu?

hyejin mengangguk.

kai: aku sempat putus saat hyejin kembali ke korea, aku bersyukur dia mau menerimaku lagi sekarang.

minho: hyejin, kita perlu bicara.

hyejin: tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, semuanya sudah jelas, dan aku menyerah.

taemin: tapi ini sangat penting.

hyejin: yasudah, bicarakan di sini saja.

minho : onew hyung, dia sudah bercerai.

hyejin: ne?

minho: a rheum bukanlah anak kandung onew hyung, dia adalah anak dari menejer kami.

hyejin: bagaimana bisa? ini gila.

minho: bisakah kita bicara di dalam?

kemudian mereka masuk dan minho mulai bercerita di saksikan hyejin,taemin dan kai. hyejin terlihat shock setelah mendengar cerita minho, tapi ia berusaha tetap tenang.

minho: hyung, dia sangat kacau sekarang.

hyejin: lalu apa lagi? semuanya sudah berakhir, aku sudah bertunangan dengan kai.

taemin: mwo? tidakkah itu sedikit terburu-buru?

hyejin: aku sudah berpacaran dengan kai sangat lama, dan oemma sangat setuju.

minho: tidak bisakah kau bicara dengan onew hyung? sekali saja? setidaknya, jika memang kau akan meninggalkannya lagi, kau harus memberitahu dia.

hyejin: baiklah…

                                                                        ********************

hyejin pov

aku membuka pelan pintu kamar onew oppa di dorm, semua orang sedang pergi, hanya dia yang masih di dorm. Aku melihat namja itu termenung menatap jendelanya. Sudah tidak ada lagi cincin di jarinya, seandainya dia tahu betapa leganya aku akan hal itu.

hyejin: oppa…

aku menyapanya, berusaha senormal mungkin dan berjalan mendekatinya.

onew: hyejina…

wajahnya berbinar saat ia melihatku, dan ia langsung memelukku. Oh tuhan… tidak lagi. aku ingin bebas dari namja ini, aku sudah lelah dengan semuanya. ia melepaskan pelukannya dan menatapku.

onew: aku fikir kau tidak akan menemuiku lagi.

hyejin: ya, setelah ini.

onew: wae? aku sudah bercerai, aku sudah sendiri. Aku bahkan bukan ayah dari a rheum.

hyejin: aku sudah bertunangan dengan kai.

onew: kai?

hyejin: dia kekasihku saat aku di Indonesia.

onew: tapi…

hyejin: semuanya sudah terlambat. oppa semuanya sudah berakhir. Aku mohon, carilah yeoja yang bisa kau cintai, dan hidup bahagialah dengannya, jangan menungguku lagi.

ia diam dan menatapku nanar, wajahnya semakin pucat dan

tes…

air mata mengalir di pipinya, oh tuhan aku tidak ingin menangis.

onew: aku hanya bisa mencintaimu, aku hanya bisa bahagia denganmu.

hyejin: aku mohon, lupakan aku.

onew: kau pergi.. lagi…

oh tidak, jangan menangis aku mohon.

hyejin: aku mohon.

aku mendekat dan menjangkau wajahnya.

chu~

Hyejin: aku pernah sangat mencintaimu, percayalah…

                                                            *********************************

hyejin pov

aku terus menggenggam tangan kai, aku juga tidak tahu kenapa tapi aku benar-benar takut. Aku takut jika aku memilih keputusan yang salah lagi. kami duduk di bandara menunggu keberangkatan pesawat menuju Jepang. Aku memeluk lengan Kai erat dan hampir menangis.

kai: hyejina…

hyejin: hm…

kai: kuenchana?

hyejin: ne…

aku berusaha tersenyum pada kai, kemudian ia menangkap kedua pipiku dan menatap dalam ke mataku.

kai : kai tidak baik-baik saja.

ia melepaskan tangannya kemudian menggenggam lembut kedua tanganku.

kai: aku sangat mencintaimu hyejin, sangat mencintaimu. Tapi aku tidak mau kau seperti ini terus, meskipun kau terus memaksakan dirimu,kau tidak akan bisa mencintaiku.

hyejin: kai…

kai: pergilah, pergilah bersama onew hyung, dia sudah berkorban banyak untukmu.

