Noona (chapter 9 end)

 

photogrid_1452884052677

 

 

Author: Mincha

Cast: Jeon Jungkook, Lee Hyerim, Kim Seokjin,

Min Yoongi, Kim Hana, Jung Heosok, Park Jimin, Kim Taehyung, etc.

Rate: 17, NC in some part.

Length: Chapter

Genre: romance, friendship

 

 

Haerim pov

Aku tidak terlalu tertarik pada film yang sedang memutar di layar televisi di hadapanku. Jin oppa terlihat asik dengan popcornnya dan matanya sangat fokus pada layar bergerak di depan kami. Aku duduk di antara kedua kakinya bersandar pada tubuhnya yang nyaman. Salah satu tangannya melingkar di tubuhku sementara tangan yang lain sibuk dengan pop cornnya. Otakku masih berfikir dan terus berfikir, Jungkook tidak menghubungiku selama beberapa hari ini, ia tidak menjawab telfonku atau membalas pesanku dan aku merasa ia tiba-tiba menghilang. Aku tak berani datang berkunjung ke rumahnya karena itu akan membuat situasi semakin kacau ditambah lagi sekarang aku sudah kembali bersama Jin oppa. Entahlah aku hanya mengkhawatirkannya dan wow aku bahkan lebih mengkhawatirkannya dari apapun. Aku sudah terbiasa dengan keberadaannya di sekitarku dan saat ia tiba-tiba menghilang segala hal terasa aneh.

Mataku masih menatap Jin oppa yang berada tepat dibelakangku, aku harus sedikit menengadah karena ia masih lebih tinggi meskipun kami dalam posisi duduk. Aku bahagia aku bisa mendapataknnya lagi, bersamanya mengulang semua keindahan yang aku dan dia pernah miliki.

“Aku tahu aku sangat tampan, tapi saat ini kita sedang menonton film”

Aku mengigit bibirku menyadari ia mengetahui aku terus menatapnya sejak tadi. Ia melepaskan pandangannya dari layar Televisi memilih menatapku yang berada tepat di depannya. Tangannya yang sibuk dengan popcorn beralih memeluk tubuhku lebih rapat padanya.

“I Love you”

Dan seketika bibirnya sudah sampai di bibirku mengecupku lembut. Aku tersenyum mendengarkan kalimatnya tapi aku juga tidak mengerti aku bahkan tak sanggup membalas perkataannya, aku lebih tertarik pada bibir penuhnya yang sangat menggoda yang berada tepat di depanku. Aku mengangkat sedikit wajahku agar aku bisa meraih bibirnya dan menciummnya di sana. Posisiku sudah beralih menjadi menghadap padanya dan berada di atas pangkuannya. Tanganku bergerak gelisah di antara rambutnya yang sedikit panjang sementara lengannya dipinggangku menahan tubuhku agar tak menjauh darinya. Ciumanku berubah menjadi lumatan-lumata hebat dan kegiatan ini menjadi semakin intim. Tangannya berpindah menuju pahaku yang terekspos karena gaun tidur yang aku kenakan tidak cukup panjang untuk menutupinya. Aku tidak tahu kenapa setiap aku menginap di tempatnya aku harus memakai pakaian tidur dan terkadang hal itu menjengkelkan, aku lebih suka tidur dengan kaos longgar tanpa bawahan karena itu sangat nyaman.

“Hmmm”

Aku mengerang hebat di dalam mulutnya saat tangannya mencapai pangkal pahaku, menyentuh pinggiran panty yang aku pakai. Bibirnya melepaskan bibirku dan aku merasa kebas di mulutku, bibirnya berpindah menyentuh leherku, menggigit dan menghisapku di sana.

Opppa!!!!”

Aku berteriak saat salah satu jemarinya berhasil memasuki tubuhku tanpa aba-aba. Ia menciumku lagi mencoba menenangkanku sementara jarinya sibuk di bawah sana bergerak masuk dan keluar dengat ritme yang semakin cepat. Aku melepaskan bibirku darinya, terlalu fokus pada dinding-dinding rahimku yang memijat dua jemarinya yang bergerak sangat agresif di dalam sana.

“hah….”

“Opppaaaaa….”

Aku terengah engah setelah pelepasanku menatap ia menjilat tangannya dihadapanku. Ia menggeser sedikit tubuhku agar ia bisa menurunkan celana tidur beserta panty yang ia pakai, ia tidak bicara apapun saat ia mengurut bagian tubuhnya, matanya mengunci tatapanku dan aku merasakan kedua pipiku memerah. Aku tidak bisa menahan rasa maluku memilih mendekatkan wajahku dan menciumnya lagi. pertarungan hebat bibirku dan bibirnya terputus saat aku merasakan ia masuk secara perlahan, Damn it! Aku sudah melakukannya beberapa kali bersama Jungkook tapi kenapa masih sakit? Apa karena aku sudah tidak melakukanya cukup lama?

