BTS · Chapter · NC · Romance

Noona (chapter 5)

photogrid_1452884052677

Author: Mincha
Cast: Jeon Jungkook, Lee Hyerim, Kim Seokjin, Min Yoongi,

Kim Hana, Jung Heosok, Park Jimin, Kim Taehyung, etc.
Rate: 17, NC in some part.
Length: Chapter
Genre: romance, friendship

Jungkook pov
Aku menghempaskan tubuhku di ranjang, semua kalimat Yoongi hyung berputar di otakku. Aku tidak tahu apakah itu sebuah ancaman atau peringatan. Aku tidak bisa percaya begitu saja pada setiap ucapannya karena aku juga tidak begitu mengenalnya. Ia bisa saja mengatakan sebuah kebohongan atau mungkin saja apa yang ia katakan adalah benar. Terluka? aku sudah memikirkan resiko ini sebelumnya, well seburuk apa yang bisa terjadi?
Aku menyentuh jantungku, mulai sadar ia bedetak sangat cepat setiap aku bersama Haerim, dan segala hal di otakku berpusat pada yeoja itu. Ia sangat baik padaku, ia bahkan menyelamatkanku dengan caranya sendiri. Aku mulai merasa egois dengan kenyataan itu. Yoongi hyung juga bilang jika Haerim tak membiarkan orang memasuki kehidupannya begitu saja dan ia memilihku untuk terlibat dengannya. Ya dia memang pernah memperingatkanku, tapi itu tidak menutup kemungkinan ia juga merasakan apa yang aku rasakan padanya. Lagi pula kami sudah melakukannya, dari semua informasi yang aku tahu ia tidak membiarkan orang menyentuhnya begitu saja, sedangkan aku, aku bahkan tidur dengannya tidak hanya sekali.
Aku bangun dari posisi berbaring, menatap pantulan diriku di cermin yang terletak dihadapan ranjang. “Jungkooku” ia menyebutku Jungkooknya itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan apapun.
Tapi perkataan Yoongi hyung terus merusak semua fakta yang sudah aku dapatkan dan ini membuatku frustasi. Apa aku harus memastikannya sendiri? Akan lebih baik jika aku mendengar dari bibirnya langsung. Ya… aku harus memastikannya.
Aku mengambil jaket dan tasku dan bergegas meluncur menuju apartemennya.

