Noona (chapter 1)

 

 

photogrid_1452884052677

 

Author: Mincha

Cast: Jeon Jungkook, Lee Hyerim, Kim Seokjin, Min Yoongi,

Kim Hana, Jung Heosok, Park Jimin, Kim Taehyung, etc.

Rate: 17, NC in some part.

Length: Chapter

Genre: romance, friendship

 

 

Hyerim pov

Aku menatap naas mobil milikku yang dibawa pergi oleh truk derek beberapa meter dihadapanku. Apa ada yang salah dengan parkir di tepi jalan? Aku menatap surat penahanan mobil yang aku genggam.

“Melanggar aturan parkir sebanyak 5 kali”

Aku tidak ingat kapan saja aku melakukannya. Shit! Apa aku harus berjalan? aku mendesah kesal menghentakkan payung yang ada di tanganku, setidaknya mereka membiarkan aku mengambil payungku. Dengan hati yang penuh kemarahan aku berjalan diantara kerumunan yang mulai sepi, sibuk merutuki hal yang terjadi.

Tes…tes…tes…

Aku mendengus keras merasakan tetesan hujan yang menyentuh kulit dan rambutku. Dengan malas aku mengembangkan payung milikku dan berjalan dengan penuh ketidak ilkhlasan. Aku harus berjalan cukup jauh untuk sampai di pemberhentian bus, aku tak punya cukup uang untuk membayar taxi, aku tidak membawa dompet bersamaku, satu kecerobohan lagi yang membuat kesialanku bertambah.

Aku berjalan melewati kawasan perumahan untuk memperdekat jarak tempuh kedua kakiku yang mulai pegal karena sepatu higheels yang aku pakai, seharusnya aku mengikuti saran Heosok, convers sangat membantu di saat-saat seperti ini.

Aku menatap langkahku yang pelan diantara aliran hujan yang mebasahi sepatuku, aku perlu memberikan perawatan khusus untuk sepatu ini setelah sampai di rumah nanti. Perhatianku teralih pada suara berisik dari salah satu rumah yang akan aku lewati. Aku melihat seorang wanita paruh baya yang membawa tasnya diikuti oleh seorang namja yang aku yakin lebih muda dariku. Kemudian di belakangnya aku melihat seorang laki-laki paruh baya yang mengacungkan telunjuknya ke arah wanita itu. Mereka terlihat bertengkar hebat, namja yang aku yakini anak mereka berteriak sangat keras menghentikan pertengkaran tersebut membuat kedua laki-laki dan wanita paruh baya itu menatapnya namun memilih mengabaikan. Aku tidak tahu jelas apa yang mereka bicarakan atau lebih tepatnya teriakkan, sampai akhirnya si wanita itu memasuki mobilnya dan melaju kencang meninggalkan dua laki-laki itu. Tak lama kemudian si laki-laki paruh baya memasuki rumah meninggalkan anaknya yang berusaha mengejar mobil wanita itu. Mobil itu bergerak sangat cepat memaksanya untuk berlari, tapi ia tak berhasil menggapai mobil wanita itu dan terjatuh tepat saat mobil itu menghilang di antara kerumunan. Ia terduduk di tanah dengan ratapannya diantara derasnya hujan. Aku selalu merasa sakit saat menyaksikan anak-anak korban rumah tangga yang berantakan, apa orang tua mereka tidak pernah berfikir jika anak-anak itu berada di antara keduanya?

Aku melanjutkan langkahku hingga aku sampai di dekat namja itu, memayunginya dalam diam. Kepalanya yang tertunduk menengadah melihatku, kedua matanya terlihat redup, meskipun hujan turun begitu deras menghapus air matanya, kesedihan tampak jelas di sana.

“Apa kau mau masuk ke dalam rumah itu atau ikut denganku?”

Ia menatap rumahnya sendiri dan tersenyum sinis. Bersusah payah ia bangun dari posisinya, berdiri dihadapanku menyadarkanku jika ia cukup tinggi sehingga aku harus mengangkat payungku lebih agar aku tetap bisa memayunginya.