Aku menggigit bahunya meredam rasa sakit dari otot-otot tubuhku yang meregang dengan hebat karena ukurannya yang sangat besar, fuck! Seharusnya aku tidak dalam posisi seperti ini, aku tidak akan bisa berjalan besok pagi.

“Kau baik-baik saja?”

Ia sudah masuk sempurna dan aku merasa sangat penuh. Aku terengah-engah di lehernya dengan dahiku yang berkerut.

“Kau sangat sempit”

Dan kau sangat besar! Shit! Aku merasa sebaiknya tidak melanjutkan ini, tapi aku sudah sejauh ini. Aku merasa terobek olehnya.

Ia menunggu sampai aku kembali tenang, kemudian mengangkat tubuhku untuk kembali ia hentakan ke tubuhnya, bergerak seperti itu terus menerus.

“Hnggg….”

Aku meremas bahunya dengan keras merasakan sensasi luar biasa di dalam perutku saat ia bergerak semakin cepat menaik dan menurunkan tubuhku. Aku tidak tertarik pada hal apapun melainkan pada tubuh kami yang saling bergesekan dengan hebat.

“ahhhh….”

Ia mendesah di telingaku saat ukurannya semakin besar di dalam tubuhku dan aku tahu ia akan segera sampai.

“Haerimmaaaaaa…”

Ia meneriakkan namaku saat ia menaiki puncaknya dan aku harus terus bergerak untuk mencapai puncakku sendiri. Aku tak percaya ia sampai lebih dulu dibandingkan diriku, padahal setiap aku melakukannya dengan Jungkook aku jadi sangat sensitif dan begitu mudah untuk orgasme.

*********

Aku menatap Jin oppa yang terlelap di sebelahku, aku sangat yakin aku begitu bahagia tapi kenapa aku tidak merasa sempurna? Sesuatu hilang dari dalam jantungku seolah aku tidak hidup untuk diriku sendiri. Wajahnya masih seperti dulu, ia masih sama dan aku sudah bersamanya lagi, namun rasanya tak seperti yang aku harapkan. Aku juga heran dengan apa yang terjadi padaku, aku merasa seolah ada lubang besar di dalam hatiku yang tiba-tiba terbentuk. Aku tidak bisa fokus setiap aku bersamanya, otakku selalu berkecamuk oleh banyak fikiran. Tentang masa lalu kami, tentang diriku yang terombang ambing, tentang aku yang ragu pada keputusanku sendiri dan tentang Jungkook. Shit! Anak itu, dimana dia sekarang?

Aku meraih ponselku berharap ia membalas salah satu pesanku tapi nihil aku tidak menemukan apapun. Ingin sekali aku melemparkan ponselku ini merasa jengkel seorang diri.

“Kau sudah bangun?”

Suara serak Jin oppa menarik perhatianku dan aku kembali menyembunyikan tubuhku di dalam selimutnya. Aku bahkan belum kembali ke apartemenku sejak aku keluar dari rumah sakit, ia membawaku tinggal bersamanya karena ia khawatir pada kesehatanku. Wow semuanya terjadi begitu cepat dan aku merasa sedikit canggung.

Aku duduk di meja makan sibuk dengan sarapan yang Jin oppa buatkan untukku, ia sangat memanjakanku tidak membiarkan aku mengerjakan apapun dan hal itu sedikit membosankan.

“Hari ini aku harus ke Mokpo, mungkin aku baru kembali besok atau lusa. Apa kau mau ikut denganku?”

Biasanya aku akan berteriak kegirangan dan menjawab iya tapi sekarang aku bahkan berfikir dua kali sebelum menyampaikan jawabanku.

“Aku tidak bisa meninggalkan kuliahku”

Done! Aku menolak sebuah tawaran hebat. Ada apa denganku? Kenapa tubuh dan otakku berkerja tidak stabil? Apa aku masih sakit? Ekspresi Jin oppa terlihat berubah, aku tahu ia juga pasti terkejut tapi kemudian ia berusaha tersenyum dan mengajakku membicarakan hal lain.

“Aku akan bawakan oleh-oleh untukmu”

Aku melepaskan sabuk pengaman yang melilit tubuhku saat aku sampai di depan apartemenku bersama Jin oppa.

“Jaga kesehatanmu dengan baik selama aku pergi, aku akan menelfonmu”

Aku mengangguk kemudian bersiap keluar, tapi ia menahan tanganku memaksaku untuk kembali duduk dan menatapnya.

“Ada apa?”

“Kau tahu? Kau sedikit aneh. Apa kau yakin baik-baik saja? kau bisa ikut denganku. Aku akan membantumu mendapatkan izin dari kampus”

Ia sangat mengenalku dan sepertinya ia tahu betapa otakku sedang semberaut saat ini.

“Tidak oppa, aku hanya perlu istirahat”

“Baiklah…”

Ia melepaskan tangannya perlahan, terlihat ragu dengan apa yang ia lakukan. Aku bisa melihat ketakutan di sana dan hal yang ia takutkan adalah hal yang sedang aku fikirkan.