*********
Aku memasuki pub tempat Haerim dan teman-temannya bisa menghabiskan waktu, wow aku mulai terbiasa dengan tempat seperti ini. Aku sibuk mengelilingi pub berharap bisa menemukannya, pub tidak begitu ramai karena sekarang masih hari kamis tapi saat weekend, tempat ini begitu rusuh. Aku mulai kesal saat aku tidak bisa menemukannya dimanapun, kemana ia mungkin pergi?
“Jungkook?”
“Hyung…”
Aku melihat Yoongi, Heosok, Taehyung dan Jimin hyung berjalan menuju sebuah ruangan.
“Apa kalian melihat Haerim noona? Aku tidak menemukannya di apartemennya”
“Apa kau sudah menelfonnya?”
“Sudah, mungkin sudah puluhan kali”
Kening keempatnya mengerinyit, kemudian Yoongi hyung mengeluarkan ponselnya.
“Hanaya… apa Haerim bersamamu”
“………”
“Arraseo”
Ia menyimpan lagi ponselnya dan mulai terlihat tak tenang begitupun dengan yang lain.
“Kemana lagi ia bisa pergi?”
“Apa kalian mencari Haerim? Tadi aku melihatnya bersama Dongwan oppa”
Seorang pelayan bicara pada kami saat ia keluar dari salah satu ruangan.
“Apa sudah lama?”
“Mungkin satu jam yang lalu atau lebih. Tapi aku tidak melihatnya lagi setelah itu”
Yoongi hyung tidak bicara, ia langsung bergegas menuju salah satu ruangan, membuka dengan paksa. Aku mengikutinya di belakang bersama Taehyung, Jimin dan Heosok hyung. Saat kami mendobrak masuk, beberapa orang yang hampir tak berbaju sedikitpun terlihat terkejut. Yoongi hyung menarik salah satu namja di sana dan memaksanya ikut ke salah toliet kemudian menghempaskan namja itu ke dinding dengan keras.
“Di mana Dongwan?”
Namja itu terlihat gugup tak berani bicara apapun.
“Di mana si brengsek itu???!!!”
Heosok hyung berteriak dan menarik kerah bajunya, Heosok hyung yang selalu terlihat sumringah sangat berbeda ketika ia marah seperti sekarang ini, aku merasa seolah sedang melihat orang lain. Ia memang sangat sering bertengkar dengan Haerim, tapi ia tak pernah benar-benar marah atau meluapkan emosinya.
“Aa-a-kku tidak tahu. Mereka sudah pergi dari tadi”
“Mereka???”
“Haerim?”
Kemudian ia mengangguk dan satu pukulan dari Jimin hyung tepat mengenai wajahnya.
“Kemana mereka pergi?!!! Katakan!!!!!!!!”
Suara teriakan Jimin Hyung memecah keheningan toilet, orang yang tadinya hendak masuk, membatalkan niat mereka memilih untuk berbalik dan pergi.
“A-aku tidak tahu”
Buk…
Satu pukulan lagi. Ia terjatuh ke lantai dan ponsel terlempar dari sakunya. Taehyung hyung mengambil ponsel itu dan menyerahkan lagi padanya.
“Cepat tanyakan!”
Dengan gugup ia menekan tombol ponselnya dan menghubungi orang yang bernama Dongwan itu.
“Hyung… kau dimana?”
“….”
“Hotel?”
“…..”
“Tempat biasa?”
Kemudian ia menyimpan lagi ponselnya menatap kearah empat namja dihadapannya yang siap menelannya hidup-hidup.
“Hotel mana??”
“Hotel ————- kamar nomor 1001, ia biasa di sana”

***********
Kami berusaha berjalan dengan tenang di lobi hotel, berusaha tak terlalu menarik perhatian. Saat memasuki lift aku bisa melihat pantulan bayangan keempat namja ini di sana di dinding lift yang mengkilap seperti cermin. Marah, kesal dan kecewa terlihat jelas di wajahnya. Jujur saja aku tidak begitu paham dengan apa yang terjadi namun perasaanku mengatakan hal buruk sedang menimpa Haerim dan membuatku tidak tenang, aku hanya bisa berdoa dia baik-baik saja.
Kami berdiri di depan sebuah kamar dengan angka 1001 yang yang tertempel di pintunya. Yoongi hyung mengetuk pintu hotel itu, mencoba tenang namun aku tahu ia sudah tak bisa menahan rasa sabarnya lagi.
Kami tersentak mendengar suara pintu yang sedang dibuka, dan tepat saat pintu itu terbuka Yoongi hyung mendorong namja yang aku yakin bernama Dongwan itu sehingga ia terjatuh ke lantai. Kami semua memasuki kamarnya dan menutup pintu agar tak ada yang melihat kejadian ini.
Tentu saja mata kami tertuju pada Haerim noona yang tergeletak tak sadarkan diri di atas ranjang dengan hanya memakai pakaian dalam saja. Aku geram, ingin sekali membunuh namja ini. Kemudian pandanganku mengikuti Heosok hyung yang berdiri di dekat salah satu meja, memeriska sesuatu hal yang terlihat seperti obat.
“Berapa banyak kau memberinya?”
Namja itu tidak menjawab, ia masih di lantai terlihat takut dengan apa yang sedang ia hadapi.
“ Apa kau tidak dengar????!!! Berapa banyak kau memberinya!?!”
Yoongi hyung sudah melayangkan pukulannya pada namja itu membuat darah keluar dari kedua hidungnya.
“Itu hanya obat tidur, aku tidak tahu berapa harus memberinya agar ia bisa benar-benar tertidur”
“Aissshhhh… Kau akan mati ditanganku!”
Yoongi hyung mulai memukulinya lagi sedangkan Heosok hyung sibuk memasukan benda itu kedalam sebuah plastik dan memotret beberapa hal. Sementara itu Jimin dan Taehyung hyung menghampiri tubuh Haerim yang tak sadarkan diri, menyelimutinya dengan selimut hotel. Menaikkan tubuh yeoja itu ke punggung Taehyung hyung.
“Hyung! Ayo kita pergi. Kau bisa membunuhnya”
Heosok hyung bicara pada Yoongi hyung yang masih saja memukul namja itu meskipun ia sudah menangis memohon untuk diampuni.
“Aku sudah menyimpan barang buktinya. Kau tahu appaku siapa bukan? Jika saja aku mengirimkan benda ini padanya dan tahu kau yang menggunakannya secara illegal, rumah sakit milik keluargamu akan terancam. Jangan pernah macam-macam dengan Haerim! Kau tahu kau berhadapan dengan siapa!”
Ia menggeretakkan giginya saat bicara kemudian membawa Yoongi hyung keluar dari kamar ini.

