BTS · Chapter · NC · Romance

Noona (chapter 8)

photogrid_1452884052677

 

 

 

Author: Mincha

Cast: Jeon Jungkook, Lee Hyerim, Kim Seokjin, Min Yoongi,

Kim Hana, Jung Heosok, Park Jimin, Kim Taehyung, etc.

Rate: 17, NC in some part.

Length: Chapter

Genre: romance, friendship

 

 

Haerim pov

Oemma terlihat panik saat ia sedang bertelefonan dengan seseorang di seberang sana, aku tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan tapi wajahnya terlihat panik. Tepat ketika ia menutup ponselnya Jin oppa masuk dengan tampilan yang lebih segar dibanding kemarin bertanya pada oemmaku apa yang terjadi.

“Istri dari Perdana mentri ingin berkunjung ke butikku”

“Bukankah itu bagus?”

“Aku tidak bisa meninggalkan Haerim begitu saja”

Oemma aku baik-baik saja”

Kemudian wanita itu menatapku dengan iba.

“Kalau kau baik-baik saja, kau tidak berada di rumah sakit Haerim”

Aku menggigit bibirku merasa bersalah dengan penyakitku sendiri. Aku sudah merepotkan semua orang.

“Tidak usah khawatir, aku akan menjaga Haerim di sini. Oemmonie bisa datang lagi ke sini setelah urusan dengan istri perdana mentri selesai. Jika kau menolaknya, ini bisa jadi hal buruk untuk karirmu”

Ia berbicara dengan bijak dan ajaibnya oemmaku terlihat setuju dengan mengangguk-anggukkan kepala. Aku tidak tahu bagaimana hubungan mereka selama di Eropa tapi yang jelas mereka terlihat akrab dan heol aku cemburu.

“okey… aku akan berangkat siang ini. Besok malam aku akan kembali lagi ke Korea. Sayang, oemma pergi dulu”

Beliau mengecup keningku dan bergegas mengambil tasnya dan keluar.

**************

Jungkook pov

Langit malam sudah turun saat aku datang ke rumah sakit, aku membawa sebuket bunga untuk noona berhubung ia tak diizinkan makan sembarangan jadi aku tidak tahu harus membawa apa lagi. hatiku sangat berat saat aku berdiri di depan ruangan tempat noona di rawat, aku masih ragu antara masuk atau membatalkan niatku.

Aku menarik nafas panjang sebelum akhirnya masuk. Aku menemukan noona sedang berbaring di ranjang pasien terlihat asyik dengan ponselnya. Ia menyadari kehadiranku dan meletakkan ponsel itu. Aku menempatkan bunga yang aku bawa diantara barang-barang lain yang dibawa oleh orang-orang yang membesuknya.

Aku tidak berani memulai pembicaraan apapun jadi aku hanya berdiri terdiam menggigit bibirku dengan gugup, aku tak pernah segugup ini sebelumnya. Yeoja itu tersenyum padaku dan ia mengambil posisi duduk, menggeser posisinya dan menepuk tempat disebelahnya mengisyaratkan agar aku duduk di sana. Aku menurut, duduk di sana tak berani menatapnya karena sekarang ia sedang meneliti wajahku. Salah satu tangannya menyentuh pipiku.

“Ini kenapa?”

Ia mengarah pada sedikit lebam di pipiku yang memerah karena aku abaikan.

Namja…”

Jawabanku membuat ia terkekeh dan aku tersenyum. Aku tak percaya ia bisa mencairkan suasana degan mudahnya, secepat matahari mencairkan bekunya es. Ia menjilat salah satu jempolnya dan mengusap bekas lukaku dengan itu seolah bisa membantu proses penyembuhan lukaku. Bagimu ini mungkin terlihat menjijikan, tapi bagiku hal kecil seperti ini sangat manis dan hangat membuat perutku bergerak tak normal. Bersamanya terasa menaiki wahana yang menguji setiap adrenalinmu. Ia selalu seperti ini, bersikap seolah tak pernah terjadi apapun, seolah dunia ini masih sama datarnya seperti kemarin.

Noona aku minta maaf”

“Untuk apa?”

