BTS · Chapter · NC · Romance

Noona (chapter 7)

photogrid_1452884052677

 

Author: Mincha
Cast: Jeon Jungkook, Lee Hyerim, Kim Seokjin, Min Yoongi,

Kim Hana, Jung Heosok, Park Jimin, Kim Taehyung, etc.
Rate: 17, NC in some part.
Length: Chapter
Genre: romance, friendship

Still Flashback
Haerim pov
Aku menatap derasnya hujan yang turun di balik jendela kamar Jin oppa, kejadian sore ini benar-benar membuat semuanya berantakan. Aku dan Jin oppa berakhir di rumahnya setelah kejadian tadi, kami membatalkan semua rencana kencan yang sudah Jin oppa susun dengan baik, moodku benar-benar kacau.
Aku merasakan sepasang lengan memeluk perutku, deru nafasnya menyentuh bahuku. Pantulan bayangan kami di kaca yang ada dihadapanku memaksaku untuk mengalihkan perhatianku padanya.
“Sudahlah, kita akan memperbaiki semuanya lagi. Yoongi dan Hana hanya perlu waktu”
Aku melepaskan tubuhku dan berbalik menatapnya.
“Heosok juga mengatakan hal yang sama”
Kedua matanya membulat menandakan ia cukup terkejut dengan apa yang baru saja aku katakan, namun ia berusaha terlihat tenang kemudian menarikku ke dalam pelukannya.
“Aku minta maaf… aku merusak persahabatan kalian”
“Aku juga merusah persahabatanmu”
Aku menenggelamkan wajahku di dadanya yang hangat mendapatkan kenyamanan yang sangat aku butuhkan.
“Meskipun perang dunia ketiga Pecah, aku akan tetap bersamamu”
Aku mengangkat wajahku, agar aku bisa menatap wajahnya yang rupawan dan kata-katanya yang baru saja berhasil menenangkanku seperti obat bius.
“Kau tahu aku sangat mencintaimu”
Jemarinya memegang wajahku dengan lembut, memaksa mataku untuk menatapnya. Aku menemukan kesungguh-sungguhan dan kejujuran di sana. Bisakah aku menyimpan momen ini di dalam sakuku? Agar saat kapanpun aku merindukannya aku bisa mengeluarkan dan merasakannya lagi.
Bibirnya yang penuh menyentuh bibirku dengan lembut berubah menjadi lumatan-lumatan halus yang memabukku. Tanganku bergerak memeluk lehernya, merasakan sensansi luar biasa menyentuh perutku. Tanganku meremas pelan bahunya saat lidahnya melesat di dalam mulutku bergerak dengan lihai. Aku sering bertanya di dalam otakku apakah ia sering melakukan hal ini, tapi kebodohan mendorongku untuk percaya bahwa saat ini ia adalah milikku, tak peduli apa yang pernah ia lakukan yang penting sekarang, di detik ini ia bersamaku, menjadi milikku.
Punggungku menyentuh ranjang Jin oppa yang empuk dan aku baru menyadari aku sudah tidak memakai bajuku lagi, hanya berbalut Bra dan celana Jeans yang aku kenakan. Aku terdiam saat aku berada di antara kedua kakinya dan ia berdiri berlutut di sana melepaskan sweater biru yang ia kenakan.
Aku tidak pernah melihat namja topless sebelumnya, ini pertama kalinya dan hebatnya aku bahkan tak lari terbirit-birit seperti saat salah seorang namja tukang Bully di sekolahku mencoba memelukku. Hasrat sudah mengalahkan segala ketakutan bodoh itu.
“Kau seperti kupu-kupu, sayangnya orang hanya melihatmu ketika kau sudah menjadi indah dengan sayap yang menawan, mereka mengabaikanmu saat kau masih menjadi ulat kecil yang tidak berdaya”
“Tapi kau di sana saat aku menjadi kepompong”
Kami terkekeh pelan dan ia kembali menciumku dengan panas.
