Noona (chapter 3)

 

 photogrid_1452884052677

 

 

 

Author: Mincha

Cast: Jeon Jungkook, Lee Hyerim, Kim Seokjin, Min Yoongi, Kim Hana, Jung Heosok, Park Jimin, Kim Taehyung, etc.

Rate: 17, NC in some part.

Length: Chapter

Genre: romance, friendship

 

 

Jungkook pov

Aku keluar dari perpustakaan kampus saat malam sudah turun, aku harus pulang sebelum tempat ini benar-benar terkunci. Udara kelam yang dingin tak menyurutkan langkahku. Aku melewati beberapa fakultas hingga mencapai aula yang terletak diantara fakultas Seni dan sastra dengan fakultas FMIPA. Aku sering mendengar suara dentuman musik yang keras dari dalam aula, setahuku anak seni sering latihan di sana namun hari ini aku tak mendengar apapun, mungkin mereka punya kegiatan lain atau mereka sudah selesai. Saat aku mencapai lapangan basket, aku melihat beberapa orang yang sering berlalu lalang di fakultasku sibuk bermain basket, mereka ada berlima, setidaknya aku mengenal wajahnya meskipun aku tak pernah tahu mereka. Tanpa aku sadari tiba-tiba saja bola basket itu melayang ke arahku mengenai tepat di kepalaku, sesuatu yang sangat tidak aku sukai.

YA! Cupu! Kemarikan bolanya!”

Aku menatap mereka geram memilih mengabaikan dan melanjutkan langkahku.

“Hei! Kau tidak dengar ya?!”

Aku hanya diam mencoba meredam rasa kesalku dan terus berjalan sampai akhirnya langkahku terhenti karena seseorang menarik tas ransel yang sedang aku sandang memaksaku berbalik dan menghadap mereka.

“Apa kau tuli? Kau tidak mendengarku?”

Aku diam, hanya menatap kosong dengan kedua mataku.

“Kau benar-benar membuat kesabaranku habis”

Buk…

Salah satu dari mereka memukul wajahku, apa sebaiknya aku melawan? Tentu saja akan percuma karena jumlah mereka jauh lebih banyak dariku. Satu pukulan lagi melayang keperutuku membuat aku terjatuh ke tanah. Aku disana menatap kaki mereka yang sibuk menendang tubuhku. Aku tidak tahu dimana letak kesalahanku, bukankah seharusnya aku yang berhak marah di sini? Bola basket yang mereka gunakan mengenai kepalaku sudah sepantasnya merekalah yang meminta maaf tapi di sini aku yang malah di jadikan korbannya. Ketidakadilan memang terjadi dimanapun, hah…

Aku menatap langit kelam diantara orang-orang yang sibuk memukul tubuhku, langit itu terasa sangat jauh meski warna kelamnya tak berbeda dengan warna gelap disekitarku. Aku ingin sekali menggapai tanganku ke sana, mungkin sesuatu yang berbeda ada di sana, di mana aku bisa hidup dengan normal.

 

Haerim pov

Aku meninggalkan flashdiskku di ruangan aula setelah tadi membantu para anggota baru club dance latihan. Aku harus kembali untuk mengambil benda itu. Setelah menemukan flashdiskku aku mengunci pintu aula dan menyerahkan kuncinya pada penjaga yang tinggal di belakang aula. Aku berjalan melewati lapangan basket menuju fakultas seni dan sastra milikku tempat aku biasa memarkirkan mobil. Aku menatap mobilku dengan bahagia, betapa aku merindukan mobil ini, Moniee kesayanganku. Yah aku menamainya moniee karna mobilku ini sangat manis, yang sudah menemaniku kemanapun aku pergi. Aku menyalakan mp3 player dan sibuk menggerakkan kepalaku mengikuti irama musik.

Ommo!”

Aku hampir menabrak seseorang yang berjalan di tengah jalan tepat saat aku akan keluar dari tempat parkir. Aku masih membeku menenangkan diriku sendiri, aku beruntung aku menginjak rem dengan tepat. Aku menyentuh dadaku memastikan jantungku masih berada di posisinya. Apa aku menabrak seseorang? Ada apa dengan mobil kesayanganku ini? Kenapa aku selalu tertimpa sial?

Aku bergegas keluar dari mobilku dan menemukan seorang namja dengan tas ranselnya yang berdiri menunduk di depan mobilku, ia tidak asing.