**********
Aku menatap tubuh Haerim yang terbalut selimut, Hana noona memasangkannya pakaian yang layak agar ia tak kedinginan.
“Ia baik-baik saja. Obat itu akan membuatnya tertidur pulas, ia akan bangun besok mengingat dosis yang diberikan cukup banyak”
Jimin hyung mengangguk paham dan mengantarkan dokter yeoja itu keluar dari studio Yoongi hyung. Aku masih berdiri di sini, menatap tubuhnya dalam diam, dia mungkin tidak tahu bagaimana paniknya semua orang di sini karenanya. Ia masih saja terlelap dalam tidurnya.
Yoongi hyung keluar bersama Hana noona, mencari makanan yang layak untuk semua orang disini, sementara Taehyung dan Jimin hyung duduk di sofa terlihat begitu lelah.
“YA! Kau sudah berdiri di sana sangat lama, duduklah”
Kalimat Jimin hyung menarik perhatianku, ia benar, aku sudah berdiri di sini sejak kami sampai. Aku mengikuti sarannya dan duduk di sebelah Taehyung hyung.
“Kalau saja kau tidak mencari Haerim mungkin hal yang lebih buruk bisa terjadi”
Jimin hyung menepuk punggungku pelan, aku bisa merasakan ia sangat berterima kasih padaku. Aku hanya tersenyum padanya kemudian melihat Heosok hyung masuk dan langsung menuju Haerim. Ia meletakkan segelas air di atas meja kemudian naik ke ranjang dan tidur di sebelah yeoja itu, memeluknya. Aku hanya tidak percaya bagaimana bisa Taehyung dan Jimin hyung tidak melarangnya?
“Wae? Kau merasa terkejut? Heran?”
Aku menatap Taehyung hyung yang bertanya padaku, aku ingin mengangguk tapi tak berhasil bergerak barang sedikitpun. Nafasku terhenti saat Heosok hyung mengecup bibirnya dan menariknya lebih ke dalam pelukannya.
“Jangan berfikir dia hanya melakukan hal itu padamu. Ia hanya tidak melakukannya pada semua orang, tapi pada kami, aku fikir kau sudah tahu hal itu”
“Maksudmu?”
Taehyung dan Jimin hyung tertawa mendengar pertanyaanku.
“Ottae? Apa kau suka ciummanya?”
Taehyung hyung bertanya dengan spontannya membuat kedua pipiku memerah.
“Tentu saja, bibirnya sangat manis di tambah dengan skill yang hebat. Meskipun aku mencium ratusan yeoja di luar sana tidak akan semanis ciuman Haerim”
Wajahku memerah mendengar penuturan Jimin hyung dan kemudian mereka berdua tertawa terkekeh.