“Kau hanya milikku”

*******
Flashback end

Aku mengurut tengkukku yang sakit, aku sudah duduk berjam-jam di depan laptopku sibuk dengan tugas kuliah yang semakin menumpuk. Aku menatap deretan kotak ramen yang sudah kosong berserakan di sekitarku dan minuman kaleng di mana-mana. Aku bahkan tidak punya niat sedikitpun membersihkan tempat ini, aku tak pernah sejorok ini.
Tidak ada suara lain, hanya jarum jam yang bergerak setiap detiknya mengisi kekosongan di ruangan apartemenku. Ponselku mati setelah ratusan panggilan masuk aku abaikan, pasti sekarang sudah kehabisan batrai. Aku tidak ke pub selama hampir dua minggu dan ini adalah rekor yang luar biasa, aktifitasku dimulai dengan bangun pagi, jika ada kuliah aku akan ke kampus kemudian langsung pulang, sesampainya di apartemen aku akan mengerjakan tugas atau sibuk berselancar di dunia maya mencari hal yang tidak penting.
Aku membuka satu cup ramen lagi dan menyeduhnya dengan air panas, aku tahu aku akan segera masuk rumah sakit jika aku terus memakan benda ini, tapi aku benar-benar tidak ada selera untuk makanan lain. Aku menatap layar laptopku dan terkejut saat menemukan sebuah judul berita di sana
“Kim Seok Jin, Chef Muda Berbakat dan Tampan”
Dengan ragu aku membuka berita itu dan mulai membaca satu persatu isinya paham dengan apa yang di sampaikan oleh si penulis. Jadi dia sudah kembali ke Korea? Membuka restoran sendiri? Sepertinya kau hidup dengan baik tanpa aku, teruslah seperti itu bersama teman-temanmu. Aku tidak akan peduli. Aku menutup laptopku dengan kasar mencoba menetralkan perasaanku yang kembali berkecamuk, melihat namanya saja sudah membuatku naik pitam.
Aku memakai Hoodieku dan berjalan ke luar, aku butuh udara segar untuk paru-paruku yang sesak. Udara malam yang dingin tak menyurutkan langkahku. Otakku tak bisa berhenti berfikir dan ini membuat kepalaku sakit, aku ingin sekali mengeluarkan otakku agar aku bisa hidup dengan tenang.
“Noona…”
Suara itu menarik perhatianku dan aku menemukan Jungkook berdiri beberapa meter dihadapanku. Ia tersenyum dengan lebar dan berlari menghampiriku, rambutnya yang halus bergerak mengikuti angin dan membuat ia terlihat sangat menawan.
“Aku hampir saja akan masuk ke dalam, beruntung aku menemukanmu di sini”
Ia berbicara dengan sumringah, sangat berbeda dengan hari itu di mana aku menghancurkan hatinya berkeping-keping dan dadaku sesak setiap aku mengingat kejadian itu.
“Kau mau ke mana?”
“Tidak ada, hanya ingin menghirup udara segar”
Ia terlihat lelah dengan matanya yang mencekung dan tubuhnya sedikit kurus, apa dia tidak makan dengan baik? Heosok pasti juga sangat kurus sekarang, ia tidak akan makan jika tidak ada yang mengingatkannya, Apa Jimin melewatkan ujiannya? Ia tidak akan datang jika aku tidak membangunkannya di pagi hari, Taehyung, semoga ia tidur dengan baik anak itu terlalu aktif ia tidak akan berhenti jika aku tidak memarahinya, studio Yoongi oppa pasti sangat berantakan sekarang, ia sangat pemalas ia hanya membersihkan studio jika aku datang ke sana. Hana, apa dia makan sembarangan lagi? dia harus menjaga berat badannya untuk kompetisi balet nanti. Shit! Kenapa isi kepalaku hanya mereka semua?
“Noona…”
Jungkook melambaikan tangannya di depan wajahku menarikku dari pemikiranku sendiri.
“Ne?”
Ia mendesah pelan kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya dan menyerahkan kertas itu padaku.
“Mini concert?”
Jungkook mengangguk mantap.