Kaja…”

Aku tersenyum dan melanjutkan langkahku, ia berjalan di sebelahku, memeluk tubuhnya yang basah kuyup. Kami tak bicara apapun saat menaiki bus, apartemenku tidaklah jauh, namun cukup membuatmu kelelahan jika kau berjalan kaki. Kami hanya naik bus 10 menit kemudian turun di halte yang terletak tepat di depan apartemenku.

Ia berdiri di dekat sofa, menatap sekeliling apartemen kecil milikku selagi aku sibuk mengacak lemari. Tidak sulit menemukan celana olah raga yang cukup besar dan kaos longgar karena dulu aku sering menggunakannya untuk berlatih dance.

“Ini, kamar mandinya ada di sana”

Aku menyerahkan baju dan handuk, ia tak banyak berkomentar dan mengikuti saranku. Selagi ia sibuk di kamar mandi, aku mengganti pakaianku dengan yang lebih nyaman kemudian bergegas menuju dapur. Aku tersenyum menatap segelas coklat hangat yang berhasil aku buat, kemudian mengacak lemari dapur dan menemukan kotak P3K yang jarang aku gunakan.

Namja itu keluar dari kamar mandi dan berjalan dengan canggung menuju sofa tempat aku berada kemudian duduk di sebelahku.

Igo…”

Aku menyerahkan coklat hangat untuknya, ia tak bicara memilih menikmati minuman itu untuk menghangatkan tubuhnya yang dingin. Selagi ia sibuk dengan coklat panasnya aku sibuk meneteskan obat luka ke kapas make up milikku, aku tidak punya kapas lain setidaknya ini cukup membantu. Aku menatap lututnya yang tak tertutup oleh celana olahraga yang aku pinjamkan karena celana yang seharusnya selutut bagiku justru menjadi cukup pendek baginya. Ia meringis kesakitan saat aku mengobati luka-luka di kaki dan tangannya.

“Kenapa kau menolongku?”

“Apa aku harus punya alasan untuk menolong seseorang?”

Aku membereskan semua peralatan pertolongan pertamaku dan kembali duduk di sofa di sebelah namja itu.

“Siapa namamu?”

Aku bertanya sambil menatap wajahnya, ia memiliki wajah yang menawan dengan mata yang bersinar, aku tidak menyadari hal itu tadi karena ia benar-benar kacau saat basah kuyup.

“Jeon Jungkook…”

“Jungkook?”

Ia mengangguk.

“Aku Lee Hyerim. Sepertinya kau lebih muda dariku. Berapa usiamu?”

“20 tahun…”(usia korea)

Bingo! Aku tidak pernah salah menebak usia orang. Aku 23 tahun” (Usia korea)

Aku menatap jendela kaca milikku, hujan masih sangat deras di luar sana dan udara malam berhembus cukup dingin.

“Aku rasa kau tidak berniat pulang ke rumahmu malam ini. Apa kau punya teman? Mungkin kau bisa ke rumah temanmu”

Ia menggeleng, heol! Ia tidak punya teman? Bagaimana bisa kau hidup di dunia ini tanpa teman?

“Yasudah, menginap di sini saja. Sofaku cukup empuk untukmu”

Aku bergerak menuju kamarku mengambil bantal dan selimut cadangan.

“Tidurlah, kau pasti sangat lelah”

 

***

 

Jungkook pov

Aku merebahkan tubuhku di sofanya yang nyaman sementara ia memasuki kamarnya dan menutup pintu. Bagaimana bisa seorang yeoja membiarkan namja menginap di apartemennya? Dan parahnya lagi aku adalah orang asing. Aku menatap langit-langit apartemen yang berwarna putih pucat. Memoriku berputar pada kejadian tadi, kenapa? Kenapa mereka begitu egois? Tidakkan aku ada diantara mereka? Apa aku tidak cukup untuk menjadi alasan agar tetap bersama? Aku tak percaya oemma bisa dengan mudah pergi meninggalkanku. Aku tidak mengerti orang dewasa, mereka sangat rumit tapi pada kenyataannya usiaku sudah memasuki fase di mana kau pantas dianggap sebagai orang dewasa. Uh… aku benci menjadi dewasa.