**************
“Ottokhae… kau manis sekali. Bagaimana kau bisa tetap terlihat tampan disaat tertidur? Haerim ternyata benar, kau tampan Absolute”
Suara berisik memaksaku untuk bangun dan menemukan Hana noona sudah berada di atas tubuhku lebih tepatnya duduk di perutku.
“Jangan sentuh dia! kau tidak ingat?”
“Tapi dia sangat manis oppa…”
“Minum saja lattemu, kau bisa ambil gula di lemari dan buat semanis yang kau suka”
“Ck… kau ini”
Ia beranjak dari tubuhku setelah Yoongi hyung bicara padanya. Aku masih dalam keadaan setengah sadar saat menemukan Haerim keluar dari kamar mandi dan bergegas menghampirinya.
“Kau baik-baik saja?”

Haerim pov
Aku keluar dari kamar mandi dan menemukan Jungkook bergegas ke arahku.
“Kau baik-baik saja?”
Wajahnya terlihat kusut dan khawatir.
“Aku baik-baik saja”
Langkahku terhenti tepat dihadapannya, rambutnya berantakan, kedua matanya merah dan wajahnya menyiratkan ketidaktenangan, ekspresi yang sama saat aku pertama kali menemukannya malam itu.
“Aku mengkhawatirkanmu”
Ia menunduk, tak berani menatap mataku dan perlahan aku mendengar suara isakannya yang pelan. Aku hanya tak percaya ia menangis dihadapanku sekarang. Apa? Kenapa? Bagaimana bisa?
“Aku takut sekali sesuatu yang buruk terjadi padamu”
Suaranya bergetar dan ruangan ini menjadi diam, semua orang tentu saja menatap kearahnya. Ia terus menangis dengan kepalanya yang menunduk, oh hatiku meleleh, ia begitu polos dan tulus. Aku menarik tubuhnya ke dalam pelukanku, mengusap punggungnya dengan pelan dan ia melingkarkan kedua lengannya di tubuhku. Menenggelamkan wajahnya di bahuku dan mulai menangis dengan keras.
“Aku baik-baik saja, sungguh”