Aku memasuki apartemenku dan terkejut dengan betapa kotornya tempat ini, aku mengganti pakaianku dengan yang lebih nyaman agar proses bersih-bersih ini bisa lebih mudah. Saat aku bersiap membereskan meja depan, seseorang memencet bel memaksa aku bergegas menuju pintu.

“Jungkook?”

Ia sedikit tersenyum kemudian aku membiarkannya masuk dan aku tahu ia terkejut dengan betapa kotornya apartemenku.

“Aku akan membantumu”

Kami bekerja dalam diam, tidak bicara apapun. Aku tidak mengerti bagaimana ia bisa berada di sini sedangkan ia tidak membalas pesanku atau menjawab telfonku. Jujur saja aku merasa sedikit lebih tenang mengetahui ia masih ada di sekitarku.

 

Jungkook pov

Aku membantu noona membereskan barang-barangnya, apartemennya tak pernah seberantakan ini sebelumnya. Aku juga tidak mengerti kenapa aku berakhir di apartemennya padahal semalam aku sudah bertekad tidak akan menemuinya lagi, namun yang ada pagi-pagi sekali aku sudah datang ke tempatnya.

“Dimana Jin hyung?”

“Dia ada perjalanan bisnis ke Mokpo sampai besok”

Aku hanya mengangguk sambil sibuk membantunya membersihkan meja makan yang penuh dengan kotak ramen kosong, tak heran ia berakhir dengan operasi diperutnya, jumlah ramen yang ia makan sudah tidak wajar lagi.

Ia menyerahkan sebotol jus padaku setelah kami selesai dengan aktifitas beres-beres bahkan aku dan dia sudah mandi. Kami duduk di sofa dalam diam, aku hanya menatap wajahnya yang terlihat sibuk dengan jus yang tengah ia minum. Aku tidak pernah bosan dengan wajah itu.

“Berhentilah menatapku”

Aku menggigit bibirku malu dan memilih menunduk menatap botol jus di tanganku.

“Kau sangat pendiam belakangan ini”

Aku tidak menjawab hanya mengangkat bahuku menandakan aku tak punya kalimat untuk perkataannya. Ia menghembuskan nafas dengan berat kemudian menatapku. Kami duduk di sebuah sofa panjang, aku duduk di salah satu ujungnya dan dia duduk di ujung satunya, jarak yang cukup untuk orang-orang berfikir jika kami tidak saling mengenal.

“Bagaimana nilaimu?”

“Tidak buruk”

Jawabanku membuat ia mengurut tengkuknya, aku tidak tahu bagian mana yang membuat ia menjadi terlihat tidak nyaman, apa karena nilaiku tidak seperti harapannya atau karena jawaban singkatku padanya.

“Aku kira kau tidak akan menemuiku lagi”

Ya aku sudah tidak menemuinya selama seminggu lebih tanpa memberi kabar apapun, aku juga mematikan ponselku.

“Aku hanya berfikir”

“Jangan terlalu banyak berfikir, kau bisa menjadi seperti aku”

Aku terkekeh pelan dan ia tersenyum menatapku, ah aku merindukan senyuman itu.

“Aku sangat berharap bisa menjadi bagian dari dirimu agar aku selalu bisa bersamamu”

Ia diam mendengarkan perkataanku, aku sukses membuat ia terbebani dengan percakapan kami tapi aku juga tidak bisa menahan semuanya seorang diri. Aku tidak bisa menjadi seperti yang aku harapkan, tidaklah mudah membiarkan ia berada di pelukan namja lain. Setiap aku bangun di pagi hari, hal pertama yang aku ingat adalah dia, bagaimana bisa aku menjalani hidupku jika aku harus seperti itu setiap fajar datang? Demi apapun aku sangat menginginkan ia bersamaku. Apa aku bisa mengubah fikirannya atau lebih tepatnya perasaannya? Itulah yang selalu aku ucapkan diotakku. Adakah cara di dunia ini untuk mewujudkan satu permintaan itu? aku terobsesi padanya dan sepertinya sebentar lagi aku akan menjadi gila.

Ia menggeser posisinya menjadi sangat dekat denganku, jemarinya menyentuh wajahku dengan lembut kemudian berpindah pada rambutku.

“Kapan kau menghitamkan rambutmu?”

“Dua hari yang lalu”

“kau juga melepas semua tindikanmu”

“Aku sedang mencoba menjadi dewasa”

Alisnya berkerut menandakan ia tidak bisa menghubungkan kalimatku.

“Aku ingin menjadi diriku sendiri, menjadi apa yang aku inginkan. Aku tahu kau sudah mempengaruhiku dalam banyak hal, tapi di sana aku menemukan banyak hal pula yang mengajarkanku. Menjadi dewasa bukan tentang menjadi bertambah tua, menjadi dewasa adalah di mana kau tahu siapa dirimu yang sebenarnya, apa yang kau inginkan dan apa yang harus kau lakukan”

“Bagaimana bisa kau berubah dalam waktu yang sangat singkat?”