Mataku mengerjap pelan saat sinaran matahari menyentuk kelopaknya. Alisku berkerut menyadari aku tidak tidur di kamarku dan teringat aku menumpang di rumah seorang yeoja. Aku bangun dari posisi tidurku dan menemukan yeoja itu sedang sibuk di dapurnya. Tenggorokanku sangat kering memaksaku berjalan mendekat.

“Kau sudah bangun?”

“Aku haus…”

Ia tersenyum dan mengambil gelas yang terususun rapi di atas counter dapur, menyerahkan segelas penuh air hangat untukku.

“Ayo sarapan…”

Ia duduk di meja makan siap menyantap roti panggang buatannya sedangkan aku hanya berdiri menatapnya tak percaya. Aku yakin aku baru mengenalnya tadi malam dan ia sudah bersikap seolah aku adalah salah satu karib dekatnya.

“Kenapa kau diam? Kau tidak lapar?”

Aku belum mengisi perutku sejak kemarin, jujur saja aku membutuhkan makanannya.

Setelah makan ia menyerahkan lagi pakaianku yang sudah tercuci dan kering, kapan ia melakukannya? Usai aku berganti pakaian, ia juga sudah selesai dengan pakaiannya.

“Kau bekerja?”

“Tidak, aku masih kuliah. Ya.. aku akan bekerja setelah aku selesai kuliah, semoga saja aku bisa tamat tahun depan”

Kuliah? Yang benar saja, dengan pakaian seperti itu? pakaiannya yang melekat ketat di tubuh dengan lengannya yang sobek di kedua sisi, rok spannya yang sangat pendek, aku yakin jika ia merunduk sedikit saja, apa yang ada di dalam sana aku terekspos dan sepatu yang sangat tinggi, ia lebih terlihat seperti selebritis.

Ommo… aku bisa terlambat. Aku harus naik taxi”

Ia tergesa-gesa berjalan keluar dan memaksaku mengikutinya.

“Aku harus pergi. Bye!!”

Ia melambaikan tangannya padaku dan berlalu. Apa aku sedang di alam mimpi? Ini nyata bukan?

 

**********

 

 

Aku menggerakkan kepalaku merasa lelah dengan aktifitas membaca yang aku lakukan. Mataku beralih menuju jendela perpustakaan, matahari sore yang indah tak cukup membuatku merasa tenang. Aku sudah menghabiskan waktu berjam-jam di sini, menenggelamkan diriku dalam ilmu pengetahuan, tapi aku masih saja merasa kosong. Aku memilih membereskan semua buku dan tasku berjalan dengan gontai meninggalkan lokasi kampus. Aku menatap iri orang-orang yang tertawa dengan lepas, menikmati waktu bersama teman dan keluarga sedangkan aku berjalan seorang diri di sini, merasa sepi diantara keramaian.

Perhatianku teralih pada toko dengan kaca besar yang berisi pajangan berbagai alat kosmetik mengingatkanku pada Hyerim. Sudah tiga hari sejak ia menolongku, aku tidak mengerti jalan fikiran wanita itu. Aku memasuki toko itu tanpa berfikir baru menyadarinya saat si pelayan toko menghampiriku. Hmm… mungkin aku bisa belikan sesuatu sebagai bentuk balas budiku.

Aku keluar dari toko kosmetik dengan sebuah senyum simpul berjalan ke halte bus menuju apartemen yeoja itu. Aku mencoba mengingat-ingatnya di memoriku, memutar kenanganku. Ia sangat manis dan selalu tersenyum, apa semua yeoja seperti itu? aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri hingga tak pernah peduli dengan sekelilingku, apa itu yeoja dan pertemanan aku bahkan tak mengerti maknanya hingga sekarang. Apa semua yeoja sebaik dia? Jika ia kenapa oemma meniggalkanku waktu itu?