*************
“Karena aku, kalian jadi tidak kuliah hari ini, bahkan Jungkook, aku yakin ini hari pertama kau absen dalam sejarah persekolahanmu”
Aku bicara selagi kami masih menikmati sarapan yang Hana buatkan.
“Ommona… kau menakjubkan”
Hana mencubit pelan pipinya membuat wajah Yoongi oppa semakin kesal. Hahaha… lucu sekali melihat mereka berdua. Aku tidak mengerti apa yang sedang mereka tunggu, bukankah akan lebih baik jika mereka terikat dalam sebuah hubungan? Tentunya hal semacam ini tidak akan terjadi.
“Berhentilah memujinya, dia tidak akan tertarik padamu”
Hana memukul bahu Yoongi oppa pelan membuat aku benar-benar ingin tertawa.
“Ish… jika terus bertengkar aku akan kurung kalian di kamar mandi berdua seperti waktu itu”
Ya, hari itu. Saat mereka akan memutuskan untuk menjalin hubungan. Aku kesal dengan keduanya yang sama-sama menunggu. Apa salahnya untuk memulai duluan, tak peduli jika itu namja ataupun yeoja, bukankah sama saja? aku berakhir dengan mengurung mereka di kamar mandi dan keesokan harinya aku menemukan mereka dengan status yang baru.
Kalimatku berhasil membuat mereka berhenti bertengkan dan kembali makan.
“Sudah lama sekali kita tidak berkumpul seperti ini, kita terlalu sibuk di luar, ke pub dan keramaian”
“Yasudah hari ini kita di sini saja mungkin melakukan hal yang menarik”
Hal yang menarik menurut standar Taehyung tidaklah sama dengan kita, jadi jika ide itu keluar dari bibirnya kau perlu berfikir dua kali untuk menyetujuinya.
“Ayo berlibur…. kita bisa kembali hari minggu jadi kita bisa menghabiskan waktu tiga hari untuk bersama. Ottae?”
“COOOLLLL!!”
Tidak ada yang sehebat ide Yoongi oppa.
“Bussan ottae? Kita bisa berjemur di pantai dan melihat yeoja berbikini di mana-mana”
“Let’s go!!!!!!!!!”
*********
Author pov
Haerim dan Hana sibuk berenang di laut yang dangkal bersama Jungkook, sedangkan Jimin, Taehyung dan Yoongi lebih tertarik untuk berjemur, menantang matahari dan melindungi kedua mata mereka dengan kaca mata. Setiap orang yang berlalu lalang tak dapat beralih dari mereka, bagaimana tidak, tiga namja hot berjemur hanya memakai celana pendek saja dan topless, pemandangan yang lebih indah dibanding langit dan laut yang biru. Suara ponsel Yoongi mengalahkan ributnya deburan ombak membuat ia tak bisa mengabaikan benda itu.
“Jin Hyung?”
Ia langsung bangun dari posisi berbaringnya diikuti oleh Jimin dan Taehyung sementara itu Heosok yang baru saja kembali dari membeli makanan juga ikut terkejut.
“Ya! Bagaimana kabarmu?”
“Aku baik-baik saja. Ahh… sudah lama sekali sejak aku tidak mendengarkan suaramu hyung”
Suara tawa Jin terdengar rendah di seberang sana.
“Bagaimana kabar Jimin, Heosok, dan Taehyung? Apa mereka masih berisik?”
“Ah… chincha hyung. Aku tidak bisa tidur, mereka benar-benar rusuh”
Jin tertawa lebih keras dari sebelumnya sampai akhirnya mereka berdua terjebak dalam keheningan.
“Haerim?”
“Seperti yang kau pesankan, kami menjaganya”
“Gumawo… mianhae aku merepotkan. Aku mendengarkan suara laut, apa kalian sedang di tempat Jimin?”
“Iya hyung, kami sedikit berlibur”
“Lega sekali saat tahu kalian baik-baik saja, kalau begitu aku tutup dulu ya”
Biippppp…
“Mwoya?”
Yoongi menatap ponselnya heran.
“Kenapa ia tiba-tiba menelfon setelah tiga tahun menghilang dan hanya membicarakan hal itu?”
“Sudah dipastikan, ia merindukan kita”
Heosok berbicara dengan wajahnya yang berbinar.
“Tidak, dia merindukan Haerim”
Sementara itu Jungkook dan Haerim berjalan menghampiri mereka sibuk melahap makanan yang Heosok bawakan.
“Dimana Hana?”
“Beberapa namja mengajaknya minum”
“Minum? Siang-siang seperti ini?”
Yoongi yang geram langsung berdiri dari tempatnya melangkah dengan kesal menuju tempat di mana Hana berada. Ia hanya terdiam menatap gadis itu sibuk bercengkrama dengan beberapa namja yang lebih sibuk mengamati tubuhnya.
“Kita kembali ke villa”
Ia menarik Hana dengan paksa menjauh dari para namja itu.
“Oppa…”
Yoongi melepaskan tangannya dengan kesal.
“Apa yang kau fikirkan? Apa yang kau dapat dengan melakukan semua ini?”
“Aku hanya sedikit bersenang-senang”
Yoongi mengurut tengkuknya, memilih membelakangi Yeoja itu dan berjalan menjauh. Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Gadis itu membuat posisinya semakin sulit.