“Jungkook?”

Aku menutup mulutku yang terbuka sempurna menatap keadaanya yang babak belur, apa karena aku menabraknya?

Oh My God! Mereka tidak akan hanya menahan mobilku tapi juga SIMku. Ottokhae?”

Aku melihat ke sekelilingku memastikan  tidak ada yang melihat kami dan memaksa Jungkook masuk ke dalam mobilku. Aku baru saja mendapatkan lagi mobilku, aku belum siap kehilangannya lagi karena sudah menabrak seseorang dan menyebabkannya terluka seperti ini.

Ottokhaji? Aku sudah menabrakmu…”

Ia hanya menatapku diam saat aku panik setengah mati.

“Yang penting sekarang aku harus membawamu ke rumah sakit, memastikan tidak ada tulangmu yang patah”

Aku memasang sabuk pengamanku dan membantunya memasang sabuk pengamannya, kemudian tangan itu menahan tanganku saat aku bersiap melajukan mobilku.

“Aku tidak mau ke rumah sakit, ini bukan karena kau menabrakku”

Aku menatapnya lagi, memperhatikan wajahnya dengan seksama, yah itu bukan luka karena tabrakan itu lebih terlihat akibat pukulan. Dahinya berkerut dan ia menggigit bibirnya yang berdarah terlihat tengah menahan rasa sakit.

“Apa yang terjadi padamu?”

“Aku ini namja

Ia menjawab dengan senyum miris di salah satu sudut bibirnya. Hah… jadi yang namanya namja itu hanya tahu tentang berkelahi?

Kuenchana… aku bisa pulang sendiri”

Ia melepaskan sabuk pengaman yang tadi melindungi tubuhnya, ia keluar dari mobilku dan berjalan dengan bersusah payah. Aku hanya diam menatap punggungnya yang berjalan sangat pelan, langkahnya terlihat berat, aku yakin ini lebih terlihat seperti pengeroyokan bukan perkelahian, apapun namanya itu ia adalah korban yang sangat menyedihkan.Aku tidak pernah mengerti jalan fikiran namja, apa segalanya harus diselesaikan dengan pukulan? Berfikir dengan kepala dingin bisa menghasilkan solusi yang lebih baik dan tidak merugikan siapapun. Aku mengambil jaket milikku, jaket yang sama dengan milik semua teman-temanku yang ukurannya besar dan mampu menenggelamkan tubuhku.

Aku keluar dari mobil berjalan menujunya, menghadang langkahnya dan berdiri tepat di depannya. Aku menghembuskan nafasku berat menatap wajah yang penuh lebam itu. Aku mendekat dan memasangkan jaket di tubuhnya yang kesakitan.

“Ikutlah denganku, aku akan mengobati lukamu”

“Bukankah kau sendiri yang meminta aku untuk tidak menemuimu lagi?”

“Tidak dengan keadaan seperti ini”

Aku teringat pada peringatan yang aku lontarkan padanya waktu itu, jadi karena itukah ia menolak pertolonganku? Ia bodoh atau apa?

 

Kami berdiri di depan pintu apartemenku lagi. Merasakan sebuah dejavu yang membuat memoriku mengingat semua hal yang terjadi antara aku dan Jungkook, ini gila. Aku pasti sudah kehilangan akal sehatku sendiri, bagaimana mungkin aku melakukan hal semacam ini? Dia bukan bagian dari lingkunganku dan seharusnya aku tak memiliki rasa kewajiban sedikitpun atas dirinya. Seharusnya aku tidak memaksanya ikut denganku. Uh… aku benci diriku yang tak pernah bisa yakin dengan keputusan yang aku buat sendiri, selalu ada penyesalan dibalik segala hal, aku adalah manusia yang paling tidak bersyukur, mungkin tuhan sedang bersiap untuk mengutukku.