“Aku tidak berubah dalam waktu yang singkat noona, aku sudah memikirkan ini jauh sebelum kau mengetahuinya”

Ia menyentuh pipiku, mengusapnya dengan salah satu jempolnya. Mata itu menatapku dengan lembut dan aku merindukannya. Aku begitu menyukai momen seperti ini bersamanya, momen yang jika aku bisa akan aku masukkan ke dalam mimpiku.

Tangannya masih diwajahku saat bibirku berhasil menyentuh bibirnya, aku tidak menciumnya untuk menunjukkan betapa aku menginginkannya, aku menciummnya agar ia tahu seperti apa perasaanku untuknya. Di dalam otaknya aku mungkin hanya seorang bocah kecil yang tidak mengerti apapun, aku ingin ia merubah persepsi itu. Aku seorang namja meskipun aku lebih muda darinya aku tetaplah seorang namja. Aku ingin di nilai seperti itu…

Bibirnya merekah memerah saat aku melepaskannya. Tangannya masih di leherku dan lenganku masih melingkar ditubuhnya.

“Aku sangat bingung…”

Kalimatnya berhasil membuat jantungku berdegup kencang dan aku tahu aku sedang membuat ia meragukan dirinya sendiri. Tapi aku tak berani membuat kesimpulan untuk hal ini, aku sudah sering membuat kesimpulan untuk banyak hal dan aku selalu berakhir dengan kekecewaan.

“Apa kau mau menginap?”

Tawaran macam apa itu? apa ia lupa pada kekasihnya? Ya mungkin aku saja yang berfikir terlalu jauh, mungkin ia mau aku menemaninya berhubung ia baru saja sembuh.

Aku mengangguk dan ia tersenyum, apa yang ada di dalam fikiran wanita ini? Aku ingin sekali menyelam ke dalamnya untuk mencari tahu semua hal yang selalu aku pertanyakan. Ia sangat membingungkan, sikap dan perkataannya membuat aku menjadi ragu utuk banyak hal.

Aku tidak akan menatap wajah itu lagi setelah ini. Itulah yang saat ini terus berputar di otakku. Aku berbaring di sebelahnya, menikmati menatap wajahnya dengan pemikiranku yang rumit dan aku tahu ia juga sedang berfikir sangat keras melihat dari ekspresinya yang berada di hadapanku. Kami sudah berbaring berhadapan cukup lama namun tak sepatah katapun menguap diantara aku dan dia. Aku sangat sakit mengetahui ia adalah milik Jin hyung dan setelah ini ia akan kembali lagi pada namja itu, tapi aku juga ingin menikmati momen terakhirku bersamanya sebelum akhirnya aku benar-benar akan menghapusnya dari hidupku.

Aku mendekatkan wajahku meraihnya, menyentuh hidungnya dengan hidungku. Aku menyelami matanya yang dalam. Apa cerita ini akan berbeda jika aku menemuinya terlebih dahulu sebelum Jin hyung? Tapi saat hal itu terjadi aku pasti masih dengan seragam sekolahku dan ia sudah duduk di bangku universitas dan pasti lebih memalukan. Tanganku menyentuh wajahnya dengan lembut, meneliti setiap incinya menyimpannya di dalam memoriku.

“Malam ini saja, lupakan kau adalah kekasih Jin hyung

Ia menutup matanya sejenak seolah berfikir sebelum akhirnya menyatukan jarak antara bibirku dengan bibirnya. Tanganku menarik tubuhnya lebih rapat denganku sementara bibirku sibuk menggerayangi lehernya. Lenguhan-lenguhan halus keluar dari bibirnya membuat adrenalinku semakin memuncak. Aku sudah menahannya sangat lama dan ini akan menjadi proses yang panjang.

“Ahhh….”

Suara itu keluar serentak dari bibirku dan bibirnya saat tanpa sengaja tubuhku menyentuh bagian tubuhnya yang sangat penting. Aku melepaskan semua pakaianku dan mengelarkan dia dari pakaian miliknya, menikmati waktuku menatap tubuh polosnya yang mungkin tak akan bisa aku saksikan lagi. Aku mendekat, mengecup pipinya dengan pelan dan berbisik di telingannya.

“Kau mungkin tidak akan bisa berjalan dengan benar esok hari”

 

Haerim pov

Aku berteriak frustasi saat bibirnya bergerak di antara kedua pahaku, ini gila, aku pasti sudah gila.

“Jungkook!!”

Aku meremas kuat rambutnya saat lidahnya memasuki tubuhku dengan lihat, sementara jemarinya menggesek bagian klitorisku. Shit!!!

Aku hanya butuh waktu yang singkat untuk sampai pada orgasme keduaku. Aku masih mengatur nafasku saat ia mengangkat tubuhku untuk duduk di atas perutnya. Tatapan itu sangat tajam, penuh dengan hasrat yang mendalam, aku bahkan merasakan perutku berkedut hanya dengan menatapnya.