“Aku akan menyanyi dan menari di sana bersama Heosok, Jimin, Yoongi, dan Taehyung hyung. Ini akan jadi penampilan pertamaku. Aku ingin kau datang”
Hatiku berat saat ia menyebutkan deretan nama itu. Apa itu artinya Jin oppa juga akan di sana? Bisa saja tapi mungkin juga tidak.
“Kau akan datang kan?”
“Jungkook ak-“
Wajahnya berubah sedih dan ia menatapku dengan serius.
“Kau bilang aku harus memiliki sebuah hal menyenangkan seperti hobi, dan sekarang aku sedang melakukannya, aku ingin kau juga melihatku. Eomma dan appa pasti tidak akan datang”
Hatiku luluh saat mengingat orang tuanya, anak ini pasti sangat kesepian selama dua minggu ini, aku membiarkan ia sendirian begitu saja.
“Persiapannya tidak banyak, lagipula aku hanya akan menyanyikan dua buah lagu, jika kau tidak datang maka aku juga akan membatalkan penampilanku”
“Jungkook”
Aku menjalankan jemari di rambutku merasa berat dengan keputusan yang aku ambil, aku sudah menghancurkan hatinya apa aku juga akan menghancurkan mimpinya? Well aku hanya perlu datang dan duduk kemudian pulang, ini tidak akan sulit. Jungkook memelas dengan wajahnya yang manis dan merapatkan kedua tangannya memohon padaku.
“Baiklah”
Ia tersenyum lebar memperlihatkan gigi kelincinya yang selalu menjadi daya tarik dari senyum itu.
“Gumawo noona”
Ia menggaruk tengkuknya dengan canggung kemudian menunduk dan berpamitan. Ia tak pernah sesopan ini padaku dan semua itu terasa sedikit aneh. Aku lebih menyukai hubungan yang seperti dulu. Aku memilih mengabaikan semua pemikiran itu dan berbalik kembali menuju apartemenku, aku baru saja mengambil langkah keduaku saat seseorang memelukku dari belakang.
“Jungkook…”
Ia tiba-tiba melepaskan tubuhku dan aku berbalik menatapnya, ia juga terlihat terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan.
“Maafkan aku noona, aku tidak bermaksud”
Aku menghembuskan nafasku berat dan menatapnya sayu, aku melebarkan kedua lenganku menisyaratkan ia boleh memelukku. Ia diam masih mengumpulkan kesimpulan sampai akhirnya ia bergegas menarikku ke dalam pelukkannya, memelukku sangat erat. Aroma tubuhnya menyeruak ke rongga hidungku, sudah lama sekali sejak terakhir aku menghirup aroma tubuh ini.
Aku menyentuh rambutnya yang hitam legam, menjalankan jemariku di sana menikmati rambutnya yang sangat halus. Kedua lengannya ditubuhku dan ia masih memelukku. Aku meneliti wajahnya yang merona, seperti bunga mawar yang baru saja mekar.
Bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut, kedua matanya menutup menikmati apa yang sedang ia lakukan padaku, ini luar biasa, aku tidak menyentuhnya selama hampir dua minggu dan sekarang aku bisa merasakannya lagi. Tanganku yang berada di rambut Jungkook bergerak perlahan menuju tengkuknya, menariknya lebih rapat padaku agar aku bisa merasakannya lebih di bibir dan mulutku. Ia melumat bibirku dengan manis memberikan aku warna yang sempat hilang di dalam hidupku selama beberapa waktu ini.
Aku pasti sudah gila.
**********
Perutku terasa tak begitu nyaman saat aku selesai dari kegiatan berdandan, aku menatap arlojiku, ini sudah jam tujuh aku harus segera pergi jika tidak aku bisa terlambat dan hal itu bisa menjadi buruk untuk Jungkook. Aku terpaksa menaiki taxi karena aku tak sempat mengisi bensin mobilku, selama di taxi aku berusaha keras menahan rasa sakit yang mulai menggerogoti perutku. Apa aku akan datang bulan? Tapi aku baru saja mendapatkannya dua minggu yang lalu, lagi pula rasa sakitnya berbeda. Aku tidak akan sempat jika aku harus ke rumah sakit dulu.