 

Ia mengingatkanku pada seseorang

Bedanya hal itu terjadi padaku, aku yang babak belur dan ia yang menolongku, orang itu…

 

Jungkook pov

Aku memasuki kamar mandi milik Haerim mulai melucuti pakaianku yang kotor menatap pantulan diriku di cermin besar kamar mandinya, aku sungguh berantakan dan menyedihkan. Bila aku menghitung satu persatu penderitaanku, aku yakin waktu tak akan cukup untuk mengkalkulasikannya. Jika aku adalah orang lain, aku mungkin sudah menangis di jalanan meratapi nasibku dan mempertanyaan keberadaan tuhan, tapi aku tidak peduli dengan semua itu aku bahkan tidak tahu apa tujuan hidup yang sedang aku jalani ini. Seperti cermin itu, aku hanya memantul dari semua hal yang ada, tidak memiliki sesuatu secara spesifik yang membedakan aku dengan manusia tak berpendirian lainnya. Aku sering berfikir untuk mencoba hidup seperti orang lain, sesuatu yang di sebut normal, tapi aku bahkan tidak mengerti standar dari kenormalan itu sendiri.

 

Aku terkejut saat pintu kamar mandi dibuka dan aku langsung menyembunyikan tubuhku di balik pintu. Ia berdiri di sana sibuk dengan kotak kesehatannya sedangkan aku disini berdiri membeku karna malu. Aku tidak tahu apa ia tidak melihatku atau ia sengaja mengabaikanku karena sekarang ia sibuk mengisi bathub dengan air hangat dan meletakkan obat-obatan di sisinya.

“Apa yang kau lakukan di sana?”

Aku semakin menyembunyikan tubuhku di balik pintu, perasaan seperti saat kau diintip oleh seseorang.

“Hei. Aku sudah melihat seluruh tubuhmu jadi jangan bersikap seolah aku akan memperkosamu. Jika kau terus berdiri dalam keadaan tidak berbaju seperti itu, kau bisa sakit”

Dengan menelan ludahku bersusah payah, Aku menyerah, berjalan pelan menuju bathub dengan kedua tanganku berusaha menutupi bagian tubuhku. Aku bisa merasakan kedua pipiku memanas dan aku yakin ia tak bisa melihatnya karena wajahku sudah penuh dengan lebam. Aku meringis saat air hangat menyentuh kulitku yang tergores dan terluka. Aku baru menyadari aku mendapatkan banyak sekali pukulan melihat dari betapa sakitnya seluruh tubuhku.

Aku menenggelamkan tubuhku di dalam air bathub yang hangat sementara Haerim sibuk dengan washlap yang ia beri antiseptik. Dengan sangat lembut ia membersihkan luka-lukaku, memastikan tak ada satu bagianpun yang terlewatkan. Aku bisa melihat wajahnya lagi, masih seperti waktu itu. aku hanya tidak berjumpa dengannya selama seminggu dan aku sudah sangat memimpikan melihat wajahnya lagi, aku pasti sudah kehilangan akal sehatku. Bagaimana bisa? Apa aku dan dia sengaja dipertemukan oleh surga? Ini bukan hanya sebuah kebetulan bukan? Apa aku menyukai wanita ini? Aku bisa mendengarkan suara debaran jantungku yang bergerak sangat cepat, berlomba satu dengan yang lainnya memaksa otakku berfikir tak rasional. Setiap detik yang aku lewati bersamanya, meskipun dalam keadaan yang menyedihkan seperti ini terasa begitu berarti, disisinya membuatku merasa nyaman dan tenang.

“akh…”

Aku meringis saat ia tanpa sengaja menyentuh perutku yang tadi ditendang oleh orang-orang yang menganggapku cupu.

“Aku tidak mengerti kenapa namja suka sekali bertengkar. Yoongi Oppa, Taehyung, Heosok, Jimin dan kau. Semuanya sama saja, hanya bisa menyesal saat sudah babak belur seperti ini”

“Apa kau juga mengurus mereka?”

“Kemana lagi mereka bisa pergi selain kepadaku? Mungkin Yoongi Oppa akan selalu mendapatkan pertolongan dari Hana. Tapi yang lain? Mereka akan merengek seperti bayi. Mengaku namja tapi bahkan masih menangis seperti bocah ingusan”

Tanpa aku sadari sebuah senyum melengkung di wajahku, sekarang namaku ada di deretan orang-orang penting dalam hidupnya meskipun aku tidak tahu apakah aku terhitung sebagai orang berharga baginya.

Aku keluar dari kamar mandi memakai pakaian yang Haerim beri untukku, aku tak terlalu suka memakai pakaian orang lain tapi aku selalu memakai pakaiannya, dengannya, karenanya aku melakukan hal yang tidak pernah tertulis di kamusku.

“Berbaringlah”

Ne?”