“Ride me baby…”

Suaranya terdengar seksi di telingaku dan kalimatnya membuat aku sudah tidak bisa menahan sabarku.

“akhh…”

Tangannya di kedua pahaku saat aku berhasil menenggelamkan tubuhnya di tubuhku. Aku sibuk meneliti tubuh Jungkook yang berada di bawahku, ia terlihat berbeda dengan rambut hitam itu. obsesiku terhadap rambut membuat aku sering merasa gila.

Aku berpegangan pada dashboard ranjang, mengangkat tubuhku kemudian turun dengan perlahan pada tubuh Jungkook. Erangannya terdengar menggelitik di telingaku setiap aku turun dan menyentak pada tubuhnya. Tangannya berpindah menuju pinggangku, membantuku bergerak lebih cepat karena aku yakin pergerakanku tak akan cukup untukku dan untukknya. Jakunnya naik dan turun saat ia menghempaskan kepalanya kebantal terlalu terlarut dalam kenimatan yang tercipta karena gesekan tubuhku dan tubuhnya.

“Ahhhhhhh….”

Aku berhasil sampai kemudian diikuti oleh Jungkook yang membuat rahimku terasa penuh oleh cairannya yang bercampur dengan milikku.

Aku terjatuh di atas tubuhnya, kepalaku tersandar di dadanya yang lebar dan aku bisa mendengarkan suara debaran jantungnya yang cepat serta deru nafasnya yang sangat keras.

Ia menarik selimut disampingnya dan menyelimuti tubuh polos kami, mengecup puncak kepalaku. Jemarinya bergerak lembut di punggunggku, memberiku rasa tenang membawaku jauh ke alam mimpi.

********

Aku membuka mataku perlahan merasakan matahari yang menusuk kelopak mataku. Aku menemukan Jungkook sudah rapi dan duduk di tepi ranjang mengamati aku yang tadi tertidur. Aku bangun dari posisi berbaringku dan bersandar pada dashboard ranjang, menutup tubuhku dengan selimut.

 

Jungkook pov

“Kau sudah bangun?”

Ia mengangguk dan aku mendekat untuk sebuah morning kiss yang manis dan panjang.

Noona…”

“Hmm?”

“Aku sudah menemukan oemmaku, beliau ada di California. Aku rasa aku akan menyusulnya”

Ia terdiam sangat lama saat aku mengucapkan kalimat itu, aku sudah menahannya sejak semalam dan aku harus menyampaikan hal ini padanya. Aku tidak mau menghilang begitu saja, berpamitan adalah hal yang penting untuk menyelesaikan segala kesalahpahaman.

“California?”

Aku mengangguk.

“Itu sangat jauh. Kapan kau akan pergi?”

“Lusa… aku sudah berpamitan pada yang lain”

Ia masih mencoba mencerna apa yang aku katakan, aku yakin ia sudah bangun sepenuhnya karena saat ini dahinya mengerinyit, ia selalu melakukan itu saat sedang berfikir keras. Hah, aku bahkan semakin mengenalnya dengan baik.

“Kapan akan kembali ke Korea?”

“Mungkin saat liburan berakhir aku akan kembali untuk mengurus kepindahan kuliahku”

Ia menatapku tak berkedip dan aku merasa takut dalam sekejap, bukan karena ia terlihat mengerikan tapi mata itu seolah akan menangis. Ia menggigir bibirnya dengan kuat menahan apa yang akan terjadi dan aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi di sini. Aku tidak mau menajdi namja yang hanya akan membuat hubungannya dengan Jin hyung rusak. Ia tidak pernah bisa menolakku meskipun mulutnya mengatakan sebaliknya.

“Semoga kau bahagia bersama Jin hyung

Aku tidak menunggu jawabannya memilih mengambil jaketku dan bergegas keluar dari apartemennya. Aku berjalan dengan gontai di koridor apartemen yang sepi dan terjatuh ke lantai. Aku tak bisa menahan sakit dan sesak di dalam dadaku, kenapa mencintai bisa menjadi begitu menyakitkan? Bukankah hal ini adalah anugrah tuhan yang paling indah?

 

Haerim pov

Aku menatap kosong makanan yang Jin oppa bawakan untukku. Kalimat Jungkook masih berputar diotakku. Aku ingin menahannya tapi aku tidak siap dengan konsekuensi yang akan aku dapatkan. Aku mulai meragukan perasaanku sendiri dan aku berada pada tahap kebingungan yang tak pernah aku alami sebelumnya.

Jin oppa sibuk menyantap makanannya, ia terlihat lelah dan itu tampak jelas di matanya. Apa aku mencintai namja ini? Pertanyaan itu berteriak di otakku. Aku tidak bisa memilih untuk kehilangan Jin oppa atau Jungkook, aku benci pilihanku.