Haerim pov
“Sepertinya kita perlu memesan beberapa Pizza, aku masih lapar”
“dasar babi! Kau menghabiskan satu piring omu rice”
Aku memukul kepala Heosok yang berada tepat di belakangku. Langkahku terhenti saat tubuhku menabrak Jimin yang berjalan di depanku.
“YA! Jangan berhenti di jalan!”
Aku menutup pintu villa kemudian mendahului Jimin merasa aneh dengan aksinya yang tiba-tiba berhenti melangkah.
“Ck… ada apa dengan kalian?”
Pandanganku mengarah pada apa yang sudah membuat semua orang terdiam dan membeku.
“Kalian sudah pulang? Aku sudah buatkan makan malam, tidak perlu memesan pizza lagi”
Dia di sana…
Aku merasakan kakiku yang tiba-tiba kebas seakan arwah yang menempati tubuh ini memaksa untuk keluar dari raga. Jantung yang selama ini menjadi penanggung jawab kehidupanku membeku dan berhenti sejenak, dan aku tidak bisa merasakan udara melewati hidungku sedikitpun. Apa ini? Apa ini nyata? Apa itu benar-benar dia? Berdiri di sana masih seperti dulu. Bagaimana bisa ia ada di sana?
Seketika rasa sakit menusuk punggungku tembus ke hatiku membuat luka yang selama ini mati-matian aku tutupi menjadi menganga, pilu dan perih aku tidak tahan dengan perasaan seperti ini. Bumi berhenti berputar di porosnya dan aku seolah sudah sampai di neraka dengan kecepatan penuh. Apinya sudah membakar jantungku dengan baik dan otakku sudah tak mampu bekerja lagi.
“Waeyeo?”
Pertanyaan Jungkook berdengung di telingaku menarikku kembali ke situasi di mana sebenarnya aku berada. Ini lebih mengerikan dari pada pengalaman mati suri.
“Aku dan Jungkook akan tidur di kamar atas, kaja Jungkookkaaahh”
Jungkook hanya menatap heran dan mengikuti langkahku. Aku meletakkan barang-barangku dengan baik di dekat televisi mencoba dengan keras agar aku tetap menjadi normal.
“Aku mandi dulu”
Dengan cepat aku mengeluarkan handuk dan pakaian dari tas, menutup pintu kamar mandi dengan rapat. Aku bersandar pada pintu itu masih mencoba menenangkan diriku dengan menyentuh dadaku yang bergemuruh.
“Aku baik-baik saja”
Kalimat yang berulang kali aku teriakkan di otakku agar ia mau memaksa jantungku bekerja dengan normal lagi.

Jungkook pov
Aku tidak tahu siapa namja itu dan apa yang sedang terjadi, tapi perubahan sikap Haerim noona sangatlah tidak biasa. Siapa namja itu? apa yang terjadi antara dia dengan Haerim noona? Aiissshhh… belum terjawab satu pertanyaanku padanya sudah ada pertanyaan lagi yang merusak jalan fikiranku. Aku mencoba mengumpulkan beberapa kesimpulan yang mungkin bisa aku dapatkan tapi ini benar-benar buntu.
Haerim noona keluar dari kamar mandi dan langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang, ia terlihat lebih lelah dari biasanya.
“Kau baik-baik saja?”
Ia hanya mengangguk.
“Noona…”
“Hmmm??”
“Siapa orang tadi?”
“Kau tidak perlu tahu”
Ia merubah posisi tidurnya dan memunggungiku.
“Kenapa aku tidak perlu tahu?”
Ia menghembuskan nafas dengan berat dan bangun dari posisi tidurnya.
“Dia bukan seseorang yang penting”
“Jika dia tidak penting, lalu kenapa moodmu jadi berubah sangat drastis?”
“Tidak ada kaitannya denganmu”
Tapi sikapmu membuat semua ini mencurigakan, aku mencoba menenangkan diriku dan mencari celah untuk membuat sebuah kesempatan.
“Tentu saja ada kaitannya denganku, kau seperti mengenalnya”
“Ini urusanku, bukan urusanmu”
Nadanya ketus dan itu sudah cukup membuat aku kesal.
“Bukan urusanku? Tentu saja urusanku. Segala hal yang berkaitan denganmu adalah urusanku!”
Dahinya berkerut dan ia menatap mataku dengan seksama kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Apa ia sedang membaca fikiranku?
“Kenapa? Kenapa ini harus menjadi urusanmu??!”
Aku terkejut karena ia tak pernah memperlihatkan kemarahannya sebelumnya dan jujur saja aku mulai merasa takut tapi aku sudah mengambil langkah terlalu jauh dan aku tidak akan mundur, aku butuh sebuah kepastian.
“Karena aku menyukaimu”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s