Aku menggelengkan kepalaku, membuang jauh rasa sakit yang tiba-tiba menyergap saat kenangan tentang oemma mendatangkan kabut diantara memoriku tentang yeoja itu.

Suara bus yang melambat dan berhenti menjadi tanda jika aku harus segera turun. Langit malam yang gelap mulai menyelimuti dan udara yang dingin datang menyergap tubuhku. Aku berjalan pelan memasuki kawasan apartemennya, berdiri di salah satu sudut lift menuju lantai 23 di mana yeoja itu berada. Sepasang kekasih naik saat aku mencapai lantai tiga. Mereka sibuk bercengkrama dan mengabaikanku. Apa dunia ini terasa begitu indah jika kau memiliki seorang yeoja di sisimu? Entahlah… aku tak pernah memikirkan itu disepanjang garis hidupku. Aku terlalu sibuk dengan masalah keluarga dan pendidikanku.

Ting…

Pintu lift terbuka saat benda itu mencapai lantai 23, aku berjalan keluar dan langsung menuju apartemen milik Haerim. Aku berdiri di depan pintunya, berfikir dengan keras kenapa aku berdiri di sini. Berterima kasih, ya aku akan berterima kasih karena ia sudah menolongku saat itu. tapi apa ini tidak terlalu berlebihan? Mungkin ini adalah hal yang biasa. Namun aku merasa tertolong untuk hal yang sepele, setidaknya aku tidak harus tidur di rumahku malam itu dan menemui appa dengan segala kemarahannya.

Saat aku sibuk memikirkan keputusanku, pintu itu terbuka dan seseorang keluar dari sana.

“Jungkookah…”

Jujur saja aku juga terkejut saat ia tiba-tiba keluar. Aku menatapnya tak percaya, aku fikir dandannya saat itu adalah yang paling ekstrim, tapi sekarang ini jauh lebih fantastis. Dress tanpa lengan yang panjangnya hanya cukup untuk menutupi pantat saja, makepun yang super tebal dan rambut pirang yang diextention menjadi ikal dan bergelombang. Di lengannya tersampir sebuah mantel hangat dan tas penuh kilau.

YA!”

Ia menjentikkan jemarinya di hadapan wajahku menarikku kembali pada kenyataan. Aku baru saja akan terjerumus ke hayalan terkotorku.

“Apa kau meninggalkan sesuatu di apartemenku?”

“Tidak. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasihku…”

Ia menatapku heran, melipat kedua tangannya di dada, memandangiku dari atas sampai ke bawah membuat aku merasa gugup secara instan.

“Oke. Kalau begitu ikut denganku”

“Ne?”

Ia tak menjawab hanya menarikku mengikutinya menaiki lift menuju parkiran yang berada di basemen. Langkahku mengikuti langkahnya yang elegan menuju sebuah mobil yang terparkir di salah satu bagian.

“Aku bersyukur Yoongi Oppa mau meminjamkan mobilnya. Akan sangat memalukan pergi ke pesta  dengan menaiki taxi. Cepat naik!”

Aku tak menjawab hanya mengikuti instruksinya duduk di banguk penumpang di sebelah kemudi di mana ia berada. Ia mengeluarkan ponselnya terlihat sibuk menghubungi seseorang.

Oppa, aku sedikit terlambat. Partnerku butuh sedikit make over”

Partner? Perasaanku mengatakan bahwa kata itu mengacu padaku. Ia menutup ponselnya dan mulai menjalankan mobil milik namja bernama Yoongi yang tadi ia sebut.

“Aku membelikan ini untukmu”

Aku memperlihatkan kantong makeup yang aku belikan tadi untuknya. Ia menatap benda itu ekspresinya berubah sumringah.