“Aggashi, kau baik-baik saja? wajahmu sangat pucat”
“Aku baik-baik saja”
Aku keluar dari taxi berusaha berjalan sebaik mungkin seperti biasanya, mengabaikan rasa sakit yang menusuk di dalam perutku. Aku hanya perlu berjalan sedikit kemudian duduk, aku akan segera lebih baik. Aku memasuki sebuah hall kecil, dan segera menuju ruangan yang tertera di kertas yang Jungkook berikan untukku. Ruangannya sangat gelap dan aku tidak bisa melihat apapun, kemudian seorang pelayan membantu dan membawaku menuju kursi terdepan. Tak lama setelah aku duduk Yoongi oppa muncul di atas panggung bersama Heosok kemudian Jungkook, Taehyung dan Jimin menyusul. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa kagumku pada penampilan mereka, kapan mereka berlatih? Ini sangat sempurna untuk ukuran waktu latihan yang singkat.
Mereka menghilang dibalik panggung setelah satu jam penampilan yang luar biasa dan beberapa saat kemudian lampu menyala dengan terang dan aku baru menyadari aku adalah satu-satunya penonton di hall ini tidak ada siapapun selain aku dan seseorang di sana dengan Stelannya yang rapi.
Jin oppa…
Hana berjalan di belakannya dan kemudian aku mendengar Taehyung, Jimin, Jungkook, Heosok dan Yoongi oppa turun dari panggung menghampiriku.
“Apa ini?”
Perasaanku berubah drastis menjadi sangat buruk, apa aku ditipu lagi?
Aku memilih berjalan menuju pintu keluar, aku tidak dalam mood untuk bertengkar tapi Jin oppa berdiri tepat di depanku menghentikan pergerakanku.
“Aku ingin pulang”
“Setidaknya dengarkan dulu penjelasanku Haerim…”
Aku benar-benar sakit dengan semua ini, melihatnya saja sudah membuatku hancur.
“Aku tahu aku salah, aku tahu aku pergi tanpa berpamitan denganmu. Seandainya saja aku bisa mengulangnya lagi aku akan memperbaiki semua itu, tapi aku tahu ini tidak mungkin. Perusahaan appaku bangkrut dan kami terlilit hutang yang sangat banyak, kami harus menjual semuanya termasuk rumah dan segalanya. Aku tidak memiliki uang untuk melanjutkan kuliahku, jika aku tidak kuliah aku tidak akan bisa mengankat derajat keluargaku lagi. Aku menemukan beasiswa untuk menjadi seorang Chef ke Italy dan aku berhasil diterima di sana. Aku berangkat ke Italy tanpa memberitahumu, aku takut kau akan khawatir dengan kondisi keluargaku dan aku tidak mau kau menderitak karena harus berjauhan denganku”
Aku menggigit bibirku mencoba menahan tangis yang mulai menyesak di dalam dadaku.
“Jadi kau tidak percaya padaku? Kau fikir aku hanya akan bersamamu di saat kau baik-baik saja? lalu apa artinya waktu yang sudah kita habiskan bersama? Apa arti keberadaanku untukmu? jadi menurutmu pergi begitu saja tanpa memberitahuku tidak membuatku menderita? Ini jauh lebih menyakitkan!”
“Aku takut Haerim, aku takut kau akan meninggalkanku. Aku hanya bisa berusaha sebaik mungkin agar aku bisa segera menamatkan pendidikanku dan pulang, memperbaiki semuanya. Aku bekerja keras siang dan malam, melakukan pekerjaan yang selama ini bahkan tak terlintas di otakku hanya untuk makan. Aku tidak mau kau melihatku menderita seperti itu”
“Apa kau fikir semudah itu untuk memperbaiki semua yang sudah kau lakukan? Apa kau pernah tahu hidup seperti apa yang aku jalani? tidak hanya aku bahkan teman-temanmu. Kami sudah seperti sampah”
Dan aku sudah tidak bisa membendung air mataku lagi.
Ia menatapku dalam wajah bersalahnya dan ia terjatuh di hadapanku, berlutut di depanku.