Otakku berkerja sangat keras memikirkan semua hal, memikirkan tentang aku, Jin oppa dan Jungkook, berputar diantara ketiganya dengan sangat cepat dan rumit.

“Apa yang kau fikirkan?”

Aku menatap Jin oppa saat ia bertanya padaku.

Anyi

Aku bangun dari posisi dudukku bergerak menuju dapur untuk mendapatkan segelas air. Aku tahu Jin oppa menyusulku karena sekarang ia berada di hadapanku meneliti wajahku dengan seksama.

“Apa kau sakit?”

Aku menggeleng dan tak berani menatapnya.

“Haerimaa…Jangan sembunyikan apapun dariku”

Aku diam dan ia terlihat frustasi dengan semua itu, kedua tangannya melipat di dada dan ia bersandar pada kursi makan masih menatapku. Aku mencoba mengumpulkan segala hasil dari pemikiran panjang yang aku lakukan.

“Jungkook akan pindah ke California”

Ia tersenyum simpul kemudian berjalan mendekat.

“Jangan khawatir, kita akan mengunjunginya sesekali jika kau merindukannya”

Ia mengusap pelan kepalaku dan aku masih menatapnya.

Oppa…”

“Tidak, jangan berfikir seperti itu, kau mencintaiku. Kau hanya tidak ingin kehilangannya karena ia selalu berada di sisimu”

Wajahnya terlihat takut dan ia memelukku sangat erat, seolah menjagaku agar aku tidak meninggalkannya. Aku ingin menangis dan merutuki diriku sendiri, menjadi begitu tak teguh pada apa yang aku fikirkan.

Mianhae…”

Ia mengangkat wajahku dengan tangannya, menciumku dengan lembut namun kemudian menjadi sangat agresif dan ia terus memaksa agar aku merapat padanya. Aku mendorong pelan tubuhnya memaksa ia melepaskan diriku darinya. Mata itu menatapku dengan sayu dan aku hancur saat mengetahui ia hampir menangis karenaku.

“Aku akan launching restoran di Gangnam besok malam. Aku akan memperkenalkanmu pada semua orang sebagai kekasihku. Aku akan menunggumu di sana”

Aku tidak menjawab permintaannya hanya menunduk diam.

 

*********

 

Aku berjalan memasuki pub dan semua orang menyapaku, tentu saja aku sudah tidak ke sana selama berminggu-minggu. Aku datang seorang diri dan semua namja mulai melirikku. Aku mengabaikan mereka memilih duduk di salah satu meja kosong, menikmati minuman berharap ia bisa membawaku pergi jauh dari pemikiranku yang berkecamuk.

 

Author pov

Salah seorang pelayan menelfon Yoongi, ia melaporkan tentang keberadaan Haerim di pub. Yoongi sudah membayar orang itu agar ia melaporkan setiap Haerim datang ke pub dan orang yang mendampinginya, ia tak mau kejadian seperti waktu itu terulang lagi.

“Haerim di Pub sendirian”

Taehyun dan Jimin yang tadinya sibuk dengan ponsel mereka menatap Yoongi diikuti Heosok yang duduk di sebelahnya.

“Aku rasa ini ada hubungannya dengan kepergian Jungkook”

Tanpa bicara banyak keempatnya meluncur menuju pub, mencari keberadaan Haerim. Mereka terlihat sangat gusar saat menemukan Haerim yang sudah sangat mabuk duduk di salah satu ruangan VIP. Si pelayan memindahkannya ke sana karena takut orang lain akan mengganggunya.

Noona…”

Sapaan Jimin membuat Haerim membuka sedikit matanya dan tertawa pelan kemudian bertepuk tangan dengan sangat keras.

Daebak! Kalian sudah di sini bahkan sebelum aku menelfon seseorang. Wae? Apa kalian takut aku akan disakiti seseorang. Cih… tidak usah khawatir, aku memang pantas diperlakukan seperti itu. aku sudah menghancurkan banyak orang, membuat mereka berantakan. Aku adalah setan terkutuk milik neraka”

Heosok mendesah berat kemudian melepaskan jaketnya, memasangkan ditubuh Haerim dan membawanya menuju mobil Yoongi. Yoongi dan Jimin duduk di bangku depan sedangkan Haerim duduk di bangku tengah dengan Heosok dan Taehyung di kedua sisinya.

“Aku sangat bahagia saat Jin oppa kembali. Tapi kenapa hidupku justru terasa hambar? Apa aku benar-benar mencintainya? Aku mulai sering mempertanyakan hal itu dan membuat perutku terasa mual”

Kemudian ia menatap Heosok dan memeluk namja itu dengan erat.

“Jin oppa melarangku memelukmu, ia terlalu mengaturku. Kenapa sekarang aku hanya bisa melihat kesalahannya saja?”

Heosok mengusap pelan punggung Haerim mencoba menenangkannya, dia sangat mabuk dan mulai tidak bisa mengendalikan apa yang keluar dari mulutnya.