Daebak! Edisi terbaru? Aku hampir saja membelinya, gumawo

Ia tersenyum dengan bibirnya yang melengkung indah di sana. Ia terlihat jauh lebih cantik dibandingkan saat itu, apa mungkin karena aku sudah berada pada tahap di mana kesadaran sudah aku miliki seutuhnya?

Kami berhenti di salah satu kawasan pertokoan. Ia menarikku memasuki sebuah toko pakaian pria lengkap dengan salonnya.

“Haerima….”

Seorang yeoja yang terlihat lebih tua melambaikan tangannya, ia memakai pakaian yang tak kalah sedikitnya dengan Haerim. Apa semua yeoja berpakaian seperti ini?

Oennie. Aku perlu sedikit bantuan. Aku harus ke pesta dan membawa namja ini, dia butuh sedikit make over

Kemudia wanita itu menatapku dengan matanya yang menyipit dan berjalan mendekat padaku, menyentuh bahu dan lenganku membuat tubuhku merefleks dengan merinding.

“Lumayan juga. Dimana kau menemukannya?”

“Di depan pintu apartemenku. Cepatlah! Aku sudah terlambat, Yoongi Oppa bisa membunuhku jika aku tidak mengembalikan mobilnya”

Yeoja itu kemudian menarikku menuju deretan hanger dengan pakaian namja yang tersusun rapi, ia tampak sibuk mencocokkan pakaiannya dengan tubuhku sementara Haerim sibuk mengobrol dengan salah satu yeoja yang aku yakin adalah pelayan di sini. Tidak salah lagi, dia memang selalu tersenyum saat bicara dengan siapapun, atau lebih tepatnya terlihat ceria. Kedewasaannya masih tampak muncul di sela-sela tawa manisnya. Bagaimana bisa seorang yeoja bisa begitu kompleks? Ceria, ramah, imut, dewasa dan seksi.

“Sekarang ganti bajumu”

Wanita yang yang sibuk denganku memaksaku memakai pakaian yang sudah ia pilihkan kemudian sibuk dengan rambut dan wajahku.

Aku menatap pantulan diriku di cermin yang ada dihadapanku, berbalut jas trendi berwarna merah, aku senang karena wanita itu memilihkan warna favoritku. Jas itu menutupi sebagian kaos hitam yang melekat di tubuhku memberi kesan lebih santai dan celana hitam diikuti sepatu yang mengkilap membuatku terlihat sangat berbeda.

“Tidak buruk”

Haerim muncul di belakangku sibuk mengamati perubahanku. Ia mendekat, salah satu tangannya bergerak menuju bahuku, memperbaiki jasku. Aku bisa melihat wajahnya dari dekat, wow… dia sempurna.

 

************

Suara gaduh mengiringi langkahku bersama Haerim memasuki kawasan sebuah rumah. Orang-orang yang sibuk hilir mudik dengan minuman dan makanan di tangan mereka terlihat asik dengan dentuman musik yang keras. Aku melihat beberapa yeoja di kolam berenang yang hanya berbalut bikini membuat kedua pipiku berubah panas. Kemudian di salah satu sudut ruangan aku melihat sepasang namja yang yeoja yang sibuk bercumbu.

Tempat macam apa ini?!!!

“Haerimaaa…”

Suara panggilan itu membuat aku dan Haerim berbalik. Ia melepaskan lenganku dan berdiri di sana dengan percaya diri.

“Kenapa kau tidak menjawab telfon Oppamu ini? Aku dengar mobilmu di tahan sampai beberapa hari ke depan. Aku bisa menjemputmu, kau bisa memilih mobil apa yang ingin kau naiki”

Haerim tersenyum mengejek tapi masih berusaha terlihat ramah.

“Maafkan aku Oppa, tapi aku  lebih suka menyetir dari pada menumpang”

Kemudian namja itu mendekat, sangat dekat dengannya dan melingkarkan salah satu lengannya di tubuh Haerim. Aku tak bisa melepaskan mataku dari tangan laki-laki itu, ia bergerak sangat pelan dipunggunggnya dan terus turun ke bawah menuju bagian bokongnya.