Aku menurut karena ia langsung mengarahkan tatapannya yang setajam pisau ke padaku. Aku merebahkan tubuhku di ranjangnya, menghirup aroma bantal yang sangat kental dengan aroma tubuhnya. Ia mengeluarkan sebuah hotpack dari kemasan dan meletakkan benda itu dengan pelan ke bagian perutku kemudian ia sibuk dengan obat-obatnnya pada lukaku.

“Mereka sangat beruntung memilikimu”

“Tidak, akulah yang beruntung memiliki mereka. Aku hanya gadis bodoh yang kebetulan bertemu mereka”

“Setidaknya mereka tidak mengobati lukanya sendiri. Aku sering sekali terjatuh dan terluka tapi aku hanya bisa mersakannya seorang diri, mengobatinya seorang diri atau bahkan membiarkan lukaku kering tanpa pertolongan”

 

 

************

 

 

Aku terbangun dari tidurku yang nyenyak karena mimpi buruk yang tiba-tiba mengusik lelapku. Aku mencoba menenangkan jantungku yang berdetak kencang karena shok yang ditimbulkan oleh bunga tidur yang hitam. Aku menarik nafas mencoba mengontrol diriku sendiri, kenapa aku selalu memimpikan kejadian yang buruk di dalam hidupku? Aku ingin sekali menikmati mimpi indah, jikapun tak bisa maka jangan berikan aku mimpi. Butuh waktu yang lama untuk bisa kembali tenang, menahan diriku sendiri dari kemelankolisannya terhadap sesuatu hal yang tidak nyata, itu hanya mimpi, aku sudah bangun dan aku masih baik-baik saja hanya sedikit terluka namun aku masih hidup dan bernafas.

Aku menemukan Haerim yang terlelap di sebelahku, ia terlihat sangat damai dalam tidurnya, seorang malaikat tanpa sayap. Aku menggeser tubuhku agar bisa melihatnya lebih dekat, menyampirkan rambut yang menutupi wajah tidurnya. Kedua lenganku mencoba menariknya ke dalam dekapanku, memeluknya meskipun tubuhku masih sedikit sakit. Nyaman dan tenang adalah perasaan yang aku dapat saat aku memeluknya, sesuatu yang selama ini sangat sulit untuk aku rasakan.

“Apa aku boleh berada di sisimu juga?”

 

Haerim pov

Aku sibuk memasak bubur dan ayam untuk sarapan pagi ini saat Jungkook keluar dari kamarku dengan wajahnya yang jauh lebih baik daripada kemarin. Wajah paginya yang kusut terlihat sangat imut dan manis, aku tidak bisa menyembunyikan senyumku saat ia menatapku dengan wajah itu dan tangannya sibuk menggaruk rambutnya sementara mulutnya menguap lebar.

“Tidur dengan nyenyak?”

Ia mengangguk dan tersenyum, untuk pertama kalinya aku melihat ia tersenyum, tidak buruk, ia terlihat tampan dengan senyuman itu meskipun dengan wajah bangun tidurnya dan penuh plester, sekarang aku benar-benar yakin ia adalah salah satu namja dengan ketampanan “Ultimate”, keadaan di mana seorang namja akan selalu terlihat tampan meskipun ia ada di posisi atau kondisi yang tidak memungkinkan untuk terlihat menawan. Ia mengambil posisi duduk di salah satu kursi meja makan, menumpu kepala dengan lengan yang ia letakkan diatas meja, sibuk mengamati aktifitas memasakku.

“Wangi sekali…”

Aku bahkan belum selesai dengan masakanku dan ia sudah terlihat sangat lapar.

“Kapan terakhir kau makan?”

“Molla. Aku hanya ingat saat kita sarapan waktu itu”

aku menemukan namja bermasalah lagi, orang yang tidak tahu apa yang ia lakukan dalam hidupnya, tidak jelas apa keinginanya dan bergerak seperti robot.

Aku meletakkan dua mangkuk sup ayam di atas meja, satu untukku dan satu untuknya, tanpa bicara apapun ia langsung menyendok sup panas yang baru saja aku angkat dari panci menghasilkan ia yang berteriak kepanasan membuat aku tertawa terpingkal.

YA! Tidak lucu”

“Hei sopan sedikit… aku ini lebih tua darimu. Setidaknya panggil aku noona jika kau tidak mengingat namaku”

Ia terdiam, terlihat sedang berfikir sangat keras.