“Untuk semuanya, aku mempersulit posisimu. Aku fikir aku sangat mengenalmu, sangat memahamimu tapi sepertinya aku salah, aku hanya melihat sisi luar saja”

Aku tak berani menatap matanya, menunduk merasa menyesal untuk beberapa hal. Ia tidak mengatakan apapun memilih berbaring di sana menarik nafas dalam dan menatapku dengan kedua matanya yang terlihat lelah.

“Kau sangat pucat noona, apa perutmu masih sakit?”

Aku ikut berbaring di sebelahnya, mencoba membuat diriku merasa nyaman.

“Hah… aku benci rumah sakit tapi aku tidak bisa kabur. Tadinya aku berencana memintamu membawaku kabur, tapi perutku tidak terlalu bersahabat. Bekas operasinya masih sedikit sakit”

Aku sangat mengkhawatirkannya demi apapun.

“Jangan sakit lagi”

Suaraku hampir tidak terdengar, terlihat seolah-olah aku tidak punya seseorang pun di dunia ini lagi selain dia.

Aku ingin sekali memilikinya untukku seorang, membawanya kabur seperti yang tadi ia inginkan. Tapi aku tidak bisa, tak terlalu punya keberanian. Aku melihat Jin hyung yang menjaganya dengan sangat baik dan hari ini mereka terlihat sangat dekat meskipun aku tahu noona masih belum memaafkannya, tapi gerak tubuhnya tidak bisa membohongi apa yang ada di dalam hatinya, ia masih sangat membutuhkan namja itu.

Aku tidak bisa mendeskripsikan perasaanku, sakit sedih dan perih tapi aku tak bisa menjauh.

 

Haerim pov

Aku mengusap lembut rambutnya yang berwarna kemerahan, aku tidak ingat kapan ia mewarnai rambutnya, tapi aku lebih suka rambut hitam legam yang selama ini menghiasi mahkota itu.

Ia melingkarkan lengannya di tubuhku memelukku dan menenggelamkan wajahnya di rambutku. Perlahan aku merasakan isakannya membuat nafasnya tidak teratur dan debaran jantungnya bergerak cepat. Secara tiba-tiba aku merasa sakit, seolah aku adalah alasan terbesar dari tangisannya ini. Aku menyesali banyak hal, aku sudah membawanya sangat jauh dari kehidupannya yang mungkin dulu lebih tenang, Tanpa aku yang mengacaukan hati dan otaknya. Aku memperkenalkannya pada hal-hal yang seharusnya tak perlu ia ketahui. Aku masih ingat sosok namja polos yang menangis seperi bayi karena oemmanya yang meninggalkannya. Aku menariknya menuju kehidupanku. Pub, dunia malam yang gemerlap, minum, aku bahkan membawanya ke ranjangku, ia memiliki tindik di salah satu kupingnya dan rambut berwarna kemerahan, kau tidak akan percaya bagaimana semua perubahan itu aku berikan padanya. Aku menyesal, sekali lagi aku katakan aku menyesal. Seharusnya ia tetap menjadi Jungkook yang polos dan manis, aku menyukai sisi kekanak-kanakannya yang lucu terkadang muncul tanpa ia sadari.

Aku merenggangkan pelukannya di tubuhku, menarik sedikit wajahku agar aku bisa menatapnya, dengan perlahan aku menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya.

“Apa sebaiknya aku pergi?”

Pertanyaannya sukses membuat aku semakin terpuruk. Tidak, aku belum siap kehilangan Jungkook…

“Untuk apa? Apa kau tidak bahagia di sini?”

Ia tersenyum diantara sisa tangisnya.

“Aku sangat bahagia berada di sisimu, tapi aku sakit dengan kenyataan kau tidak mencintaiku sebanyak aku mencintaimu”

“Bukan berarti aku tidak menyayangimu”

Ia menatapku dengan kedua alisnya yang mengerut.

“Aku minta maaf aku tidak bisa mencintaimu seperti yang kau inginkan. Tapi aku sangat menyayangimu seperti aku menyayangi Yoongi oppa, Heosok, Taehyung, Jimin dan Hana. Kalian sama berharganya bagiku. Aku sangat menyayangi kalian demi apapun, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri”

Ia diam, terlihat sibuk dengan pemikirannya yang sangat rumit.

“Apa aku bisa bertahan seperti ini? Bagaima caranya aku melanjutkan hidupku, aku bahkan tidak bisa memilikimu”

Aku menyentuh wajah chubbynya dengan lembut, mencoba menenangkan jiwanya yang sangat gaduh.