“Kalau begitu, apa kau mau mampir ke tempatku?”

Kemudian tangan Haerim menarik pelan tangan namja itu yang sudah mencapai pantatnya, membawa dirinya melangkah sedikit menjauh dari namja itu, melepaskan kontak tubuh mereka. Kemudian ia melingkarkan tangannya di lenganku.

“Maafkan aku Oppa, tapi aku sudah berjanji dengan Jungkook setelah ini”

Namja itu menatapku dan tersenyum mengejek.

“Bocah ini?”

Berani sekali ia mengataiku bocah? Aku sudah dua pupuh tahun. Jika aku bocah aku tidak akan diizinkan memasuki tempat semacam ini.

Haerim tertawa geli membuat namja itu dan aku menatapnya heran.

“Bocah? Yah… bocah ini memiliki tubuh dan wajah yang lebih memuaskan daripada dirimu”

Aku menelan ludahku bersusah payah mendengar penuturannya.

Oppa… sebaiknya kau cari wanita yang lain saja, karna aku lebih menyukai bocah ini daripada dirimu”

Haerim berbalik membelakangi namja itu memaksaku mengikutinya karena tangannya masih di lenganku. Kami berjalan menjauh dari namja itu dan beberapa kerumunan yang melingkarinya.

Asshole!”

Aku masih bisa mendengarkan suara bisikan Haerim saat kami mencapi sebuah pintu. Ia membuka pintu itu dan aku yakin kami memasuki sebuah ruangan menuju balkon. Di sana duduk beberapa namja yang menghentikan obrolannya saat kami datang.

“Haerima…”

Ia melambaikan tangannya pada Haerim kemudian yeoja itu berjalan mendekat dan memeluknya.

“Mobilmu masih dalam keadaan utuh”

Kemudian namja itu tertawa geli menanggapi ucapannya. Jadi inikah namja bernama Yoongi yang tadi ia sebut? Tubuhnya tidak setinggi diriku, rambutnya berwarna blonde dan sangat cocok dengan kulitnya yang begitu pucat. Ia memiliki beberapa tindik ditelinganya. Kemudian namja itu menatapku heran.

“Kau tidak datang sendiri?”

“Kenapa semua orang sangat sibuk dengan pasanganku? Apa salah jika aku tiba-tiba ke pesta membawa partner?”

Ia terkekeh pelan dan duduk di salah satu sofa.

“Tentu saja, semua namja yang datang ke pesta ini hanya ingin mendapatkanmu. Seorang yeoja yang sangat hot datang seorang diri, di mana lagi bisa kau temukan? Dan tiba-tiba kau datang dengan seorang namja

Aku mulai membuat hipotesisku mengenai reputasi yeoja ini dan membuatku sedikit berdelik. Namja yang berbicara barusan duduk di sebelahku, memperhatikanku lebih lekat. Ia terlihat lebih manusiawi dibandingkan namja bernama Yoongi, rambutnya hitam legam tidak dengan tindikan ditelingannya dan yang paling penting celananya tak sobek seperti milik Yoongi.

“Aku menemukannya di jalan”

Kemudian tawa mereka pecah dan aku tersipu malu karena kenyataanya memang begitu ia menemukanku di jalan saat itu.

YA! Apanya yang lucu?”

“Kau mencampakkan semua namja di luar sana yang bertekuk lutut dihadapanmu dengan kekayaan dan popularitas mereka hanya untuk namja yang kau temukan di jalan? Daebak!”

Aku menatap Haerim tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar, ia juga menatapku dan sebuah senyum menghiasi wajah menawannya.

“Setidaknya aku yakin dia bukan namja brengsek seperti mereka yang menginginkanku hanya karena tubuhku. Lagipula aku lelah menghadapi mereka, setidaknya bocah ini cukup membantuku untuk menghindar dari kerumuman itu”

Kemudian kami mendengarkan suara pintu yang terbuka dan seorang yeoja dengan bikini muncul di sana.