“Aku mohon maafkan aku, aku tidak bisa melewati lebih banyak waktu lagi tanpamu. Aku mencintaimu melebihi apapun. Aku mengalami hari-hari yang buruk selama aku di Italy tanpa kehadiranmu. Aku ingin sekali menelfonmu hanya untuk mendengarkan suaramu tapi aku terlalu takut, aku takut kau akan khawatir aku takut kau akan menangis. Semuanya sudah kacau karena ulahku dan aku tidak mau hal itu semakin memburuk”
“Kau sudah membuatku menangis, bahkan lebih buruk dari yang pernah kau bayangkan”
Aku menumpahkan segalanya, segalanya di hadapannya dan ia masih berlutut di sana seolah memohon ampun padaku. Rasa sakit ini, rasa benci ini apa bisa hilang semudah yang ia katakan? Aku pernah benar-benar mencintainya, dan aku hancur berkeping-keping. Apa kehadirannya cukup untuk menyatukan kepingan-kepingan itu lagi?
Semuanya sudah terjadi, tidak akan ada yang bisa berubah meskipun ia memohon padaku seperti ini. Bunga yang sudah layu tak akan kembali mekar seperti saat ia merekah pertama kali. Setiap detik yang aku jalani terasa sangat menyakitkan, ia tidak hanya menyakitiku tapi ia juga membuatku menyakiti orang-orang di sekitarku. Aku merasa bodoh saat aku tidak bisa berpaling darinya, aku bahkan memiliki banyak namja yang dengan senang hati menawarkan dirinya untuk bersamaku, tapi aku menolak dan menyakiti mereka dengan cara yang sadis. Aku membenci diriku sendiri, dan semua itu karena dia.
Aku sering berfikir untuk kabur, memulai hidup yang baru dan kembali menjadi si cupu tapi aku juga terlalu takut dengan keputusan itu. Aku terombang-ambing dalam kebingungan, setiap aku bangun di pagi hari aku hanya memiliki rutukkan terhadap diriku sendiri.
“Lakukan sesuka hatimu, aku tidak peduli”
Aku bersiap melangkah namun sesuatu menghentikanku, perasaan bersalah yang tiba-tiba muncul menohok hatiku. Aku berbalik dan menatap Yoongi oppa, Heosok, Jimin, Hana, jungkook dan Taehyung di sana berdiri menatapku dengan expresi yang menyedihkan. Aku mendekat pada mereka mencoba mencapai jarak amanku.
“Aku minta maaf, untuk semua yang sudah terjadi karena kebodohanku, selanjutnya jangan hiraukan aku lagi. Aku sangat terbebani dengan semua rasa bersalah yang aku akibatkan pada kalian”
Aku ingin meraung menangis di sini, tapi aku menahan diriku. Aku berbalik dan berjalan menjauh meninggalkan mereka. Aku pernah menjalani hidup yang sangat menyenangkan dengan mereka, jauh dari kata kesepian. Sekarang aku membuat keputusan lagi yang aku pun tidak tahu apakah ini baik atau buruk, benar atau salah. Aku hanya lelah, lelah dengan semua ini.
Aku berpapasan dengan Jin oppa yang sudah berdiri di sana dengan matanya yang memerah dan bengkak karena menangis. Aku mengabaikannya dan menjauh, meninggalkannya. Aku baru saja menyampaikan salam perpisahanku dalam diam. Aku membencinya sebanyak aku membenci diriku sendiri.

Jungkook pov
Aku melihatnya, ia yang sudah sangat rapuh kini jatuh berderai. Aku ingin sekali ke sana, mengumpulkan puing-puing itu dan memeluknya tapi aku bahkan tidak bisa menggerakkan kakiku. Yoongi hyung benar, ia sangat lemah dan kesepian terlepas dari segala keceriaan yang selalu terpancar di wajahnya.