Noona?”

“Lalu apa? Kau akan memanggilku Haerimaaa… aku jamin kau tidak akan pulang dengan selamat jika Yoongi Oppa mendengarnya”

Arraseo…”

“Apa yang kau lakukan di kampusku? Bagaimana kau bisa bertengkar dengan mahasiswa di kampusku? Apa kau terlibat geng?”

Ia menatapku tak percaya dengan apa yeng keluar dari mulutku, apa ada yang aneh dengan pertanyaanku?

“Aku juga kuliah di sana”

“Benarkah? Fakultas apa?”

“Ekonomi…”

“Ish… pantas saja aku tidak pernah melihatmu”

Ia sudah menghabiskan buburnya terlebih dahulu selagi aku masih sibuk dengan aktifitas sarapanku.

 

***********

Jungkook pov

“Apa kau ingin mampir?”

Ia menatap gerbang rumahku kemudian terlihat berfikir sebelum akhirnya menepikan mobilnya. Kami turun dari mobilnya dan berjalan menuju gerbang utama rumahku. Aku mencoba memencet bel beberapa kali namun tak ada jawaban dari dalam.

“Apa kau yakin ini rumahmu? Kau bahkan memencet bel saat memasuki rumahmu sendiri”

“Aku tidak membawa kunciku”

Heol! Setidaknya meskipun kau kabur kau harus tetap membawa kuncimu, untuk berjaga-jaga jika kau kelaparan dan tidak ada tempat untuk pergi”

Aku menatapnya dan tersenyum.

“Aku sudah punya tempat untuk pergi”

Yah… aku ingin selalu pergi ke sana, tempat di mana aku bisa melihat yeoja ini dengan sikapnya yang selalu membuatku bingung, dia yang dengan segala hal tentangnya membuat aku terus memikirkannya.

“Ckk… jika nanti aku pindah aku tidak akan memberitahumu”

Aku tidak menanggapi perkataannya sibuk dengan ponselku.

Yeobseoahjumma. Aku tidak membawa kunciku”

“………….”

Ne… arraseo

“Kau tahu? Seharusnya rumah sebesar ini memakai kunci otomatis bukan kunci seperti rumah lama”

Aku hanya terkekeh pelan, hari ini ia benar-benar banyak bicara. Ia tak berhenti berceloteh mulai dari kami berangkat dari apartemennya sampai sekarang, mengomentari segala hal dengan sudut pandangnya sendiri. Ia menciptakan kesimpulan-kesimpulan yang terkadang tidak masuk akal atau menyudutkan sesuatu padahal ia pun tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan.

Selagi ia terus bicara, seorang wanita paruh baya menghampiriku.

“Maafkan aku Jungkookshi… aku harus menjaga anakku, beruntung sekali aku belum terlalu jauh jadi aku bisa kembali. Aku fikir kau membawa kuncimu”

Kemudian wanita itu menyerahkan kunci rumah ini padaku dan berlalu, kembali pada aktifitasnya yang tidak berkaitan denganku.

Daebak!”

Aku mendengar pujian itu kelar dari bibir Haerim saat kami memasuki rumahku.

“Rumah sebesar ini tapi tidak ada siapapun”

Ya aku selalu seorang diri, kapanpun… bahkan saat oemma masih di sini. Semua orang di rumah ini sibuk dengan urusannya masing-masing, jarang sekali interaksi satu dengan yang lainnya terjadi. Aku selau merasa sendiri, sepi di tempat seluas ini.

Ia menghempaskan tubuhnya di sofa, melemparkan tasnya ke atas meja. Aku mengikuti dan duduk di sebelahnya menghembuskan nafasku dengan keras.

“Yoongi Oppa meninggalkan kehidupan seperti ini dan memilih tinggal di studio, Heosok membiarkan Noona dan hyungnya mengurus semua hartanya dan hidup di apartemen kecil, Jimin jarang sekali pergi ke rumahnya karena ia tidak pernah menemukan siapapun saat ia pulang, Taehyung… aku tidak ingat kapan terakhir ia bercerita tentang keluarganya”

Kemudian ia tersenyum sinis, seolah menarik sebuah kesimpulan besar yang berhasil ia kumpulkan. Ia menatapku, salah satu tangannya menggapai wajahku, menyentuh pipiku yang lebam.