“Heosokaaaa…. Jungkook meninggalkanku”

Dan Haerim menangis dengan sangat keras dalam ketidaksadarannya.

 

Haerim pov

Aku membuka mataku dengan pelan merasa sakit di bagian kepalaku. Menatap di sekelilingku aku sangat yakin aku berada di studio Yoongi oppa.

“Kau sudah bangun?”

Heosok menghampiriku dengan segelas air dan sebuah pil, aku tak bertanya hanya menelan benda itu.

Heol! Apa kau tidak takut jika yang aku beri itu racun?”

“Kalau itu racun kau tidak akan menyerahkannya secara baik-baik. Babo!”

“Apa kau merasa lebih baik?”

“Perutku sangat mual, aku perlu ke kamar mandi”

Aku berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutku ke dalam toilet, uh aku benci aroma busuk yang keluar dari mulutku bersama semua muntahan itu. Heosok menggosok punggungku. Ia menyerahkan beberapa tisu dan membantu aku kembali berdiri, menyerahkan sikat gigi memaksa aku menyikat gigiku.

“Aish… bau sekali. Berapa banyak kau minum?”

Ia mengibas-ngibaskan tangannya dan bergegas keluar sedangkan aku menatap pantulan diriku di cermin kamar mandi dengan sikat gigi yang menggesek rongga mulutku. Aku benar-benar kacau.

“Dimana yang lain?”

Aku bertanya pada Heosok saat ia membantu mengurut kepalaku yang sakit, tangannya bergerak di kepalaku dengan baik dan membuat rasa sakit di kepalaku berkurang.

“Mereka masih tidur”

Aku tak menjawab lebih tertarik pada tangan Heosok yang berada di kepalaku.

“Kau tidak merindukanku?”

Aku berhasil bertanya padanya. Jujur saja sejak aku menginap di rumah sakit aku jarang sekali berkomunikasi dengan mereka, aku terlalu sibuk dengan Jin oppa.

“Bukankah Jin hyung sudah pulang? Dia mengurusmu lebih baik dari pada aku”

Aku tak berani menatap Heosok, ia mengurusku dengan sangat baik tapi aku bukan gadis kecil yang selalu dimanjakan, aku lebih suka menjadi mandiri dan mengurus semuanya seperti selama ini, bukan diurus.

“Jangan bicara seperti itu. Aku tidak terlalu suka saat hidupku diatur sangat baik. Aku merindukan hidupku yang bebas”

Ia terdiam dan tangannya terlepas dari dahiku. Aku memeluknya sangat erat benar-benar merindukannya.

Noona…”

Taehyung muncul di dekatku dengan memeluk sebuah bantal dan salah satu tangannya menggosok matanya yang mengantuk, ah dia sangat manis.

“Taehyunga…”

Ia duduk di sebelahku dan aku langsung memeluknya, tapi ia bahkan tidak meresponku. Heol! Sejak kapan Taehyung tidak menginginkan pelukan dariku?

Wae?”

Aku menatapnya heran, aku percaya Taehyung tidak akan berbohong jadi aku menunggu jawabannya.

Hyung bilang aku tidak boleh terlalu banyak menyentuhmu lagi. Jin hyung sudah kembali”

Bullshit!”

Aku benar-benar sudah naik pitam. Aku benci pada mereka yang terlalu pengecut, atau memang aku saja yang terlalu berlebihan.

“Aku yang mengatur diriku sendiri. Selagi bukan aku yang melarangmu, tidak ada yang bisa mengatur siapapun yang boleh dan tidak boleh menyentuhku!”

Ia mengedip beberapa kali kemudian memelukku dengan sangat erat.

Noona… aku merindukanmu”

Ah… kembali lagi seperti bayi. Aku mengusap pelan punggung Taehyung dan ia hampir tertidur di pelukanku saat Jimin, Yoongi oppa dan Hana muncul.

Ya! Kim Taehyung!”

Jimin meneriaki Taehyung mengusik tidurnya, menarik namja itu menjauh dariku. Aku kesal setengah mati dengan semua perubahan ini.

“Sepertinya kalian tidak menyukaiku lagi”

Kalimatku berhasil membuat semua orang menatapku.

“Kalian tidak memperlakukan aku seperti dulu lagi”

Aku berdiri dan bergegas mengambil tasku bersiap meninggalkan mereka tapi Heosok menahan tanganku memaksa aku kembali duduk di sebelahnya.

“Kami bukannya tidak menyukaimu lagi, hanya mencoba untuk menghormati hubunganmu dengan Jin hyung

Kemudian ponselnya bergetar hebat membuat Heosok melepaskan tanganku.

“Jungkook? Wae?”

Aku menatap Heosok yang berbicara pada Jungkook yang berada di seberang sana, aku tak bisa menahan rasa penasaranku akan keadaan dan keberadaannya. Apa dia benar-benar akan meninggalkanku?