“YA! Aku dengar Haerim membawa pasangan! Di mana namja yang sudah berhasil meluluhkan si keras kepala?”

YA! Pakailah sesuatu!”

“Aku ingin memamerkan tubuhku yang seksi ini, apa salah?”

Haerim menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian mengambil posisi berdiri.

“Aku ambilkan minuman dulu”

Ia melepaskan rangkulannya di lenganku membuat aku menyadari ia tidak melepaskanku sama sekali sejak kami sampai di tempat ini. Ia berjalan menjauh bersama namja beramput blonde itu dan menghilang di balik pintu.

“Jadi kau yang bernama Jungkook?”

Aku terkejut bukan main saat wanita berbikini itu sudah berada di sebelahku duduk dalam jarak yang sangat dekat. Aku tak berani menatapnya, hanya menunduk dan menganggukkan kepalaku.

“Aku penasaran apa yang membuat Haerim tertarik padamu. Aku dengar kau memiliki tubuh yang bagus”

Ia menatap tubuhku dengan mata “lapar?” membuat aku bergerak menjauh. tapi Punggunggku tertahan oleh sofa yang berada di belakangku.

“Kau sangat tegang”

Kemudian ia mengambil segelas minuman dan menyerahkannya padaku, tanpa fikir panjang aku menegak minuman itu berharap tenggorokanku lebih lancar agar aku bisa bernafas lebih baik. Ia meletakkan gelasku yang kosong di atas meja kemudian duduk semakin dekat. Ia menyentuh tepi jasku, jemarinya bergerak pelan dari bahu menuju dadaku,

Tuhan tolonglah aku… hindarkan aku dari segala kejahatan… wanita ini seperti iblis yang mengerikan…

Aku menutup mataku merasa takut dengan apa yang akan terjadi.

YA!!”

Suara Haerim menarikku kembali kepada kenyataan, aku bernafas lega karena wanita itu langsung menjauh dariku. Haerim melemparkan sebuah jas mandi ke wanita itu.

“Pakaila! kau membuatnya tak nyaman jika berbikini seperti ini”

Dengan kesal wanita itu memasang pakaian itu membuat aku merasa semakin lega, untuk alasan yang banyak aku benar-benar berterima kasih pada Haerim. Ia duduk di sebelahku menatap gelas kosong yang ada di atas meja, wajahnya mendekat kemudian dahinya berkerut.

“Kau memberikannya minuman?”

Wanita itu mengangguk.

“Bukankah dia sudah dewasa? Atau apa perlu aku membantunya menjadi dewasa?”

“Ya! Kim Hana! Kau tahu kenapa Haerim lebih populer daripadamu? Karena ia tidak menyerahkan dirinya begitu saja seperti yang kau lakukan. Bersikaplah lebih mahal sedikit”

YA! Aku ini lebih tua darimu!”

Kemudian yeoja itu sibuk mengacak rambut namja yang aku tidak ingat kapan ia berada di sini. Kepalaku mulai terasa berat dan mataku mulai berkunang, aku tidak bisa terlalu fokus pada apa yang sedang mereka bicarakan.

“Segelas saja sudah membuatmu mabuk”

Aku mendengarkan tawa yang pecah, aku tidak peduli karena kepalaku benar-benar pusing.

“Aku rasa aku harus membawanya pulang. Bisa kacau jika ia terus di sini. Heosok! Pinjamkan aku mobilmu”

Kemudian namja itu menyerahkan kuncinya pada Haerim.

“Pastikan kau tidak menggores mobil kesayanganku”

 

*****

 

Aku mengurut tengkukku yang sedikit sakit, tubuhku berada dalam keadaan yang tidak seimbang membuat kepalaku sakit dan perutku menjadi mual, minuman apa yang wanita tadi itu berikan untukku?