“Lalu apa kau sanggup hidup dalam kesendirian? Atau menjauh?”

Ia tak menjawab, setuju dengan apa yang aku katakan. Ia tidak punya siapapun lagi.

“Cobalah untuk seperti Yoongi oppa, Heosok, taehyung dan Jimin. Mereka pernah di posisimu. Aku juga sakit saat aku menyakiti seseorang, tapi aku juga tidak memiliki pilihan. Aku akan tetap menyayangimu, akan tetap memperhatikanmu sebanyak dulu, tidak ada yang akan berubah”

Ia menyentuh wajahku dengan pelan, menikmati menatap wajah polos dan pucatku.

“Apa aku boleh menciummu untuk terakhir kalinya?”

“Berjanjilah kau tidak akan pergi”

Ia berfikir keras dengan perlahan mengangguk.

“Aku akan mencoba”

Dan dalam sekejap ia sudah berhasil mencapai bibirku menciumku dengan lembut. Ciuman Jungkook selalu manis, selalu memabukkan membawaku kabur dari pemikiranku. Aku menyukai fakta ia tidak pernah bisa menahan dirinya dariku, selalu menurut pada apapun permintaanku. Ia hanya perlu menjadi sedikit lebih dewasa untuk bisa menjadi lebih tangguh dan bertahan di sisiku.

“Jangan katakan ini yang terakhir kalinya, aku tidak yakin kau bisa memegang kata-katamu itu”

Ia terkekeh pelan dan aku kembali menemukan Jungkook kecilku.

**********

Aku benar-benar butuh ke kamar mandi, aku tidak mungkin buang air besar di atas tempat tidurku, itu akan sangat memalukan. Aku menatap Jin oppa yang sibuk dengan novelnya, ia masih di sini meskipun aku mengabaikannya 90% karena 10%nya aku sangat senang ia ada di sini.

“Apa kau perlu sesuatu?”

Shit! Ia bisa tahu dengan mudah situasiku, mungkin ia perlu sedikit lebih tak peduli padaku agar ia tak begitu hafal tentang diriku.

Aku menggigit bibirku mencoba menahan rasa tidak nyaman di perutku. Aku tidak buang air besar selama berhari-hari dan aku yakin aku sangat membutuhkan hal itu sekarang, tapi harga diriku masih berusaha untuk bertahan. Ia berjalan mendekat dan meneliti wajahku memeriksa apa aku baik-baik saja.

“Aku hanya perlu ke toilet”

Aku mencoba turun dari ranjang pasien dengan perlahan, namun saat salah satu kakiku menginjak lantai aku merasa ngilu di perutku. Dang! Aku belum bisa berjalan.

“Aku akan membantumu”

Ia mengangkat tubuhku dan aku menarik tiang infus portabel agar benda itu tetap menutrisi tubuhku. Aroma tubuhnya menyeruak ke dalam rongga pernafasanku, masih sama seperti dulu, ia tidak mengganti kolon atau parfumnya, dua kombinasi yang sangat aku hafal.

Aku berusaha berdiri di depan toilet duduk yang ada di hadapanku saat ia menurunkan tubuhku secara perlahan. tapi rasa sakit ini memaksa aku memegang bahunya dengat erat dan ia membantu membuka toilet itu untukku. Aku memilih memindahkan peganganku pada salah satu dinding toilet masih menahan rasa sakit. Aku benar-benar tidak bisa berdiri.

“Kau bisa keluar”

Aku mengistruksikannya tapi ia tidak menurut. Aku mendengar suara nafas berat yang ia hembuskan.

“Kau sangat keras kepala”

Setelah kalimatnya ia mengakat tubuhku membantuku duduk di toilet dan aku hanya menatapnya dengan kosong menyadari aku harus melepaskan celana rumah sakit ini dan pantyku. Aku menggigit bibirku merasa malu saat ia membantu melepaskan kedua celana itu kemudian berdiri berbalik membelakangiku membiarkan aku sibuk dengan urusanku.

Aku merasakan sakit yang luar biasa di perutku saat aku mendorong sampah keluar dari ususku. Aku meremas tanganku dengan kuat dan keringat dingin membasahi wajahku. Aku ingin berteriak dan menangis dengan rasa sakit ini tapi aku hanya diam masih mengepalkan tanganku.