hyejin: tapi kau-

kai: aku akan baik-baik saja setelah melihat kau bahagaia, berjanjilah padaku kau akan bahagia.

kai meraih jariku yang ia pasangkan cincin waktu itu, cincin pertunangan kami. Perlahan ia melepaskan cincin itu.

hyejin: tapi kai…

kai: jangan berbohong lagi, aku tidak suka itu. Sekarang pergilah menemui namja itu, katakan padanya, aku akan sangat berterima kasih padanya jika ia membahagiakanmu, dan aku akan menjemputmu jika ia tidak melakukan itu. arrachi?

aku memeluk kai sangat erat, di mana lagi ada orang seperti ini?

kai: aku mencintaimu.

cup~

kai mengecup lembut dahiku.

hyejin: terima kasih kai. berjanjilah kau juga akan hidup bahagia, jika kau tidak bahagia, aku tidak akan pernah memaafkanmu.

ia tersenyum kemudian menyimpan cincin itu di sakunya.

kai: mungkin ini milik yeoja lain.

aku terkekeh pelan kemudian berdiri.

kai: sampai jumpa lagi. Aku akan mengurus oemmamu.

aku mengangguk kemudian menyeret koperku kembali ke apartemen.

                                                *********************************

hyejin pov

aku melihat member SHINee di depan pintu apartemenku, tapi tidak ada onew oppa di sana. Mereka terlihat sedih, oh dear oppadeulku tersayang.

aku berjalan mendekati mereka,

hyejin: oppa!!!!!!!

aku menghambur ke dalam pelukan minho oppa dan aku sangat bahagia untuk hal itu.

minho: neo?? kai??

hyejin : kai dan aku batal, yah… mungkin aku akan tinggal di sini dan mengejar onew oppa lagi.

key: jongmal???aaaaaaaaaaaaaaa…….

kemudian mereka berempat memelukku, aaaaa… aku sangat bahagia!!!

taemin: onew hyung, dia ada di kamarnya, pergilah temui dia sebelum dia gantung diri.

jonghyun: YA! taemin!

aku mengangguk kemudian menyerahkan koperku pada key oppa.

hyejin: tolong di bawa ke dalam.

key: YA!!!!!

aku bergegas menuju dorm SHINee, lebih tepatnya menuju kamar onew oppa. Aku melihat dia sedang tidur dengan kedua tangan merentang . ia terlihat seperti orang yang baru saja jatuh dari ketinggian. I’m sorry oppa.

aku mendekat, apa dia tidur? aku menggoyang-goyangkan tanganku di wajahnya dan matannya terbuka. Ia langsung duduk saat melihatku, wajahnya sangat kusut dan aku yakin setrika tak cukup untuk melicinkannya.

onew: hyejina…

ia menatapku kemudian ia menunduk.

onew: apa kau mau berpamitan?

hyejin: tidak.

onew: tidak???

ia menatapku heran dan aku memperlihatkan jemariku yang tanpa cincin padanya.

onew: kau, tidak jadi dengan kai?

aku mengangguk.

hyejin: ia melepaskanku, dia bilang kau harus membuatku bahagia, jika tidak ia akan datang menjemputku. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…….

aku terkejut bukan main saat tiba-tiba onew oppa menarik tubuhku dan menindihku.

hyejin: oppa, apa yang kau lakukan?

onew: aku tidak akan membiarkanmu lolos kali ini.

hyejin: mwoya?

onew: kita belum selesai dengan ini bukan?

hyejin: YA! kita harus menikah dulu.

onew: kita pasti menikah, tapi aku harus membuat kau benar-benar tidak bisa pergi lagi.

hyejin: apa maksudnya?

key: hyung! buatkan kami keponakan yang lucu!!!

aku mendengarkan suara teriakan key oppa dari luar dan disambut tawa member SHINee lainnya.

onew: kau tenang saja key! aku akan buatkan keponakan yang lucu dan manis seperti oemmanya.

wajahku memerah sempurna.

hyejin: aku harap kau tidak akan lupa tentang apa yang akan kau lakukan.

onew: ini akan jadi kenangan termanis kita.

CHU~