Aku selalu berfirik menjadi seorang cool kid adalah hal yang menyenangkan dan hari ini aku menemukan satu fakta bahwa hal itu jauh lebih menyakitkan. Menjadi seseorang yang tak terlihat dan diabaikan mungkin lebih baik. Tidak ada yang akan peduli pada apa yang kau lakukan dan tidak akan ada yang kau sakiti dan menyakitimu. Ia terjebak di sana, di dalam dunia di mana orang tidak mengenalnya karena dirinya yang sebenarnya melainkan karena seperti apa ia terlihat. Ia pasti sangat tertekan dan kesakitan.
Namja bernama Jin itu, aku ingin sekali mencekik lehernya atau menenggelamkannya di sungai Han. Ia sudah membuat Haerim seperti ini, memberikan mimpi buruk yang sangat mengerikan. Aku tidak tahu hal apa yang sudah membuat Haerim benar-benar mencintainya, ia sangat mencintai namja itu melebihi apapun, ia bahkan menutup rapat hatinya untuk semua orang.
Sekarang aku mengerti kenapa Yoongi, Heosok, Jimin ataupun Taehyung hyung tak pernah bisa mendapatkannya. Karena mereka tahu, seberapa keraspun mereka mencoba memilikinya, ia tidak akan bisa memberikan hatinya. Aku mengenal hal itu dengan filosofi bunga matahari. Ia adalah bunga matahari yang hanya melihat pada sang surya. Di saat matahari terbenam digantikan oleh kegelapan malam, cahaya bintang dan bulan tidak cukup untuk membuat ia mengikuti mereka. Meskipun matahari terbenam ia akan tetap berdiri di sana, mengarah kepada matahari itu, menanti dengan sabar kapan sang surya itu kembali terbit dan ia bisa mendapatkan lagi warna cerahnya.
Aku sakit dengan semua kejadian ini, aku merutuki kebodohannya. Selama ini bagiku ia terlihat begitu jenius dengan segala hal yang keluar dari mulutnya, bijak dan benar. Tapi ia sama bodohnya dengan aku, sama tak berdayanya.
Jin hyung berjalan berniat mengikuti Haerim, namun Yoongi hyung berusaha melarangnya dan kami berakhir di luar ruangan hall dengan Yoongi dan Jin hyung sibuk berteriak saling menyalahkan. Persahabatan mereka, aku tidak mengerti. Bukankah seharusnya Yoongi hyung pergi? Ia pasti sangat sakit dengan kenyataan jika orang yang sangat ia cintai dimiliki oleh sahabatnya sendiri, tapi ia tetap di sini, bahkan masih membantu temannya itu.
Perhatianku teralih pada Haerim yang berjalan dengan pelan berpegangan pada dinding di sebelahnya. Suara sepatu hills yang pelan menarik perhatianku, langkahnya terlihat gemetar dan ia tidak tegap seperti biasanya. Salah satu tangannya memegang bagian perut langsingnya, aku yakin ia tidak baik-baik saja saat ia terjatuh dan berlutut di lantai memegang perutnya dengan erat.
“Noona!”
Suara teriakanku sukses menarik perhatian semua orang, aku berlari menghampirinya begitu juga mereka. Haerim sudah tersandar ke dinding dengan wajah pucatnya dan ia sudah tak sadarkan diri dengan posisi setengah duduk.
“Noona…”
Aku mencoba menyadarkanya dan mengguncang tubuhnya sampai akhirnya Jin hyung datang memeriksa gadis itu dan menggendongnya. Aku terdiam di sana, menatap punggung namja itu yang berlari membawa Haerim, aku merasa ia juga berlari menarik Haerim menjauh dari hidupku.

Haerim pov
Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi yang jelas perutku sangat sakit. Telingaku masih berdengung saat aku menyadari aku sedang berada di dalam sebuah mobil, tubuhku di selimuti jas yang hangat dan aku berada di atas pangkuan seseorang. Ia memelukku sangat erat dan raut khawatir tampak jelas di wajah paniknya. Aku tidak bisa berfikir jernih dan aku tidak bisa mengatakan apapun, aku membiarkan ketidaksadaran membawaku jauh dari rasa sakit di perutku.