“Aku ingin sekali kabur atau setidaknya menghilang dari dunia ini, tapi aku takut dengan tuhan aku takut untuk mempertanggung jawabkan nafas yang sudah ia berikan untukku”

Aku mendengar suara tawanya yang tertahan kemudian lepas dan terbahak-bahak setelah kalimatku.

“Akh…”

Ia memukulku dengan salah satu bantal kursi dan berdiri menjauh.

“Mungkin aku bisa menemukan sesuatu”

Ia bergegas berkeliling, melihat-lihat seluruh isi rumahku. Ia terlihat sangat tertarik dengan semua pajangan lukisan kesayangan appa, kemudian sibuk mengamati foto-foto keluarga yang tersusun rapi di salah satu meja.

“Huaaa…keyopta

Ia menatap salah satu foto kecilku.

“Kau manis sekali”

Kemudian ia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan memotret fotoku itu.

“Sayang sekali jika tidak diabadikan. Aku bisa jadikan ini jaminan jika nanti kau macam-macam padaku”

Aku hanya menanggapi ucapannya dengan senyumku, terlalu fokus pada wajahnya yang sumringah.

Kami sampai di dapur yang selalu terlihat bersih. Tidak ada siapa-siapa, bahkan seorang pelayanpun. Aku yakin mereka semua pulang ke rumah masing-masing. Appa memiliki peraturan tak ada yang boleh tinggal di rumah ini selain anggota keluarga meski pelayan sekalipun, karna itulah rumah ini selalu sepi. Seorang lelaki yang sangat kolot, itulah appaku.

Ia membuka pintu lemari es yang sangat besar dan terlihat kagum dengan isinya.

“ICE CREAAAMMMM!”

Ia berteriak keras dan mengeluarkan satu kotak ice cream coklat dari dalam freezer.

“Apa kau punya choco chips?”

Aku kemudian menunjuk deretan bahan-bahan makanan dan ia sibuk mengeluarkan choco chips, gummy bear, vanila dan aku tak tahu lagi apa namanya, yang jelas benda itu terasa manis.

Ia meletakkan dua buah mangkok besar di atas meja, menyendokka es krim ke dalam dua mangkok tersebut mencampurkan semua benda manis yang berhasil ia temukan.

“Ini akan jadi rasa termanis yang pernah kau coba dalam hidupmu. Aku bersumpah”

Selagi ia sibuk dengan es krim dan resep rahasianya, aku sibuk mengarahkan kamera ponselku padanya, mengabadikan beberapa momennya. Aku tidak tahu kapan kami akan bertemu lagi, mungkin setelah ini ia akan menghindariku seperti yang saat itu ia katakan. Aku tidak bisa memastikan apa aku masih bisa melihatnya lagi, karena ia seperti bola salju yang bergulir tak tentu arah, aku tak bisa menebaknya.

“AAAAAAAAAAAAA…”

Aku membuka mulutku dan melahap satu sendok penuh es krim dengan campurannya, aku bersumpah ini adalah rasa es krim favoritku.

 

******

 

“Jadi Appamu seorang CEO?”

Aku mengangguk. Ia sibuk menginterogasiku, menanyakan segala informasi pribadi tentang diriku dan aku dengan mudahnya menjawab semua pertanyaannya. Aku tak pernah membicarakan perihal diriku pada orang lain, dan di sini aku membeberkan semua hal tentang hidupku kepadanya.

“Apa kau punya hobi?”

Aku terdiam, dan ini adalah pertanyaan yang sangat aku benci.

“Aku tidak tahu, dulu saat aku duduk di sekolah dasar aku selalu mengisi pertanyaanya itu dengan jawaban menyanyi atau bermain alat musik”

Kemudian aku menatap piano yang terletak di dekat kolam berenang, piano yang dulu sangat sering aku mainkan, di saat aku masih kecil, saat keluargaku belum seperti ini. Aku menyadari jika waktu sudah merubah segalanya di rumah ini dan di dalam hidupku.

Haerim menyadari arah pandanganku dan menarikku ke sana memaksaku duduk di depan alat musik besar itu sementara ia duduk di sebelahku.

“Aku ingin mendengarnya”

Ia meyakinkanku dengan ucapannya tapi aku hanya diam tak berani menyentuh toots piano itu.