Arraseo. Sampai bertemu di bandara”

Ia kembali menyimpan ponselnya.

“Jungkook akan berangkat siang ini”

Aku diam, tidak berniat bicara pada siapapun memilih menutup diriku pada apa yang sedang aku fikir dan rasakan.

********

Jungkook pov

Aku duduk di ruang tunggu bandara, merasa sangat gugup. Mungkin karena ini perjalanan pertamaku ke California atau karena aku harus menginggalkan negaraku, atau karena aku harus meninggalkan Haerim. Aku masih bertanya pada diriku apa aku benar-benar sanggup untuk berpisah dengannya, tidak melihatnya beberapa hari saja aku sudah sangat gelisah.

Ya aku hanya perlu waktu untuk bisa bergerak dari perasaan ini, aku   tahu hal itu tidak akan mudah tapi ini adalah langkah awal untuk mencoba. Aku sibuk dengan ponselku, menatap fotonya yang aku jadikan wallpaperku, aku tak siap menggantikannya dengan gadis lain. Bagaimana ini?

Selagi aku sibuk dengan pemikiranku, seseorang berdiri di hadapanku memaksa aku mengangkat wajahku dan mencari tahu sosok itu.

Noona…”

Aku dengan refleks langsung berdiri mendapati keberadaanya di sini. Ia sangat kacau dengan rambut yang begitu berantakan, wajahnya kusam dan tubuhnya beraroma alkohol yang kuat. Aku yakin ia pergi ke Pub semalam melihat dari pakaiannya.

“Jangan pergi”

Ia juga mengatakan hal itu dulu padaku, seandainya saja aku bisa seperti yang ia inginkan, aku juga tidak mau pergi. Tapi aku sangat lemah, aku tidak akan bisa bertahan untuk menyaksikan kebersamaannya dengan Jin hyung.

“Aku harus pergi. Aku tidak menyangkan kau akan datang ke sini”

“Aku sudah pernah di tinggalkan dan aku benci itu. Aku menjadi pendendam dan tidak bisa mengendalikan perasaan dan emosiku sendiri, aku kalap”

“Aku sudah katakan padamu. Aku tidak bisa terus di sini, menyaksikanmu bersama Jin hyung. Aku tahu aku egois karena itu akan lebih baik jika aku pergi. Aku ingin selalu memukulnya setiap bersamamu dan aku tak ingin aku menjadi benar-benar memukulnya”

Ia diam, menatapku dengan kedua matanya yang penuh arti, membicarakan sesuatu yang tak bisa aku dengar.

“Kau tidak akan menyaksikan aku bersama Jin oppa, jadi jangan pergi”

Keningku berkerut tidak paham dengan maksudnya.

“Aku fikir aku masih mencintai Jin oppa, aku fikir dia yang aku butuhkan dan aku inginkan. Tapi aku sadar, aku hanya merasa dendam padanya, merasa sakit saat ia tinggalkan dan begitu bahagia saat ia kembali. Namun bukan itu yang aku butuhkan, yah aku merasa lebih baik saat mengetahui alasannya, tapi aku tidak merasa baik saat bersamanya. Bunga yang sudah layu tidak akan bisa mekar lagi, semua sudah tak sama, meskipun aku bersamanya aku tidak akan bisa merasa seindah dulu lagi. Aku fikir kau sama dengan mereka, Taehyung, Yoongi oppa, Heosok dan Jimin tapi aku salah. Jangan pergi Jungkook, tetaplah di sini bersamaku”

Ia merengek padaku seperti seorang bocah kecil, memegang ujung bajuku dan terisak kecil tak berani menatapku. Aku tahu ia tak pernah bisa teguh pada setiap keputusannya, tapi aku hanya membutuhkan hal ini untuk tetap di sini. Aku tidak akan melepaskan kesempatanku begitu saja.

Aku mengangkat wajahnya dengan kedua tanganku, menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya yang tirus. Aku tidak bicara apapun, lebih tertarik menempelkan bibirku di bibirnya, memeluk tubuhnya padaku.

“Aku tidak akan pergi”

 

Jin pov

Aku menatap kerumunan para tamu yang asik bercengkrama, aku menatap lagi arlojiku dan aku semakin gusar. Apa ia benar-benar tidak akan datang?

Aku tak percaya ia goyah oleh bocah itu, dia bukanlah tipe Haerim, bahkan sangat jauh. Tapi ini semua adalah bagian dari kesalahanku, jika saja aku tidak membiarkan ia terombang –ambing aku mungkin masih memilikinya.

Dia sangat polos dan rapuh, aku sudah merusak semua itu dan membuat ia menjadi seperti sekarang. Apa aku berhak marah saat ia memilih untuk meninggalkanku?

Tapi aku merasa sakit, merasa terabaikan.

“Kim Seokjinshi… kita akan segera memulai launchingnya”

“Tidak usah, aku membatalkan launchingnya. Aku akan kembali ke Italy”

 

-end-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s