*******

Aku membuka mataku secara perlahan, silau dengan cahaya yang menyinariku. Aku menatap langit-langit tempat aku terbaring dan menyadari aku berada di salah satu ruang inap rumah sakit. Sebuah kalender terpajang di salah satu dinding dan aku terkejut saat menyadari aku sudah melewati tiga hari tanpa sadar dari tidurku. Rasanya aku baru tidur beberapa jam tapi kenyataannya aku sudah tidur berhari-hari. Seseorang menggenggam tanganku lembut dan dengan bersusah payah aku menoleh ke samping dan menemukan seseorang tertidur dengan posisi duduk dan meletakkan kepalanya di ranjang tempat aku berada. Wajahnya terlihat lelah dan sisa-sisa air mata masih terlihat dipipinya. Rasa ego membawaku bahagia dengan kenyataan ini, ia mungkin sudah menemaniku sejak aku pingsan hari itu.
Menyadari pergerakkanku ia terbangun, mencoba mengumpulkan kesadarannya menatapku dengan matanya yang membulat.
“Haerima…”
Ia menyentuh wajahku dengan telapak tangannya, saat kulit itu menyentuh pipiku aku merasakan lagi getaran hebat di tubuhku yang selama ini kebas. Apa ini? Kenapa tubuhku merespon dengan sangat cepat hanya pada sentuhan kecil itu?
“Aku haus…”
Tenggorokanku sangat panas dan kering dan aku tak pernah sehaus ini. Ia bergegas mengambil segelas air dan membantuku bersandar pada tumpukan bantal dengan posisi setengah duduk. Aku merasa ngilu di perutku dan menyadari jika aku sudah menjalani operasi melihat bekas jahitan itu mewarnai perutku.
Salah satu tangannya membantu menopang punggungku agar aku bisa minum dengan benar, oh tangan itu menyentuh tubuhku dan aku ingin sekali berlari ke dalam pelukannya. Apa aku masih di bawah pengaruh obat bius? Aku tidak bisa berfikir dengan jernih. Ia menyeka sisa air yang jatuh dari bibirku dengan lembut kemudian tersenyum.
“Senang bisa melihatmu lagi”
Aku tidak menjawabnya, masih bingung dengan kondisi ini dan masih bingung dengan otak dan perasaanku yang tidak bersinergi. Otakku meneriakkiku untuk mengusirnya tapi perasaanku begitu tenang dengan keberadaaannya dan aku berakhir dengan terjebak dalam diam.
“Haerimaaaa…”
Suara eomma menarik perhatianku saat ia memasuki ruang inap setengah berlari. Beliau langsung memelukku dengan hangat, aku sangat merindukan eomma.
“Eomma… bagaimana kau bisa sampai di sini?”
Pertanyaan itu langsung keluar dari bibirku mengingat Paris sangatlah jauh dan aku tidak mungkin menelfonnya dalam keadaan tidak sadarkan diri.
“Jin menelfonku dan aku langsung terbang ke sini untuk melihatmu”
“Jin??”
Dahiku berkerut saat eomma menyebut nama itu, beruntung ia sudah keluar dan meninggalkan kami berdua. Bagaimana bisa ia menghubungi eommaku?
“Tentu saja, siapa lagi? Jin sering mengunjungiku selama ia kuliah di Italy, ia membantuku melepaskan rasa rinduku pada makanan Korea”
“Dia menemuimu?”
Eomma mengangguk dan ia mengusap bahuku pelan menatap diriku dengan seksama.
“Ia menceritakan banyak hal tentang dirimu. Apa yang kau suka, apa yang kau tidak suka, kebiasaanmu dan segala hal tentang dirimu. Ia bahkan lebih mengenalmu daripada aku. Di satu titik aku merasa aku gagal menjadi seorang ibu, aku tidak mengetahui putriku dengan baik dan sekarang aku menemukanmu terbaring di rumah sakit”
Eomma hampir saja menangis saat ia mengucapkan semuanya. Tentu saja sangat berat, ia memilikiku di saat usianya masih muda tanpa seorang suami dan bekerja keras untuk menghidupi kami berdua. Aku tidak pernah marah meskipun eomma tidak memperhatikan aku sebanyak yang orang tua lain lakukan, karena aku tahu ia sangat menyayangiku melebihi apapun.