“Okey… aku akan menciummu jika lagumu menarik”

Ia berbicara dengan ekspresi datarnya yang manis, membuat kedua pipiku memanas. Mataku beralih menatap bibirnya yang sempurna.

“Kau tidak mau? Yasudah…”

Ia bersiap pergi tapi aku berhasil menahan tangannya dan ia kembali duduk, aku tidak tahu apa yang sedang aku fikirkan tapi perlahan namun pasti jemariku mulai menekan toots piano dan aku mulai mengeluarkan nada yang indah dari bibirku.

Now playing : Sofa- by Jungkook

Aku menghembuskan nafasku saat aku selesai dengan laguku, aku bisa merasakan Haerim yang masih terdiam duduk di sebelahku, menatapku dengan kedua matanya yang tidak berkedip. Kemudian setetes air mata terjatuh dari kelopaknya, aku baru menyadari jika matanya sudah memerah. Apa dia menangis? Apa laguku begitu menyentuh untuknya atau terdengar mengerikan? orang sering bilang jika yeoja bisa dengan sangat mudah tersentuh saat mendengarkan sebuah lagu apalagi menyangkut sesuatu hal yang pribadi dengannya.

Noona…”

Ia langsung mengedikpan matanya saat aku memanggilnya, dan dalam hitungan detik bibirnya sudah menyentuh bibirku dengan lembut. Oh aku sangat merindukan momen seperti ini. Tanganku bergerak menuju tengkuknya, menahan di sana agar ia tidak segera berhenti. Aku masih bisa merasakan sisa-sisa es krim dari mulutnya yang manis.

That was amazing! Tapi mungkin kita bisa lakukan sesuatu yang lain”

Ia mengambil remote musik player dan memilih lagu favoritnya. Ia berjalan menuju tepi kolam berenang dan mulai asyik dengan gerakannya. Yah aku sempat dengar jika ia dancer berbakat. Aku mengikuti pergerakannya karena ia terus memaksaku, aku tidak tahu bagaimana tapi saat tubuhmu mengikuti irama dentuman musik itu rasanya jantungku bergerak sangat cepat. Seperti letupan-letupan penuh kebahagiaan yang menggejolak di hatiku. Bergerak dan melepaskan segala beban yang menahan punggungku.

Aku dan Haerim tertawa terbahak-bahak karena kami mulai melakukan hal aneh saat musik itu berganti ke lagu lama di mana kau bahkan belum lahir ke dunia ini dan akhirnya musik itu berhenti. Kami duduk terengah-engah menghadap ke kolam berenang yang sangat tenang. Keringat mengucur di seluruh tubuh dan ekspresi baru yang menyenangkan. Aku tidak ingat kapan terakhir aku tertawa dan tersenyum sebanyak ini, atau paling tidak kapan terakhir aku bicara sepanjang ini dengan seseorang.

Haerim mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, melepaskan jam di tangannya, meletakkan dua benda berharga itu di lantai di sebelahnya.

“Setelah ini kau harus meminjamkan aku bajumu sebagai ganti dari semua kebaikanku”

Dan dalam hitungan detik ia berdiri, berlari sangat kencang dan melompat ke dalam kolam berenang dengan teriakkannya yang menggema. Aku hanya melongo menatapnya tak percaya, dan ia mengangkat wajahnya setelah ia benar-benar berada di dalam air.

“Tidak ingin mencoba?”

Aku tersenyum mendengar tantangannya, aku meletakkan ponsel dan arlojiku di sebelah miliknya, berdiri dan berlari sekencang yang aku bisa seolah angin mampu membawaku terbang dan saat aku melompat menuju air aku berteriak dengan sangat keras.

Aku merasakan air menyentuh seluruh tubuhku, menenggelamkan diriku. Apa ini? Aku tak pernah merasa selepas ini. Perasaan yang luar biasa, hatiku bergejolak dan aku merasa benar-benar hidup. Tanganku menyentuh air yang dingin menikmati cairan itu menerpa tubuhku seolah menghapus segala kekhawatiran yang selama ini bergelayut di hatiku.

“Wow…”

Satu kata yang berhasil aku ucapkan.

Wae? Kau tidak pernah melakukan hal semacam ini sebelumnya? Ini dinamakan bersenang-senang dan masih banyak lagi hal yang bisa dilakukan untuk itu”

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Noona (chapter 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s