Ia duduk berlutut di sana menatapku, menarik kedua tanganku dan menggenggamnya dengan erat memelukku memberikan rasa tenang. Aku menggigit bahunya meredam rasa sakit yang aku alami dan aku tahu aku menyakitinya.

Setelah urusan di kamar mandi selesai aku hanya terdiam di atas ranjangku merasa bodoh dan malu. Ia tersenyum dan menyerahkah segelas air hangat untuk menenangkan tubuhku dan menghilangkan sedikit rasa sakit.

Noona!!!!”

Suara Taehyung mengisi kekosongan yang selama ini terjadi antara aku dan namja itu. Ia masuk diikuti oleh Jimin, Heosok, Yoongi oppa dan Hana, kemudian aku melihat Jungkook yang membawa banyak sekali barang di kantongnya.

Taehyung dan Jimin bergegas berlari ke arahku dan memelukku dengan hangat, ah aku merindukan mereka.

“Syukurlah kau baik-baik saja”

“Kami membawakan makanan untukmu”

Jeongmal?”

Andwe Taehyunga… Haerim hanya boleh makan bubur”

Aku langsung merasa kesal dengan apa yang ia ucapkan tapi aku benar-benar memang tidak punya pilihan.

“Yes! Berarti jatahmu untukku!”

Heosok berbicara selagi ia sibuk membuka semua kemasan makanan itu.

Hyung!!! Kau curang!”

Kemudian Taehyung bergegas ke tumpukkan makanan itu.

Hyung, apa pergelanganmu masih sakit?”

Dahiku berkerut mendengarkan pertanyaan Jimin dan aku menemukan pergelangan tangan Jin oppa terbalut perban. Aku tidak tahu bagaimana ia mendapatkan cidera itu tapi yang jelas aku tadi meremas tangannya sangat keras saat urusan di toilet tanpa menyadari tangannya dalam keadaan yang tidak baik, ia bahkan menggendong tubuhku.

Jimin bergegas menuju makanannya selagi aku masih tertohok dengan fakta yang baru saja aku dapatkan. Ia hanya tersenyum dan duduk di sana menatap teman-temannya yang sibuk dengan makanan.

Aku menyadari satu hal, satu hal yang selama ini aku lupakan. Bukan hanya aku yang terluka di sini, bukan hanya aku yang sakit dan bukan hanya dia yang membuat keputusan yang salah. Oemma benar, kemarahan hanyalah sesaat dan penyesalan abadi. Aku masih merasakan penyesalan yang sangat mendalam untuk banyak hal, dan amarahku lenyap diantara semua rasa bersalah yang aku rasakan. Sebelumnya aku merasa sangat yakin bahwa ia bertanggung jawab penuh pada semua rasa sakit yang selama ini aku alami, tapi sekarang aku tahu aku yang membuat diriku sendiri semakin sakit, aku yang menjebak perasaanku pada titik yang biru sehingga aku selalu terdiam di dalam lingkarang hitam dan terus menyalahkannya. Saat aku melihatnya, semua rasa rindu itu berubah menjadi menyakitkan dan menusuk sangat dalam mengubur semua akal sehat dan logikaku, aku hanya terpusat pada perasaan sakit dan marah, aku mengabaikan rasa sayang yang selama ini menjadi alasan kenapa aku selalu membencinya. Aku tidak akan menangis berhari-hari saat itu jika aku tidak mencintainya, aku tidak akan merindukannya jika aku tidak mencintainya, aku akan menerima namja lain jika aku tidak mencintainya, dan yang terbesar adalah, aku tidak akan merasa sakit jika aku tidak mencintainya. Aku buta pada fakta bahwa aku mencintainya begitu dalam sehingga hatiku menghitam saat secara tiba-tiba ia menghilang membuat warna duniaku menjadi putih dan abu-abu. Aku mencoba mencari warna lain tapi aku berakhir dengan membuat warna itu mengikuti warnaku yang kelam.

Tes…

Air mataku jatuh tanpa aku sadari dan tetes-tetes berikutnya terus menyusul.

“Haerima”

Ia menyadari tangisku dan aku semakin tak bisa lagi untuk menahan semuanya.