“Eomma… aku baik-baik saja”
Aku mencoba menenangkannya dan memeluknya lagi. Ah aku sedikit menyesal memilih hidup terpisah dengannya. Tak lama kemudian Jin oppa muncul bersama seorang dokter yang kemudian sibuk memeriksaku dan kembali keluar. Aku bersyukur aku masih hidup tapi aku benci dengan fakta aku masih harus tinggal di sini setidaknya sampai tiga hari ke depan.
Jin oppa duduk di sebelahku tapi aku memilih mengabaikannya, tak terlalu tertarik dengan apa yang ia lakukan di sana.
“Seokjina… sebaiknya kau pulang. Kau sudah di sini selama berhari-hari. Malam ini aku akan menjaga Haerim”
Dan aku sudah mendapatkan kesimpulan bahwa ialah yang menemaniku di sini selama aku terlelap dalam tidurku.
Ia mengangguk pada perintah eomma dan mengambil jaket serta barang-barangnya.
“Kalau begitu aku pulang dulu oemmoni…”
Oemmonie? Sejak kapan ia berani memanggil eommaku seperti itu?
“Haerima… aku pulang dulu. Besok aku ke sini lagi”
Aku tidak menjawab salamnya memilih diam membiarkan ia menghilang di balik pintu.
Eomma membantuku kembali pada posisi berbaringku dan beliau duduk di sebelahku sambil menggegam tangan yang tidak terinfus.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan Jin, tapi sepertinya kau terlihat sangat marah”
Aku hanya bernafas berat mencoba mengelak dari persidangan yang tengah eomma lakukan padaku.
“Saat itu aku baru saja selesai dari acara fashionshow dan saat aku pulang malam sudah sangat larut. Aku menemukan Jin terduduk di depan pintu apartemenku memeluk kedua lututnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya tapi aku membiarkan ia masuk dan duduk di sofa siap mendengarkan semua ceritanya. Aku masih ingat wajahnya sangat pucat dan matanya bengkak karena menangis, ia sangat kurus jika dibandingkan dengan sekarang. Kau tahu apa yang ia ceritakan padaku? Seorang gadis Italy yang tak lain adalah putri dari dosen pembimbingnnya meminta Jin untuk menjadi tunangannya”
Aku terkejut setengah mati saat mendengarkan kalimat terakhir eomma dan aku menatap beliau dengan tidak percaya.
“Gadis itu sangat cantik, pintar dan kaya terlebih lagi appanya adalah dosen dari Jin. Akan sangat menguntungkan jika ia menerima gadis itu, ia tak perlu lagi jungkir balik bekerja keras untuk hidupnya dan ia bisa menyelesaikan pendidikannya dengan mudah karena dosen itu pasti akan membantunya. Aku masih ingat saat ia berlutut di hadapanku menangis dengan keras Aku sangat mencintai Haerim, aku tidak bisa menerima gadis itu? aku harus bagaimana? Ia mengulang kalimat itu berkali-kali. Aku tahu ia akan sangat terancam jika ia menolak, dipecat dari restoran tempat ia bekerja karena restoran itu merupakan milik yeoja tersebut dan ia bisa saja dipersulit oleh dosen yang tak lain adalah ayah dari yeoja itu. Hal itu akan memperlambat proses kepulangannya sementara ia sudah tidak punya uang lagi untuk membayar sewa apartemennya. Kau tahu? Eomma sangat terkejut saat ia mengatakan hal itu padaku, ia berbicara dengan sungguh-sungguh jika ia sangat mencintai putriku dan melakukan semua ini agar ia bisa kembali pada gadis kecilku agar di masa depan ia tidak membuat hidupmu dalam kesulitan. Kau tahu Haerim? Aku sangat iri denganmu, ia memilih jalan yang sulit karena ia ingin bersamamu. Aku tidak tahu hal apa yang membuatmu marah padanya, aku hanya ingin memberitahumu, kemarahan itu sesaat dan penyesalan itu kekal. Jangan sampai hanya karena kemarahan yang sesaat itu kau menyesal seumur hidupmu”
************

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s