“Ini”

Haerim menyerahkan sebuah pil dan sebotol air minera padaku. Alisku berkerut mempertanyakan benda itu.

“Itu akan mengatasi  Hangover-mu”

Aku mengangguk memilih meminum pil itu, dan kemudian menjadi benar-benar mengantuk.

 

Haerim pov

Aku memarkirkan mobil Heosok di parkiran basemen apartemenku, saat aku melepaskan sabuk pengamanku aku baru menyadari jika Jungkook tertidur sangat pulas di bangku penumpang di sebelahku. Aku sibuk memperhatikan wajahnya yang sangat sempurna, bagaimana bisa orang setampan ini tidak memiliki siapapun? Aku kasihan mengingat fakta tentang dirinya yang tidak memiliki teman atau kekasih dan keluarganya hancur berantakan. Aku masih jauh lebih beruntung dibandingkan anak ini. Aku meneliti wajahnya satu persatu, rambut hitam legamnya terlihat sangat halus membuat jariku sangat gatal ingin menyentuhnya menjalankan jemariku di sela-sela rambutnya. Hidungnya sangat sempurna, lebih bagus daripada milik Taehyung, dia sangat beruntung dengan hidung itu yang membuat penampilannya lebih menawan. Tanpa aku sadari tanganku sudah berada di rambutnya, aku tidak tahu bagaimana tanganku bisa bergerak tanpa aku kendalikan. Mataku beralih menuju bibir penuhnya yang merona, apa bibir itu sudah pernah di sentuh oleh yeoja? Oh my god! Bibir itu terlihat sangat manis. Aku bersumpah aku benar-benar penasaran dengan! rasanya.

“Kita sudah sampai?”

Bibir itu bergerak mengeluarkan sebuah kalimat yang menarikku dari semua pikiran jorokku tentang namja ini.

“Ya… kita sudah sampai”

Aku mengambil tas dan jas hangatku, keluar dari mobil dan bergegas menuju ruangan apartemenku.

“Bagaimana? Apa kau masih pusing?”

“Sudah jauh lebih baik, ditambah tadi aku juga tertidur, aku sudah tidak sakit kepala lagi tapi perutku masih sedikit mual”

Bingo! Akhirnya ia berhasil mengucapkan sesuatu yang lebih panjang. Aku rasa ia mulai merasa nyaman denganku, ah sudahlah… ia bukan namjanamja lain yang akan dengan mudah bicara panjang lebar dengan rayuan penuh kebohongan.

Aku dan namja itu berdiri di dalam lift, terjebak dalam fikiran masing-masing. Aku memperhatikannya lebih seksama dalam jarak yang aman. Ia terlihat sangat amazing dengan stelan itu, kau tidak akan percaya jika bocah ini masih berusia 20 tahun. Yah dia masih bocah, aku pastikan itu sangat terlihat jelas, aku bahkan yakin ia belum mendapatkan ciuman pertamanya.

Ia lebih tinggi dariku, lebih tinggi dari Taehyung dan itu sangat menguntungkan, aku benci namja yang memiliki tinggi pas-pasan karen aku memiliki tinggi yang lumayan menjulang, ditambah dengan higheels, mereka akan tenggelam. Jungkook… aku bahkan hanya setinggi kupingnya meskipun aku memakai sepatu setinggi langit. Wow… dia punya tubuh yang bagus, aku ingin sekali mencoba merasakannya.

Shit!!!!!!!!! Aku benar-benar sudah kehilangan akal sehatku. Aku sangat yakin aku hanya minum sedikit tadi, tapi kenapa aku jadi seperti ini?

Aku menatap arlojiku, Damn! Aku pasti dalam masa Sexual depressionku, ini tidak akan bagus untukku dan juga namja ini.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Noona (chapter 1)

  1. Akutu selalu greget baca ffnya minchaa dapet feelnyaa sukaaa😂 salam kenal minchaa^^ aku salah satu followers wattpad kamu hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s