“Kau baik-baik saja? apa perutmu sakit?”

Wajahnya khawatir dan aku menggeleng menjawab pertanyaannya.

Oppa…”

Suaraku serak diantara tangisku dan aku semakin merasa bersalah. Aku tahu ia terkejut dengan apa yang baru saja aku katakan begitupun yang lainnya. Aku tahu mereka bahkan terhenti dari kegiatan makan yang sedang mereka lakukan.

Mianhae…”

Aku berhasil mengucapkannya tapi aku tahu hal itu tidak akan cukup menghapus semua rasa bersalahku dan aku semakin larut di dalam tangisku. Aku bisa mendengar suara tangisku yang keras memenuhi ruangan ini, lebih tepatnya suarang raungan yang sudah tak tertahankan lagi. Aku menangis sejadi-jadinya memegang salah satu tangannya memohon ampun untuk semua kebodohan dan kesalahan yang tidak aku sadari.

Mianhae…”

Dan ia memelukku, menenggelamkan aku di sana memberikan lagi perasaan itu. Rasa aman, kasih sayang dan ketenangan yang selama ini hilang dari kehidupanku.

 

Jungkook pov

Dan ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku tahu noona bekerja sangat keras memegang harga dirinya untuk tidak terlihat lemah di hadapan Jin hyung dan sekarang ia membuang jauh semua omong kosong tersebut. Ia menangis sangat keras di dalam pelukan namja itu dan aku merasa sakit, aku mencoba meyakinkan diriku aku bisa bertahan dengan semua ini. Kau bisa karna terbiasa, aku hanya perlu lebih terbiasa dengan semua ini karena aku yakin di masa depan akan banyak lagi hal yang lebih menyakitkan tentang mereka yang harus aku terima. Aku menatap punggung noona di dalam pelukan namja itu, seharusnya aku yang memeluknya bukan dia, seharusnya aku yang membuat ia merasa nyaman bukan dia. Sebuah fakta mengejutkanku bahwa sebenarnya akulah yang butuh untuk ditenangkan. Aku bergejolak di dalam hatiku dan aku ingin meneriakkan semua itu namun aku berakhir dalam diam tanpa ucapan. Aku berfikir dan terus berfikir, haruskah aku lari? Tapi aku bahkan tak punya keberanian untuk itu. Aku dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama tidak menguntungkan. Pilihan pertama aku bisa pergi sejauh yang aku bisa agar aku tak harus melihat semua ini dan merasa sakit tapi aku akan menerima konsekuensi untuk tidak bisa bersamanya lagi atau bahkan melihatnya, pilihan kedua, aku bisa saja menghajar Jin hyung, mengumpat padanya betapa ia sudah menyakiti noona dan menghancurkan yeoja itu, aku akan membawa noona bersamaku tapi aku harus menerima kenyataan sebesar apapun aku berusaha memilikinya aku tak akan pernah bisa membuat ia mencintaiku. Hah pilihan bodoh macam apa itu?

 

******

Aku membantu noona membereskan barang-barangnya, apartemennya tak pernah seberantakan ini sebelumnya. Aku juga tidak mengerti kenapa aku berakhir di apartemennya padahal semalam aku sudah bertekad tidak akan menemuinya lagi, namun yang ada pagi-pagi sekali aku sudah datang ke tempatnya.

“Dimana Jin hyung?”

“Dia ada perjalanan bisnis ke Mokpo sampai besok”

Aku hanya mengangguk sambil sibuk membantunya membersihkan meja makan yang penuh dengan kotak ramen kosong, tak heran ia berakhir dengan operasi diperutnya, jumlah ramen yang ia makan sudah tidak wajar lagi.

Ia menyerahkan sebotol jus padaku setelah kami selesai dengan aktifitas beres-beres bahkan aku dan dia sudah mandi. Kami duduk di sofa dalam diam, aku hanya menatap wajahnya yang terlihat sibuk dengan jus yang tengah ia minum. Aku tidak pernah bosan dengan wajah itu.

“Berhentilah menatapku”

Aku menggigit bibirku malu dan memilih menunduk menatap botol jus di tanganku.

“Kau sangat pendiam belakangan ini”

Aku tidak menjawab hanya mengangkat bahuku menandakan aku tak punya kalimat untuk perkataannya. Ia menghembuskan nafas dengan berat kemudian menatapku. Kami duduk di sebuah sofa panjang, aku duduk di salah satu ujungnya dan dia duduk di ujung satunya, jarak yang cukup untuk orang-orang berfikir jika kami tidak saling mengenal.

“Bagaimana nilaimu?”

“Tidak buruk”

Jawabanku membuat ia mengurut tengkuknya, aku tidak tahu bagianmana yang membuat ia menjadi terlihat tidak nyaman, apa karena nilaiku tidak seperti harapannya atau karena jawaban singkatku padanya.

“Aku kira kau tidak akan menemuiku lagi”

Ya aku sudah tidak menemuinya selama seminggu lebih tanpa memberi kabar apapun, aku juga mematikan ponselku.

“Aku hanya berfikir”

“Jangan terlalu banyak berfikir, kau bisa menjadi seperti aku”

Aku terkekeh pelan dan ia tersenyum menatapku, ah aku merindukan senyuman itu.

“Aku sangat berharap bisa menjadi bagian dari dirimu agar aku selalu bisa bersamamu”

Ia diam mendengarkan perkataanku, aku sukses membuat ia terbebani dengan percakapan kami tapi aku juga tidak bisa menahan semuanya seorang diri. Aku tidak bisa menjadi seperti yang aku harapkan, tidaklah mudah membiarkan ia berada di pelukan namja lain. Setiap aku bangun di pagi hari, hal pertama yang aku ingat adalah dia, bagaimana bisa aku menjalani hidupku jika aku harus seperti itu setiap fajar datang? Demi apapun aku sangat menginginkan ia bersamaku. Apa aku bisa mengubah fikirannya atau lebih tepatnya perasaannya? Itulah yang selalu aku ucapkan diotakku. Adakah cara di dunia ini untuk mewujudkan satu permintaan itu? aku terobsesi padanya dan sepertinya sebentar lagi aku akan menjadi gila.

Ia menggeser posisinya menjadi sangat dekat denganku, jemarinya menyentuh wajahku dengan lembut kemudian berpindah pada rambutku.

“Kapan kau menghitamkan rambutmu?”

“Dua hari yang lalu”

“kau juga melepas semua tindikanmu”

“Aku sedang mencoba menjadi dewasa”

Alisnya berkerut menandakan ia tidak bisa menghubungkan kalimatku.

“Aku ingin menjadi diriku sendiri, menjadi apa yang aku inginkan. Aku tahu kau sudah mempengaruhiku dalam banyak hal, tapi di sana aku menemukan banyak hal pula yang mengajarkanku. Menjadi dewasa bukan tentang menjadi bertambah tua, menjadi dewasa adalah di mana kau tahu siapa dirimu yang sebenarnya, apa yang kau inginkan dan apa yang harus kau lakukan”

“Bagaimana bisa kau berubah dalam waktu yang sangat singkat?”

“Aku tidak berubah dalam waktu yang singkat noona, aku sudah memikirkan ini jauh sebelum kau mengetahuinya”

Ia menyentuh pipiku, mengusapnya dengan salah satu jempolnya. Mata itu menatapku dengan lembut dan aku merindukannya. Aku begitu menyukai momen seperti ini bersamanya, momen yang jika aku bisa akan aku masukkan ke dalam mimpiku.

Tangannya masih diwajahku saat bibirku berhasil menyentuh bibirnya, aku tidak menciumnya untuk menunjukkan betapa aku menginginkannya, aku menciummnya agar ia tahu seperti apa perasaanku untuknya. Di dalam otaknya aku mungkin hanya seorang bocah kecil yang tidak mengerti apapun, aku ingin ia merubah persepsi itu. Aku seorang namja meskipun aku lebih muda darinya aku tetaplah seorang namja. Aku ingin di nilai seperti itu…

Bibirnya merekah memerah saat aku melepaskannya. Tangannya masih di leherku dan lenganku masih melingkar ditubuhnya.

“Aku sangat bingung…”

Kalimatnya berhasil membuat jantungku berdegup kencang dan aku tahu aku sedang membuat ia meragukan dirinya sendiri.

 

Maaf ya part yang ini agak pendek kekekekekeke

Kira-kira Haerim akan berakhir dengan Jungkook atau Jin???

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s